gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Pemuda Di Tengah Krisis Kebudayaan

hands-1655520_1920

 

Oleh: Trianda Surbakti*

 

Entah sudah berapa kali Bung Karno mengutarakan bahwa kita mesti berkepribadian dalam budaya. Hampir berulang-ulang kita mendengarnya dalam pidato-pidatonya yang legendaris dan selalu berjumpa dengan tepuk tangan para pendengarnya. Dalam berbagai tulisan di berbagai surat kabar dan buku-bukunya kita juga bisa membacanya dengan terang.

Berkepribadian dalam budaya mengandung makna bahwa kita harus memiliki jati diri, pola pikir dan sikap yang mencerminkan budaya nasional. Sementara itu dalam TAP MPR NO. II tahun 1998, budaya nasional dinyatakan harus berlandaskan Pancasila dalam arti sebagai perwujudan cipta, karya dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa.

Dari sini dapat kita tarik bahwa tatkala kita berkepribadian dalam budaya secara tidak langsung kita sedang berkontribusi untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa ini di mata dunia. Lantas, bagaimana cara kita agar harkat dan martabat bangsa Indonesia tidak dilecehkan oleh bangsa lain.

Tentu saja hal ini tidak lepas dari kemampuan kita menjaga kemandirian bangsa dan kedaulatan kita sebagai negara yang merdeka. Penulis ingin mengingatkan kita tentang apa yang kerap dikumandangkan Bung Karno untuk mengingatkan bangsa ini agar menjaga martabatnya.

Barangkali kita pernah mendengar istilah “Trisakti Bung Karno”. Trisakti Bung Karno sendiri terdiri diri dari cita-cita suatu bangsa yang berdikari dalam ekonomi, berdaulat dalam politik dan berkepribadian dalam budaya.

Trisakti Bung Karno inilah yang dalam pemahaman Bung Karno dijadikan tiang atau pilar dalam membangun negara. Menarik disimak tatkala Bung Karno meletakkan budaya sebagai salah satu pilar atau tiang dalam pembangunan.

Betapa pentingnya budaya dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan. Budaya juga menggugah nurani masyarakat untuk melawan sistem global yang menindas yakni neokolonialisme dan imperialisme.

Lahirnya kesadaran sosial dalam membendung Neokolim dan mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah inti pokok yang ingin disampaikan dalam tulisan ini.

Budaya tak lepas soal kesadaran masyarakat yang akan mempengaruhi watak, pola pikir, dan sikap masyarakat. Salah satu budaya dan kesadaran masyarakat yang terbentuk dari kondisi ekonomi liberal hari ini adalah konsumerisme.

Konsumerisme dapat dikatakan sebagai paham yang meletakkan konsumen sebagai objek pasar. Tanpa disadari objek pasar ini dikendalikan oleh kemauan pemilik modal. Dengan sengaja dilakukan penggiringan opini dan memanipulasi kesadaran konsumen agar produknya digandrungi dan laku keras di pasaran.

Konsumerisme merupakan titik tolak hilangnya budaya nasional dan digantikan dengan budaya asing. Menggantikan budaya nasional dengan budaya asing tak lepas dari agenda penyeragaman. Ketika sudah seragam, maka apapun yang diproduksi di negaranya secara tidak langsung juga memiliki pasar di negeri kita.

Mari tujukan pandangan kita pada papan reklame, iklan televisi, model berpakaian maupun gaya hidup. Siapakah yang membentuk rujukan mode, jenis makanan dan pola serta gaya hidup dalam iklan tersebut? Apakah bangsa kita sendiri? Atau semuanya itu justru merujuk kepada budaya asing?

Seharusnya kita mampu membahas budaya nasional yang lebih luas tidak terjebak pada peninggalan-peninggalan sejarah seperti artefak, koleksi di museum serta kesenian-kesenian. Itu semua adalah budaya nasional, namun hanya segelintir dari keluasan dimensi yang ada di dalamnya. Kita tidak boleh melupakan budaya yang berkaitan dengan cara berpikir, berperilaku bahkan soal sikap negara menghadapi tantangan-tantangan dunia hari-hari ini.

Bila kita terus terjebak dalam praktek meniru budaya asing maka kita akan kehilangan jati diri kita sendiri. Bila sekarang kita ditanya apa sesungguhnya nature dan culturenya Indonesia? Barangkali banyak dari antara kita yang kesulitan dalam memberikan jawaban.

Tanpa disadari, konsekuensi logis dari budaya meniru ini sama halnya menukarkan keutuhan NKRI dan semangat kebangsaan akan lahirnya Republik Indonesia. Budaya meniru seolah menjadi penyakit kronis di bangsa kita. Lalu, apa yang bisa kita lakukan hari ini?

Pemuda sebagai pelopor kebangkitan bangsa seharusnya hadir dalam memulihkan degradasi cara berpikir dan watak bangsa yang kian konsumeris. Pemuda harus mulai saling menghargai dan memiliki, menjunjung tinggi persatuan-kesatuan dan mencintai produk asli kita sendiri.

Pemuda dibutuhkan untuk hadir dalam krisis kesadaran masyarakat. Mengatasi kekosongan kreatifitas, inovasi dan pembangunan ekonomi berdikari. Saatnya kita mengembangkan diri melalui diskusi, saling bergotong royong, membuat inovasi dan menggerakkan masyarakat di sekitar agar semakin maju dalam berpikir dan bekerja.

Dengan begini maka kebangkitan bangsa ini akan semakin terasa. Kebangkitan akan meningkatnya kesejahteraan masyarakat, kepedulian terhadap problema bangsa dan semakin kokohnya persatuan dan kesatuan.

Keniscayaan akan kemajuan bagi pembangunan ekonomi yang berdikari, dan kedaulatan politik yang paripurna adalah satu-kesatuan dalam membentuk kembali kebudayaan nasional yang berkepribadian. Akankah, angin perubahan bagi bangsa ini ke depan dipelopori oleh generasi berbudaya nasional, atau justru melahirkan generasi yang pandai meniru? Mari kita jawab bersama.

Tulisan ini di diterbitkan : https://jejaringbali.com/2016/10/11/pemuda-di-tengah-krisis-kebudayaan/#more-449

Pada Tanggal : 11 Oktober 2016

*) Penulis aktif di Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)

sebagai Wakil Bidang Politik dan Agitasi-Propaganda Korda Jawa Barat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 29, 2016 by in Uncategorized.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters