gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Gelombang Penuaan Generasi

glass-984457_1920

 

Oleh : Andria Perangin-angin*

 

“Kini mereka telah mengkhianati perjuangannya sendiri. Kita generasi muda ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang mengacau”. –Soe Hok Gie

Cuplikan kalimat dari Soe Hok Gie ini menunjukkan kegelisahan kaum muda melihat kondisi bangsa Indonesia pada masa itu. Hal ini terjadi ketika kaum tua yang menduduki jabatan pemerintahan melakukan kesalahan dengan mengacuhkan kepentingan rakyat, akhirnya Gie merasa perlu kaum muda mengambil bagian yang lebih besar untuk merubah keadaan.

Kondisi sekarang menjadi lebih parah lagi karena kaum muda dan kaum tua sama-sama mengkhianati cita-cita proklamasi. Bukan hanya itu, kaum muda yang memiliki potensi tidak punya keberanian seperti Gie untuk tampil ke publik untuk merubah keadaan. Kebanyakan kaum muda menyerah kepada keadaan dan mengikuti perintah dari kaum tua yang dianggap sebagai tokoh atau panutan.

Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini kita sedang mengalami penuaan generasi. Hal ini dapat kita lihat dari tokoh-tokoh pemimpin nasional yang sudah memasuki usia uzur. Jika dahulu dikatakankaum muda, kisaran umurnya tentulah di bawah 30 tahun, sedangkan kaum tua nya berusia di atasnya.

Pada saat membacakan teks proklamasi, Soekarno sudah digolongkan pada kelompok kaum tua. Kala itu umurnya sudah 44 tahun. Semangat kaum muda juga tidak kalah hebatnya dari kaum tua, terutama desakan untuk membacakan teks proklamasi pada 17 Agustus 1945. Mereka berani tampil ke publik untuk mendesak kaum tua agar kemerdekaan Republik Indonesia segera diproklamirkan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya penuaan generasi di Indonesia. Pertama adalah penumpulan kesadaran politik dikalangan kaum muda sejak Orde Baru. Ketika Orde Baru berkuasa, mereka sadar akan potensi kaum muda bisa menggoyahkan kekuasaan.

Keyakinan ini semakin kuat ketika terjadi peristiwa Malari. Pemerintah mengkebiri semua gerakan pemuda terutama di kelompok mahasiswa. Akhirnya pemuda hanya bisa membahas tentang ekonomi dan dunia kampus, selebihnya menjadi tabu.

Kedua, tercerabutnya pemuda dari akar politik yang berbasis kerakyatan. Kebanyakan pemuda termasuk mahasiswa terlena dengan isu-isu demokrasi, HAM dan korupsi yang semuanya hanya sebatas teori dan wacana.

Sementara isu tentang petani, nelayan dan buruh tidak pernah diangkat kepermukaan untuk mencapai penyelesaian yang tuntas. Saya tidak mengatakan bahwa membahas demokrasi, HAM dan korupsi itu salah, hanya saja pembahasan tiga isu tersebut sebaiknya sesuai dengan akar bangsa ini.

Tiga isu tersebut hanya menjadi konsumsi elit maupun intelektual. Sementara sebagian besar rakyat tidak peduli karena masih berkutat pada upaya bertahan hidup. Seharusnya wacana demokrasi yang didorong pemuda adalah kebebasan berpolitik guna mendapatkan kebebasan ekonomi.

Isu HAM yang didorong adalah kelompok yang lemah mempunyai kekuatan untuk mendapatkan keadilan dan kemakmuran sebagai manusia. Korupsi adalah bagian dari pemiskinan rayat Indonesia karena segelintir orang mencuri hak sebagian besar rakyat Indonesia.

Ketiga, hilangnya keberanian untuk menjadi motor perubahan. Hilangnya keberanian ini disebabkan oleh kaum muda tidak punya ide atau inspirasi tentang Indonesia yang lebih baik. Pengetahuan sejarah bangsa kian menurun. Kemampuan menganalisa kondisi sosial politik saat ini terbilang rendah dan tidak konsisten.

Kebanyakan mahasiswa yang dulunya menjadi seorang aktivis, berubah menjadi pekerja murni pasca lulus kuliah. Padahal bila kita telusuri antara kerja mencari nafkah dengan politik bisa berjalan paralel.

Politik merupakan satu sikap pandangan maupun prinsip yang dijalankan dengan sukarela. Sedangkan mencari nafkah hanya sebuah profesi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bila kita tarik kebelakang, pada masa perjuangan kemerdekaan, banyak tenaga profesi yang menjadi tokoh gerakan, baik yang menjadi guru maupun buruh atau kepala pabrik. Mereka tetap bisa menjalankan profesi dan gerakan perjuangan kemerdekaan secara parelel, bahkan tekanan dan ancaman kerap mereka dapatkan dari pemerintahan kolonial.

Melihat kondisi saat ini memang sangat sulit berharap kepada gerakan kaum muda, khususnya yang terkontaminasi denga dunia kampus. Ada baiknya melakukan gerakan sporadis, yaitu yang sadar menyadarkan yang belum sadar.

Selanjutnya, kaum muda yang sudah sadar harus menjadi motor perubahan dan bersiap untuk menggantikan kaum tua yang sudah mengacau di negeri ini.

Gerakan kaum muda memiliki khas bentur sana-sini seharusnya tidak dianggap masalah. Seperti kata Tan Malaka, terbentur, terbentur akhirnya terbentuk. Demikian perubahan ada di tangan kaum muda yang suka bentur sana-sini.

Soekarno juga mengatakan bahwa sepuluh orang tua hanya mampu memindahkan Gunung Semeru, tetapi sepuluh pemuda mampu mengguncang dunia. Demikianlah peran pemuda yang teramat penting dalam perjalanan bangsa ini.

Tulisan ini diterbitkan di : https://jejaringbali.com/2016/11/01/gelombang-penuaan-generasi/#more-565

Pada Tanggal : 01 Nopember 2016

*Penulis adalah pengurus DPP Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI), Anggota Kompartemen Agraria

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 24, 2016 by in Uncategorized.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters