gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Semangat Sumpah Pemuda dan Darurat Kelautan dan Perikanan Nasional

https://i0.wp.com/maritimnews.com/wp-content/uploads/2016/10/Sumpah-Pemuda.jpg

 

Oleh: Ahmad Tabroni*

Lewat momentum sumpah pemuda yang biasa diperingati pada tanggal 28 Oktober ini memiliki nilai history yang harus di rawat dan dijaga kemurniannya sehingga peran pemuda bisa memberikan dampak yang positif untuk kemajuan bangsa dan negara. Pemuda merupakan aset bangsa yang akan melanjutkan tongkat estafet pembangunan bangsa di masa yang akan datang. Pemuda yang dinamis dan semangat yang tinggi dalam berbagai aspek dimasyarakat. Mengutip kata-kata founding father, “Berikan aku sepuluh pemuda maka akan menggoncangan dunia”, begitu kata bung karno. Secara artfisial, pemuda memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan sebuah bangsa. Semangat yang tinggi dan pemikiran yang penuh ide-ide memberikan peran kepada pemuda dalam setiap sektor kehidupan termasuk dalam sektor kelautan dan perikanan.

Momentum ini pula penulis tergelitik untuk ikut memberikan solusi dan tawaran atas persoalan yang terjadi. Penulis menyorot mengenai konflik dan pertarungan opini antara pemerintah, khusunya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Pengusaha (Asosiasi). Konflik tak berujung antara Pengusaha Perikanan yang tergabung dalam (Asosisi Pengusaha perikanan tangkap dan Budidaya) dengan Pemerintah (Kementerian Kelautan dan Perikanan) harus segera di akhiri. Terdengar kabar bahwa beberapa pengusaha perikanan tangkap di beberapa Titik wilayah Indonesia melakukan mogok melaut karena pasca ditetapkannya kebijakan baru Kementerian Kelautan dan perikanan tentang pelarangan penggunaan alat tangkap ikan Cantrang dan terkait kebijakan baru tentang Budidaya perikanan.

Dari persoalan tersebut penulis mencoba memberikan sedikit pandangan terkait akar masalahnya, pertama, pemerintah dalam hal ini (KKP) memiliki kewenangan penuh untuk mengubah dan memperbaiki sebuah aturan atau tata kelola di sektor perikanan dan kelutan, dengan mengeluarkan produk kebijakan pelarangan menangkap ikan dengan menggunakan alat tangkap cantrang, dan beberapa aturan baru mengenai budidaya perikanan. Kedua, pengusaha perikanan tangkap dan budidaya yang tergabung dalam beberapa kelembagaan (Asosiasi), mengalami dampak dari produk kebijakan baru pemerintah (KKP). Yang kemudian dari hal tersebut beberapa pengusaha yang melakukan mogok melaut dan menyandarkan kapalnya di pelabuhan.

 

Sinergitas Antara Pengusaha dan Pemerintah (KKP)

Untuk itu penulis mengajak baik pemerintah dan pengusaha saling menyudahi konflik berkepanjangan ini yang akan berdampak dan berimplikasi bukan saja pada negara dan pengusaha tapi rakyat yang sesungguhnya akan mendapatkan kerugian dan korban dari semua ini.

Pertama , pemerintah dalam hal ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membuat terobosan berupa kebijakan baru. Akan tetapi, harus juga dipikirkan bagaimana pasca penerapan kebijakan tersebut dan penanganan konflik, sehingga pemerintah terkesan serius dan siap dengan kesemuannya. Misalkan dari kesemuanya itu pemerintah mengganti alat tangkap dari alat tangkap ikan (cantrang) yang di larang diberikan gantinya. Dan perlu ada titik tolak dari kesemuanya.

Kedua, pengusaha yang memiliki kapal harus sadar bahwa yang dialami oleh pengusaha juga  berdampak pula kepada pendapatan anak buah kapal (ABK). Sehingga kesemuannya ini perlu ada solusi dari pengusaha juga untuk memperhatikan (ABK) dalam hal tingkat kesejahteraan dan pendapatannya.

 

Peran Pemuda dan Mahasiswa

Diperlukan sejumlah upaya yang harus disikapi pada momentum Sumpah Pemuda kali ini. Pertama, partisipasi pemuda dan mahasiswa untuk menjadi pendamping nelayan dan kelembagaan nelayan (koperasi perikanan). Upaya ini untuk dapat bersama-sama bergandengan tangan dalam membangun sektor perikanan dan kelautan yang lebih baik. Kedua, kita semua hari ini menutup mata bahwa sektor yang belum mendapatkan perhatian yaitu tentang nelayan, jangan kemudian dengan tempat tinggal nelayan dipinggiran (kondisi geografis). Ketiga, peran Negara dan pengelolaan sumberdaya manusia serta alamnya.

Maka dengan kesemuanya penulis mencoba memberikan solusi untuk pemerintah mengajak sarjana-sarjana perikanan dan kelautan untuk menjadi pendamping nelayan. Mahasiswa sebagai seorang cendekiawan organik diharapkan mampu menjadi penyambung dan penjembatan kegelisahan nelayan pada hari ini. Dengan kekayaan laut yang melimpah dan kondisi geoekonomi Indonesia yang besar, maka tak ayal laut menjadi penopang ekonomi negara. Tapi, nyatanya laut dan nelayan adalah muara kemiskinan bagi masyarakatnya, dan laut menjadi pemisah antara masyarakat, pulau dan pembangunan. Dengan poros maritim dunia, laut menjadi topik sentral dalam diskursus mengenai perikanan-kelautan hari ini. Hidup nelayan yang dilarang memakai alat tangkap cantrang sesungguhnya adalah model kebijakan parsial yang tidak mempunyai direction mengenai Poros Maritim Dunia. Kebijakan yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak, yang merupakan amanat konstitusi UUD 1945, seharusnya mampu memberikan solusi bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, bukan malah membinasakannya.

Dan yang menjadi tantanganya dan persoalanya adalah mampukah kita sebagai generasi muda mewujudkan janji kemerdekaan yakni janji akan kesejahteraan rakyat. “Pergilah ke tengah masyarakat. Hiduplah bersama mereka. Belajarlah dari mereka. Buatlah rencana bersama mereka. Bekerjalah dengan mereka. Mengajar seraya menunjukkan. Belajar seraya mengerjakan. Bukan keterpisahan melainkan keterpaduan. Bukan menyesuaikan melainkan mengubah. Bukan meringankan melainkan membebaskan. Sehingga akhirnya mereka berkata, semua akan kami kerjakan sendiri”. Demikian untaian kalimat dari pelopor rekonstruksi desa di Cina, Dr. YC James. (Trd/MN)

 

Tulisan ini diterbitkan di : http://maritimnews.com/semangat-sumpah-pemuda-dan-darurat-kelautan-dan-perikanan-nasional/

Pada tanggal : 28 Oktober 2016

 

*) Penulis adalah Alumnus Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Padjadjaran

Ketua Komite Kaderisasi dan Ideologi Presidium GMNI

Kader GMNI Kabupaten Sumedang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 22, 2016 by in rubrik media.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters