gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Nasib Petani di Negeri Agraris

JAKARTA, Inspirasibangsa (18/4) — Petani di Indonesia semakin hari jumlahnya semakin berkurang. Data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa dalam 10 tahun terakhir, jumlah petani di Indonesia menurun rata-rata 1,75% per tahunnya. Kesejahteraan petani kurang diperhatikan mulai dari pendapatan rendah, tidak adanya jaminan kesehatan, tidak adanya jaminan pendidikan untuk anak petani, rendahnya insentif yang diberikan oleh pemerintah, sampai kepada minimnya lahan pertanian yang akan diolah. Jika kondisi ini terus-menerus diabaikan, maka dapat dipastikan, dalam 20 tahun mendatang kita tidak akan memiliki petani lagi.

Pola yang dilakukan oleh pemerintah untuk membenahi masalah pertanian di Indonesia terkesan kurang terstruktur, karena tidak memperhatikan aspek kesejahteraan petani. Mereka dipaksa untuk meningkatkan produktivitas pertanian namun tidak didukung sepenuhnya oleh pemerintah, pasalnya infrastruktur pertanian tidak diberikan kepada petani serta kurangnya sosialisasi tentang teknologi pertanian yang modern untuk menunjang produktivitas mereka.

Semakin hari, jumlah lahan yang dikerjakan oleh petani juga semakin berkurang akibat para pemilik modal yang terus-menerus menambah jumlah lahannya sehingga menimbulkan keputusaan kepada para petani dalam menunaikan tugas dan tanggung jawabnya untuk ‘memberi makan’ masyarakat Indonesia. Belum lagi ditambah dengan banyaknya tengkulak yang senang mengeksploitasi hasil pertanian para petani dengan membelinya di bawah harga pasar. Negara masih saja absen dalam menangani permasalahan-permasalahan tersebut, hal ini dibuktikan dengan banyaknya kasus agraria yang sampai saat ini masih bergentayangan di negara agraris ini. Data yang dikemukakan oleh Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), tercatat pada tahun 2014 sedikitnya telah terjadi 472 konflik agraria di seluruh Indonesia yang semakin memperburuk keadaan para petani kita.

Sejahterakan Petani
Latar belakang permasalahan di Indonesia mengenai pertanian bermula dari adanya fakta bahwa organisasi pangan dunia, FAO (Food and Agriculture Organization) melihat Indonesia sebenarnya sangat potensial dalam bidang pertanian tetapi pada tahun 2014 Indonesia malah berada di bawah peringkat Amerika.

Salah satu faktor yang menjadi permasalahan yaitu infrastruktur itu sendiri. Infrastruktur pertanian masih kurang mendapat perhatian khusus bagi pemerintah walaupun mereka tahu bahwa sebenarnya hal inilah yang menjadi kunci utama dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Padahal para pakar di bidang pertanian telah melakukan banyak penelitian dan menghasilkan solusi terkait permasalahan infrastruktur yang semakin terabaikan oleh pandangan pemerintah selaku pemangku kebijakan.

Bukti di lapangan menunjukkan bahwa petani kita masih saja menggunakan sistem irigasi manual, alat-alat pertanian yang ‘minimalis’, teknik pengolahan lahan dengan cara-cara yang masih terbilang konservatif, sehingga berdampak pada hasil pertanian seadanya. Bagaimana bisa pemerintah dikatakan serius dalam menangani infrastruktur pertanian, jika anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah hanya Rp16,9 triliun untuk pembangunan jalan dan jembatan di sisi lain kita melihat dana yang dikeluarkan untuk impor produk pangan mencapai angka Rp125 triliun. Hal ini menyiratkan bahwasanya pemerintah lebih memilih untuk terus bergantung pada produk pangan dari luar negeri daripada berusaha meningkatkan produktivitas produk pangan dalam negeri.

Langkah awal yang perlu dibenahi oleh pemerintah ialah peningkatan infrastruktur yang akan menghasilkan produktivitas maksimal produk-produk pertanian. Sudah saatnya pemerintah mengkaji ulang permasalahan yang dihadapi oleh para petani serta memberikan solusi yang maksimal dalam menangani permasalahan-permasalahan tersebut. Agar permasalahan infrastruktur pertanian dapat segera terselesaikan. Mengingat kita memiliki potensi yang cukup besar untuk menjadi negara yang berdaulat dalam bidang pangan.

Adanya gagasan spesialisasi produk pertanian juga solusi yang dapat ditawarkan pasalnya, produk Indonesia kurang mempunyai nama di negara lain. Dengan adanya One Village One Product (OVOP) yang sudah diterapkan di Yogyakarta dapat mengoptimalkan satu produk serta kemudian dapat di ekspor dan menjadi keunggulan nama Indonesia serta kesejahteraan petani. Dalam hal ini dibutuhkan peran pemerintah dalam menentukan daerah yang berpotensi. Namun, di sisi lain dengan adanya gagasan OVOP ini juga harus mengingat akan adanya permasalahan tengkulak yang nantinya malah menjadi boomerang.

Apabila pemerintah serius dalam mencita-citakan swasembada pangan, sudah seharusnya kesejahteraan petani menjadi fokus utama tanpa ditawar-tawar lagi agar mereka semakin termotivasi untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Pembenahan infrastruktur yang menunjang produktivitas harus terus dikembangkan agar petani tidak mengalami kendala-kendala seperti sebelumnya. Jika negara serius dalam membela hak-hak para petani ‘tanpa pamrih’ maka mereka juga akan berusaha untuk memberikan hasil yang maksimal dalam kinerja mereka untuk mencapai swasembada pangan seperti yang kita cita-citakan. Sehingga julukan negara agraris yang diberikan kepada negara kita bisa kita buktikan kepada dunia.

Secara hakikat, sejarah tak akan pernah dapat diulang secara sama persis sehingga respon kebijakan yang harus segera diambil pemerintah juga perlu lebih inovatif. Benar bahwa Kementerian Pertanian telah melakukan rapat koordinasi dengan seluruh kepala dinas pertanian. Begitu pula konsep dan strategi telah disusun dengan sejumlah perencanaan akan menambah jumlah anggaran produksi pangan, membuka akses pada daerah-daerah yang terisolasi, serta meningkatkan pendapatan para petani. Namun langkah nyata dan pelaksanaan kebijakan di tingkat lapangan sangat ditunggu segera karena ancaman krisis pangan tidak akan dapat diselesaikan hanya di ruang rapat.

dimuat di : http://inspirasibangsa.com/nasib-petani-di-negeri-agraris/

Ditulis oleh :  Margret Erika Eunike Worabay

Komisariat Pertanian Unpad, GMNI Sumedang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 31, 2016 by in Uncategorized.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters