gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Infrastruktur Laut di Timur Indonesia: Sebuah Jalan Menuju Kedigdayaan Poros Maritim

 Ada sebuah adagium kuno dari negeri tirai bambu berbunyi, “Barang siapa menguasai lautan maka ia akan menguasai dunia”. Nampaknya petuah tersebut tak perlu disangsikan lagi kebenarannya, karena kini berbagai negara maju (yang memiliki wilayah perairan laut) di dunia  memiliki kekuatan maritim yang amat disegani eksistensinya. Sejenak  apabila  mendengar  kata  ‘kemaritiman’  sontak  membuat  nalar  kita  kembali  bermain  dengan  romantika  sejarah  karena  ditakjubkan  oleh  kehebatan  Kerajaan  Sriwijaya  dan  Kerajaan  Majapahit  yang  begitu  terkenal dengan konsep ‘Kerajaan Maritim-nya’. Lantas bagaimana hari ini, akankah kejayaan itu terulang kembali?

Indonesia sesuai dengan letak geografisnya dimana 2/3 wilayah negaranya berupa lautan sebetulnya memiliki potensi menjadi negara maritim yang amat kuat. Dengan kenyataan alam seperti demikian, laut bagi Indonesia  mempunyai  makna  yang  amat  berarti  bagi  Negara  Kesatuan  Republik Indonesia (NKRI) yaitu, laut  sebagai  media  sumber  daya,  laut sebagai  media  diplomasi, laut  sebagai  ruang  keamanan  dan  pertahanan negara, laut  sebagai  media  penghubung antar wilayah,  serta yang paling penting ialah laut sebagai media pemersatu  bangsa.

Berbicara mengenai kemaritiman maka hal tersebut tak akan terpisahkan dari pembahasan pembangunan infrastruktur laut suatu negara. Berbagai pembangunan infrastruktur di Indonesia selalu menjadi isu yang menarik untuk dibahas. Kondisi perekonomian dengan latar demografis dan geografis Indonesia menjadikan persoalan pembangunan infrastuktur menjadi kian dinamis. Idealnya pembangunan dan pengembangan infrastruktur yang merata dan memadai akan berdampak pada tumbuhnya perekonomian yang semkain efektif dan efisien. Namun pada kenyataannya, sedari dulu pembangunan infrastuktur laut Indonesia belum menjadi fokus utama pemerintah, terutama kondisi daerah di belahan Timur Indonesia belum memiliki infrastruktur yang memadai dalam berbagai aspek. Sehingga wajar apabila berbagai harga kebutuhan hidup baik sandang, pangan, maupun papan jauh lebih mahal bila dikomparasikan dengan daerah lain.

 

 

Nawa Cita dalam Pembangunan Maritim

Dalam beberapa kesempatan, Presiden ke-7 Republik Indonesia Ir. Joko Widodo (Jokowi) selalu menuturkan bahwa pembangunan mestilah mencerminkan Indonesia sentris bukan Jawa sentris. Itulah salah satu semangat nawa cita yang sering didengungkan oleh Joko Widodo bersama Jusuf Kalla guna merealisasikan visi misi mereka dalam mewujudkan Indonesia menjadi poros maritim dunia. Konsep sederhananya negara maritim adalah negara yang mampu memberdayakan laut dalam pemanfaatan yang positif. Dengan kata lain Indonesia harus berdaulat di lautnya sendiri.

Pembangunan maritim Indonesia adalah suatu gagasan dan konsep untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa. Namun kembali, jika kita melihat kondisi Indonesia secara menyeluruh maka tidak salah jika kita berasumsi bahwa terjadi disparitas yang begitu tinggi antara pembangunan di daerah timur maupun di daerah barat. Tentu saja bila pembangunan belum merata, menjadi hal wajar jika keadaan tersebut menjadikan daerah Indonesia Timur masih jauh dari kategori daerah yang memiliki  infrastruktur publik yang mumpuni.

Infrastruktur adalah intisari dari katalisator pembangunan. Menurut Alfred Thayer Mahan, ahli geostrategi politik maritim Amerika Serikat, wujud dari kesiapan infrastruktur dalam menunjang pembangunan sektor maritim salah satunya adalah dengan membenahi serta membangun fungsi pelabuhan, armada pelayaran, dan industri manufaktur maritim. Pelabuhan dapat menciptakan konektivitas maritim yang berfungsi sebagai alur interaksi ekonomi maupun interaksi pada bidang-bidang lainnya. Jika hal tersebut mampu terealisasikan, maka selain akan memberi manfaat bagi kesejahteraan rakyat dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata, pembangunan maritim yang baik akan mendukung pembangunan di berbagai bidang, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, serta meningkatkan hubungan antar bangsa.

Realisasi Pembangunan Infrastruktur Indonesia Timur

Seiring berjalannya waktu, apa yang dahulu dijanjikan oleh pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla untuk membangun infrastruktur wilayah Indonesia Timur mulai terlihat hasilnya.

Dalam konteks pembangunan maritim, tol laut adalah kiat pemerintah dalam menegaskan kembali, bahwa Indonesia sebagai bangsa maritim mengembangkan pembangunan transportasi laut.  Sehingga, sistem logistik antar pulau dan di dalam kepulauan tertentu dapat terhubungkan dengan mudah. Program ini bertujuan untuk menghubungkan pelabuhan-pelabuhan besar yang tersebar di seluruh nusantara. Dengan adanya koneksi antara pelabuhan-pelabuhan laut ini, maka akan memperkuat persatuan Indonesia, menghubungkan Indonesia dari Sabang sampai Merauke, serta menciptakan kelancaran distribusi barang hingga ke seluruh daerah negeri.

Bukti nyata bahwa pembangunan infrastruktur daerah Indonesia Timur telah terealisasikan dapat dilihat dari berbagai bukti dokumen otentik yang terdapat dalam beberapa situs kementerian/lembaga negara. Berdasarkan data yang dilansir dalam situs Menteri Perhubungan per tanggal 06 April 2016, tertera bahwa hingga saat ini, pemerintah telah membangun 4 pelabuhan penyebrangan, 27 pelabuhan laut,  7 bandara baru, dan 12 bandara yang diperluas di kawasan Indonesia bagian Timur. Pemerintah juga sedang membangun 68 pelabuhan laut dan lima pelabuhan penyeberangan di Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua pada 2015-2016 untuk meningkatkan konektivitas dan mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Dari data yang diperoleh tersebut tentulah harapan kita melihat terwujudnya Indonesia menjadi negara poros maritim dunia bukanlah sekedar cita-cita yang menjadi angan belaka. Berjalannya pembangunan infrastruktur khususnya di Indonesia bagian Timur juga menegaskan bahwa semboyan Jalsveva Jayamahe (di laut kita jaya) akan kembali bergema dalam irama deburan ombak laut nusantara. Karena kedaulatan atas laut adalah kedaulatan negeri menuju Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera.

Salam hangat dari Timur Indonesia, bangkitlah dari tidur! Merdeka!

Dimuat di : Tabloid Inspirasi edisi: Vol. 7, No. 139, 25 April 2016

Ditulis oleh : Bung Dhatu Brata S

Hubungan Internasional, FISIP Unpad

Komisariat FISIP Unpad, GMNI Sumedang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 23, 2016 by in Uncategorized.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters