gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Globalisasi: Tantangan di Balik Peluang

JAKARTA, Inspirasibangsa (28/5) — Menurut Kennedy dan Cohen bahwa transformasi kultur antar bangsa telah membentuk jaringan kinerja (network) yang mendunia yang pada gilirannya melahirkan globalisme (sebuah kesadaran dan pemahaman bahwa dunia adalah satu). Setiap orang akan berbeda pandangan tentang globalisasi, ada yang memandang bahwa globalisasi sebuah proses global dan ada juga yang memandang bahwa globalisasi hasil akhir dari sebuah proses.

Orang yang memandang globalisasi sebuah proses adalah melihat suatu proses sosial atau proses sejarah atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan suatu tatanan kehidupan baru dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi, dan budaya masyarakat.

Sedangkan orang yang memandang globalisasi sebagai hasil akhir dari sebuah proses melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara maju sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Negara-negara yang kuat dan kaya, praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya kerena tidak mampu bersaing.

Globalisasi bagi bangsa Indonesia dimana masyarakatnya memiliki multi etnis dengan multi budaya, melahirkan tantangan-tantangan yang tidak ringan yang bisa mengancam keutuhan bangsa dan negara Indonesia.

Pertama, berupa tekanan-tekanan yang datang dari luar baik dalam wujud ekonomi, politik maupun budaya. Ketergantungan atas kekuatan ekonomi internasional menyebabkan bangsa Indonesia tidak dapat melepaskan dari kekuatan-kekuatan tersebut, meski pada kenyataannya apa yang diperoleh bangsa Indonesia dari ketergantungan tersebut tidaklah selalu manis. Ketergantungan ekonomi akan berpengaruh pada ketergantungan politik. Namun, ketakutan terbesar ketika tekanan-tekanan kultural (budaya) dari yang akan sangat membahayakan bagi keutuhan bangsa dibandingkan tekanan-tekanan ekonomi dan politik. Kemajuan media massa menjadikan debit arus informasi yang masuk ke dalam masyarakat Indonesia sangat tinggi. Rayuan-rayuan kultural yang dibawa media massa tersebut sulit untuk ditolak dan amat efektif dalam menghancurkan budaya dan nilai-nilai yang telah dipegang oleh warga masyarakat.

Kedua, berupa munculnya kecenderungan menguatnya kelompok-kelompok berdasarkan etnis (suku) di masyarakat. Menguatnya kelompok-kelompok berdasarkan kesukuan ini tidak mustahil akan menjadikan sumpah pemuda ‘satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa’ tinggal menjadi dokumen sejarah belaka. Ketidakpuasan kelompok-kelompok masyarakat Kawasan Timur Indonesia (KTI) atas kebijakan pemerintah pusat akan dengan mudah dan segera bermuara pada ancaman tuntutan ‘merdeka’, terlepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Globalisasi Harus Dibendung
Kita dituntut melakukan kebijakan deregulasi, melakukan libelarisasi ekonomi, membuka selebar-lebarnya jalan bagi investasi asing, menurunkan tarif impor, dan melakukan privatisasi. Tuntutan-tuntutan tersebut sebenarnya mengarah kepada minimalnya peran negara karena doktrin ekonomi-politik yang dibangun pada era globalisasi ini adalah doktrin ideologi neoliberalisme yang memandang pertumbuhan ekonomi suatu negara hanya akan terjadi jika negara membuka pasar selebar-lebarnya bagi investasi dan negara tak ikut campur dalam perekonomian, biarkan pasar yang menentukan (pasar bebas).

Bagi negara yang memiliki infrastruktur ekonomi yang masih lemah, dimana industri dalam negeri belum siap menghadapi persaingan antar bangsa dan negara yang demikian bebas, maka industri dalam negeri besar kemungkinan akan mengalami ancaman serius dari terpaan produk industri asing. Globalisasi membuka peluang dan akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk asing bagi konsumen dalam negeri. Industri dalam negeri menghadapi ancaman serius yang dapat mematikan gerak dan pertumbuhan industri nasional.

Negara berkembang seperti Indonesia hanya bisa bergantung pada hutang dan investasi negara maju untuk kemajuan ekonominya, inilah yang membuat negara kita hanya menjadi tumpuan bahan baku industri dan pangsa pasar bagi produk negara-negara maju. Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta menjadi pasar empuk bagi negara lain, maraknya barang buatan luar negeri dan tenaga kerja asing yang mengisi berbagai jenis keahlian dan jabatan, semakin menyingkirkan rakyat Indonesia dari tanahnya sendiri.

Penyebaran perusahaan-perusahaan asing di Indonesia semakin meningkat hal ini membentuk struktur industri baru dan akan meningkatkan persaingan. Banyak perusahan milik anak bangsa yang akan tertekan bahkan terancam harus gulung tikar akibat tidak mampu bersaing dalam persaingan global ini. Semakin tingginya angka investasi negara maju juga menjadikan kekayaan alam Indonesia sebagai sasaran. Dari tahun ke tahun luas hutan Indonesia semakin berkurang, pentingnya tempat untuk mendirikan perusahaan memaksa pembukaan lahan samakin tinggi. Kita tidak mampu untuk menolaknya akibat dari perjanjian-perjanjian yang sebelumnya telah disepakati oleh para elit politik negeri ini.

Menghadapi globalisasi yang memiliki dampak positif dan negatif, dibutuhkan komitmen terhadap prinsip-prinsip moral yang semakin kuat. Negara harus memiliki kemandirian dalam mengambil sikap yang menentang kepentingan global demi kepentingan negara itu sendiri. Pemanfaatan kekayaan alam dengan baik dan pengembangan budaya nasional diyakini akan menjadikan kita siap menghadapi era globalisasi ini. Diyakini pula bahwa pendidikan berada di garis depan untuk mewujudkannya. Sehingga hal ini bukan hanya menjadi tantangan bagi Indonesia namun bisa menjadikannya peluang agar kedepannya, nasib masyarakat Indonesia bisa lebih baik.

dimuat di : http://inspirasibangsa.com/globalisasi-tantangan-di-balik-peluang/

ditulis oleh : Sunardi Indra Jaya Purba
Mahasiswa Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Padjadjaran

Komisariat Pertanian Unpad, GMNI Sumedang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 21, 2016 by in Uncategorized.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters