gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Ironi Nasib Petani di Negeri Agraris

Lahan yang luas serta tanah yang subur tidak serta merta menjadikan Indonesia sebagai negeri agraris nan makmur. Lahan pertanian semakin sempit dikarenakan pembangunan infrastruktur, menjadikan petani terdesak dan impor semakin merajai pasar Indonesia. Lantas bagaimana nasib petani di negeri ini, haruskah mereka beralih profesi?

Jumlah impor setiap tahunnya bukannya berkurang, mulai dari beras, kentang, jagung dan bahkan garam serta singkong. Pada Oktober 2014 lalu impor singkong dari Thailand mencapai 6.200 ton berdasarkan data BPS. Sedangkan impor beras mencapai 1.5 juta ton pada tahun 2014 kemarin.

Ironinya, itengah-tengah kurangnya persediaan pangan, petani kita malah dihujani dengan berbagai konflik tanah. Berdasarkan data dari BPN (Badan Pertanahan Negara) ada 13.000 konflik tanah yang belum terselesaikan. Hingga akhir tahun 2010 konflik pertanahan telah terkumpul sebanyak 12.267. Pada periode Januari 2011 sampai Juni 2011 baru 1.333 konflik tanah yang terselesaikan dari 14.337 kasus tanah. Pada tahun 2014 KPA (Konsorsium Pembaruan Agraria) mencatat sebanyak 472 konflik agraria diseluruh wilayah Indonesia dengan luas lahan konflik sekitar 2.860.977,77 Ha. Konflik ini melibatkan sedikitnya 105.887 Kepala Keluarga. Konflik yang terjadi dalam berbagai sektor, terdapat 215 konflik untuk sektor infrastruktur, 185 konflik perkebunan, 14 konflik pertambangan, 4 konflik di pesisir dan perairan, 27 konflik kehutanan, 20 konflik di bidang pertanian dan 7 konflik lainnya, berdasarkan Laporan Akhir Tahun 2014 KPA.

Impor tentu akan menjatuhkan harga jual hasil pertanian. Sesuai dengan hukum ekonomi bahwa dengan membanjirnya persediaan di pasar, maka permintaan akan turun otomatis harga akan anjlok. Sementara petani kita masih harus berjuang melawan hama dan musim hujan dan kemarau yang tidak menentu, kadangkala panen harus digagalkan oleh banjir. Seperti halnya petani Rokan Hilir yang gagal panen akibat bencana banjir pada 9 Januari 2015 dikarenakan tidak adanya bantuan dari pemerintah.

Ditambah lagi dengan kasus konflik lahan, baik petani dengan perhutani maupun pihak swasta. Hal ini memperlihatkan bahwa hukum dan birokrasi belum mampu menyelesaikan polemik bangsa yang paling fundamental. Kerapkali tanah dijadikan sebagai aset sehingga diperjualbelikan dan diperbutkan. Tak jarang juga tanah yang dirampas tidak diberikan ganti rugi yang sepadan sehingga hal ini sudah barang tentu memiskinkan petani. Tidak sedikit juga petani yang kemudian beralih profesi menjadi buruh pabrik dan melakukan urbanisasi sehingga menimbulkan masalah baru.

Permasalahan seperti ini tidak akan selesai jika pemerintah tidak serius melakukan Reforma Agraria. Sebuah konsep yang sudah lama dicetuskan oleh para pendiri bangsa ini dalam UUD 1945 pasal 33 ayat (3) “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”. Dari UUD tersebut lahirlah UU PA No. 5 Tahun 1960. Namun sampai sekarang belum terlihat pelaksanaan Reforma Agraria tersebut. Tentu saja polemik akan terus terjadi, konflik agraria akan terus meningkat dan petani akan mengalami kemiskinan yang berkepanjangan jika Reforma Agraria tidak dilaksanakan.

dimuat di:

http://www.koran-sindo.com/read/974421/161/ironi-nasib-petani-di-negeri-agraris-1425958466

Yenglis Dongche

KETUA DPC GMNI SUMEDANG 2014-2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 26, 2016 by in Uncategorized.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.453 pengikut lainnya

Visitors

free counters