gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Kuliner Lokal Representasi Ekonomi Berdikari

 

Belakangan ini bisnis kuliner kian berpotensi dalam mengembangkan perekonomian nasional. Bisnis kuliner merupakan bisnis yang mengolah makanan dan minuman serta produk antara untuk meningkatkan kualitasnya agar lebih laku di pasaran. Tingginya minat beli masyarakat terhadap kulinerlah yang membuat bisnis ini menjadi sangat berpeluang meningkatkan penpadatan Negara dan daya beli masyarakat. Peluang bisnis ini sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif dalam memerangi permasalahan pengangguran dan kesenjangan ekonomi. Bila kita perhatikan ada banyak jenis kuliner dalam negeri yang diproduksi oleh kelompok masyarakat miskin dan menengah. Ini menunjukkan bahwa perhatian pemerintah pada kuliner dalam negeri secara tidak langsung dapat menolong ekonomi kelompok masyarakat miskin dan menengah.

Bila dilihat dari tingkat konsumsi dan jumlah penduduk Indonesia, maka Indonesia merupakan pasar potensial bagi bisnis kuliner.Bila kuliner dalam negeri dapat merajai di negeri sendiri tentu saja sudah bisa menjadikan bisnis kuliner dalam negeri kian berkembang. Alhasil, bukan tidak mungkin masalah kemiskinan maupun kesenjangan ekonomi dapat sedikit terobati dengan hidupnya bisnis kuliner di Indonesia.

Namun di sisi yang lain, tingkat konsumsi dan jumlah penduduk Indonesia yang banyak ini tak pelak mengundang investor asing untuk masuk ke dalam negeri. Mereka tidak justru mengembangkan kuliner dalam negeri melainkan justru memasarkan kuliner asal negara mereka. Ujung-ujungnya kuliner asingpun mulai merajai pasar kuliner di dalam negeri. Coba perhatikan, produk yang dihasilkan berupa panganan ala Barat, Timur maupun khas Timur-Tengah kini kian berkembang pesat dan pelan-pelan mulai mematikan bisnis kuliner lokal.

Kuliner lokal kita harus bersaing dengan kuliner asing yang mempunyai modal kuat. Sejumlah restoran western food seperti KFC, McD, Pizza Hut, Burger King, Dominos, Texas Chicken, Wendy’s dan A&W, mampu mendulang omset triliunan rupiah pertahunanya. Menurut sumber data bisnis, jumlah gerai yang dimiliki KFC sejumlah 421 gerai, McD 112 gerai, Pizza Hut 202 gerai, Texas Chicken 105 gerai dan A&W  200 gerai yang tersebar luas di Indonesia. Bukan hanya sajian makanan ala Barat tapi juga Eastern food atau makanan ala Timur dan Timur-Tengah juga mewarnai bisnis kuliner di bumi pertiwi Indonesia ini.Sejumlah restoran Eastern Food seperti Hoka-Hoka Bento, Yoshinoya, Lawson, Kebab Turkey, Mie Ramen, Chinesse Food ikut mempersulit berkembangnya bisnis kuliner lokal.

 

Kuliner Lokal Manifestasi Budaya-Ekonomi Kerakyatan

Sementara itu masakan tradisional yang diolah dari hasil bumi Indonesia seperti pecel lele, Mie Aceh, Bika Ambon, Rendang, Pendap, Otak-otak, Gulai Belacan, Pempek, Siomay, Seriut, Sate Bandeng, Kerak Telor, Serabi, Lumpia, Gudeg, Rujak Cingur, Ayam Betutu, Ayam Teliwang dan Catemak tidak kalah lezat dan bergizi dibandingkan dengan aneka kuliner asing. Selain meningkatkan pendapatan masyarakat lokal, bisnis kuliner ini secara tidak langsung mampu meningkatkan kecintaan terhadap tanah air. Kecintaan terhadap tanah air dapat ditanamkan melalui pengenalan akan produk-produk dalam negeri termasuk dalam hal kuliner.

Kekayaan Indonesia akan hasil bumi seperti rempah-rempah telah menambah cita rasa yang unik dan lezat dalam setiap kuliner yang dihasilkannya. Keberagaman suku dan budaya di Indonesia juga kian memperkaya aneka kuliner dalam negeri. Namun kekhasan kuliner dalam negeri sangat mungkin tergerus oleh kuliner asing oleh karena kekalahan kita dalam hal promosi kuliner khas dalam negeri.

Derasnya globalisasi yang menghapuskan batas-batas Negara dan mereduksi peran Negara mempersulit kuliner local berkembang. Globalisasi tak hanya memberikan keleluasaaan bagi swasta/asing untuk mengelola kekayaan alam bahkan menguasai sumberdaya manusia-nya. Dampak dari globalisasi bagi usaha kuliner local sangat kompleks dan menyangkut beberapa aspek seperti ekonomi, politik, sosial, dan budaya.

Secara ekonomi, derasnya globalisasi akan menggerus usaha kuliner lokal yang berkompetisi dengan kuliner asing. Alhasil, akan banyak usaha kuliner gulung tikar karena kesulitan biaya. Tergerusnya usaha kuliner local akan menambah jumlah pengangguran dan beban biaya Negara akan semakin meningkat. Ketika sutau Negara tidak dapat lagi menanggung beban Negara yang meningkat makan jalan solusi adalah hutang atau agun asset Negara. Tentu ini akan sangat menyengsarakan Indonesia karena beban hutang yang meningkat juga akan membuat Negara semakin ketergantungan akan hutang.

Secara politik, infiltrasi korporasi dan investasi masuk kedalam aspek politik. Buktinya, banyak peraturan perundang-undangan yang memudahkan investasi swasta/asing masuk kedalam negeri. Investasi “kebablasan” inilah cikal-bakal lahirnya penjajahan gaya baru. Akibatnya,  usaha kuliner lokal akan menjadi lawan empuk bagi usaha kuliner asing yang tak memiliki dukungan politik dari Negara.

Secara budaya, budaya nasional adalah fondasi bagi kemajuan suatu Negara. Oleh karena itu, menjaga warisan  budaya nasional adalah mutlak harus diberikan perhatian khusus bagi pemerintah. Menjaga budaya nasional dari “serangan” budaya asing harus diantisipasi pemerintah sebagai sesuatu hal yang serius. Ancaman budaya asing yang masuk kedalam sendi ekonomi sepertihalnya kuliner asing. Ancaman usaha kuliner asing akan mengikis semangat budaya tanah-air. Masyarakat seakan lebih cinta kepada aneka kuliner dari Negara lain disbanding kuliner lokal. Budaya western-isasi ataupun eastern-isasi hanya bias dilindungi oleh budaya nasional yang kuat.

Dari berbagai pendekatan ekonomi, politik dan budaya akan menjamurnya kuliner asing memberikan gambaran kedepan wujud Negara kita kelak. Gambaran ini kelak akan menuntut kehadiran Pemerintah untuk melindungi bisnis kuliner dalam negeri agar tetap eksis ditengah masyarakat. Faktanya, usaha kecil dan menengah (UMKM) yang di dalamnya juga termasuk bisnis kuliner mampu menyerap 97 persen tenaga kerja patut menjadi perhatian. Bisnis kuliner akan mampu memperkokoh roda perekonomian ditingkatan hilir. Jika, sector hilir mampu dimanfaatkan dengan baik, maka akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan Negara dari hasil pajak.

Proteksi pemerintah terhadap masuknya investasi kuliner asing pun perlu diperketat sehingga bisnis kuliner local mampu menyerap tingginya tingkat konsumsi masyarakat. Proteksi berupa kebijakan maupun peraturan perundang-undangan dapat diberikan pemerintah agar pengusaha bisnis optimis mengelola usaha kuliner local dan menjaga kebudayaan lokal. Proteksi juga diberikan pada setiap kerjasama ekonomi internasional, regional maupun bilateral yang dapat menghambat laju pertumbuhan usaha kuliner lokal.

Indonesia sebagai Negara sedang berkembang harusnya mencermati dengan baik kepentingan nasional dalam menghadapi pengaruh globalisasi yang semakin kuat. Kepentingan nasional adalah berupa keberpihakan pemerintah terhadap usaha ekonomi rakyat. Kepentingan nasional adalah manifestasi harapan serta cita-cita Republik Indonesia seperti termaktub pada pembukaan UUD 1945. Kepentingan nasional dan keberpihakan pemerintah kepada kuliner local wujud ekonomi berdikari dan kedaulatan politik.

 

Trianda Surbakti

Aktivis GMNI Sumedang

https://d19tqk5t6qcjac.cloudfront.net/i/412.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 18, 2015 by in Semua untuk Semua.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters