gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Seputar Keterasingan Buruh

Oleh : Junius Fernando S Saragih

 

Keterasingan buruh barangkali bisa dijelaskan, sebagai satu kondisi dimana kita tidak berani melawan, karena merasa bahwa kehidupan kita sangat bergantung dengan orang tersebut. Kondisi ini tentu terbangun oleh konstruksi pikir kita bahwa kita tidak mampu bergerak sendiri dengan modal yang kita miliki baik itu modal intelektualitas maupun dana yang kita miliki. Benar kan?

 

Ada banyak buruh yang tidak berani melawan tatkala perusahaan memintanya untuk lembur sampai waktu yang di luar batas kewajaran. Di luar batas kewajaran yang seperti apa yang saya maksudkan? Misalnya saja, anda disuruh bekerja dari jam 7.30 pagi sampai dengan esoknya jam 7.30 pagi (sekalipun itu disertai dengan beberapa kali waktu istirahat). Buruh tersebut sadar bahwa kerja lembur dengan waktu yang demikian sangatlah tidak wajar, melelahkan, dan sangat tidak manusiawi, akan tetapi tidak ada pilihan lain. Mereka takut tatkala menolak untuk lembur akan ada sanksi yang diberikan perusahaan. Barangkali sanksi yang paling ekstrem yang bisa dilakukan adalah memecat mereka dari pekerjaan yang selama ini telah menjadi sarana menghidupi dirinya. Lantas, ketakutan yang mencuat di benak para buruh adalah tatkala dipecat akan sangat sulit untuk mencari pekerjaan yang bisa menjamin kelangsungan hidup mereka. Apalagi untuk negara yang—pada kenyataannya—pengangguran terhitung banyak. Barangkali mereka akan sangat menghindari pemecatan yang bisa membawa mereka menjadi orang yang sama seperti banyak pengangguran lainnya.

 

Sementara itu bagi perusahaan, kadang kala ada yang merasa bisa melakukan tindakan tidak manusiawi, memaksa para buruh kerja rodi, karena mereka merasa berkuasa untuk memberikan sarana penghidupan bagi para buruh. Perusahaan merasa sangat diperlukan dan cenderung berbuat sesuka hati bagi orang-orang yang bergantung pada dirinya. Ini namanya hukum alam. Kalau dibiarkan tanpa intervensi negara, wajar saja bila hukum alam itu terjadi dan mendiskreditkan para buruh.

 

Keberanian melawan tentunya menjadi ada tatkala para buruh berani keluar dari keterasingannya. Dia tidak bersedia dikuasai oleh orang atau kelompok lain hanya karena mereka memiliki sumber daya tertentu.

Apabila kita membiarkan kekuasaan perusahaan semakin menjadi-jadi, maka kecenderungannya para buruh akan semakin terasing, dan semakin tidak mampu menjadi dirinya sendiri. Lapangan pekerjaan yang semakin langka dan dikuasai oleh perusahaan semakin membuat para buruh rela dipaksa untuk bekerja keras sembari menurunkan martabatnya sebagai manusia.

 

Akan tetapi, harus diperhatikan, apa yang dapat terjadi bagi orang-orang yang menganggur dan kalah dalam persaingan memeperebutkan status keburuhan? Tatkala lapangan pekerjaan itu semakin langka, di satu sisi akan memberikan kekuasaan yang besar bagi perusahaan, namun di sisi lain hal ini akan berdampak pada situasi yang tak terkendali. Kecenderungan orang-orang yang menganggur dan tidak mampu menghidupi dirinya sendiri akan sangat mudah digerakkan untuk melakukan tindakan-tindakan vandalisme. Semakin banyak orang yang mengaggur, maka kekuatan untuk melawan situasi atau kondisi yang terbangun juga akan semakin besar. Akan ada perlawanan terhadap para penguasa dan merebut penguasaan terhadap alat-alat produksi. Barangkali seperti inilah logika yang juga dibangun oleh Karl Marx, berkaitan dengan ramalan keruntuhan Kapitalisme.

Pertanyaannya, apakah aktor kapitalisme tidak akan merespon ramalan ini? Tidakkah mereka akan bermetamorfosis dan memperbaiki sistemnya agar tidak terjadi keruntuhan seperti yang dimaksudkan? Kemampuan mereka dalam memperbaharui diri dan memperkuat sistem serta menghindari prakondisi keruntuhannyalah yang akan membuat mereka bisa bertahan. Sepanjang mereka mampu berbenah, sepanjang itulah mereka bertahan.

 

Barangkali inilah yang bisa kita lihat sekarang. Dimana perusahaan mulai memberikan keleluasaan-keleluasaan bagi para buruh. Mereka diberikan jaminan-jaminan kesehatan dan sosial lainnya. Mereka juga diberikan kesempatan berserikat. Mereka juga kadang kala diberikan kenaikan gaji. Semua ini tentu saja untuk menenangkan situasi, agar perlawanan tidak semakin membesar. Karena buruh juga memiliki peranan penting bagi kemajuan kapitalisme, tanpa mereka tidak perkembangannya akan mandek. Sekarang juga para buruh mulai diberikan pelatihan-pelatihan? Untuk apa? Bukan semata-mata untuk buruh tersebut, melainkan untuk perusahaan.

 

Penulis adalah alumnus Ilmu Pemerintahan Unpad

Wakabid Kaderisasi DPC GMNI SUMEDANG 2012-2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 1, 2014 by in Semua untuk Semua.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters