gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Pembangunan Yang Adil dan Manusiawi (Sebuah Refleksi Singkat)

Oleh: Junius Fernando Saragih

 

Pembangunan belakangan ini kadangkala justru menciptakan masalah baru, yakni munculnya keterbelakangan dan tidakada hasil yang konkret yang bisa ditunjukkan secara faktual. Sebenarnyabagaimana sih seharusnya pembangunan yang manusiawi itu? Saya ingin berikansalah satu analogi pada pembangunan fisik, yakni dalam suatu kawasan pendidikanJatinangor. Barangkali sudah secara paripurna kita mengamati dan menyadaribahwa telah ada pembangunan yang masif dan cukup cepat jangka waktunya. Pembangunandalam hal ini telah mengubah lahan-lahan pertanian spesifiknya persawahan yangkemudian dialihfungsikan menjadi bangunan-bangunan baru seperti apartemen danpusat hiburan atau perbelanjaan. Secara praktis bisa jadi pembangunan ini dinyatakanproduktif sebab hal ini bisa meningkatan pertumbuhan ekonomi di kawasanJatinangor. Atau di sisi lain, bila kita merujuk kepada teori pembangunankapitalistik yang meninjau bahwa pembangunan ekonomi itu harus didasarkankepada kebutuhan pasar, maka memang pembangunan infrastruktur sepertiapartemen, pusat perbelanjaan, pusat hiburan, dan kos-kosan elit menjadi wajar,tepat guna, dan tepat sasaran.

Namun,bila kita coba masuk dalam pola pikir yang tidak populer, maka kita akanmenemukan sisi lain dari pembangunan. Pertama, dari proses alih fungsi lahankita akan menemukan ada masyarakat terdahulu yang menjadi pengelola sawah ataumungkin pemilik rumah di kawasan tersebut. Dan sekelompok masyarakat ini padadasarnya telah menerima imbalan akan lahan yang mereka miliki. Singkat pikirkita akan beranggapan bahwa adil-adil saja dan tidak ada masalah. Toh, mereka sudah mendapatkan imbalanatas tanah yang sebelumnya mereka miliki. Tapi kalau mau bicara tentangpembangunan yang manusiawi, bagi penulis dalam proses membeli tanah dari sekelompokmasyarakat pemilik tanah, pembeli seharusnya memikirkan tentang kapabilitasdana tersebut untuk membangun kehidupan si pemilik tanah manakala mereka akanberpindah ke tempat lain. Sehingga, para pembeli tanah atau dalam kata lainpemilik modal tidak semata-mata berpikir tentang keuntungannya dari pembangunanyang akan dia lakukan. Melainkan, para pemilik modal akan lebih memperhatikandana yang cukup bagi para pemilik tanah dan sekaligus tidak merugikan pemilikmodal bila dibandingkan dengan perkiraan keuntungan yang akan pemilik modaltersebut dapatkan.

Jadi,sederhananya pembangunan akan memberikan keuntungan pada semua pihak tidak hanyabagi segelintir orang. Dan sorotan dari pembangunan tidak lagi hanya berkutatpada ruang-ruang ramai melainkan lebih menyeluruh dalam memperhatikan kawasanyang menjadi sasaran pembangunan. Barangkali bila pola pikir pembangunan sudahmenuju ke arah sana, maka membangun akan lebih hati-hati, memperhatikan banyaksisi, dan diusahakan untuk menguntungkan sebanyak-banyaknya pihak. Inilahpembangunan yang penulis pikir sebagai pembangunan yang akan mewujudkanpemerataan itu sendiri. Memang, pada umumnya pembangunan menurut banyak pihakdisamakan atau disejajarkan dengan pertumbuhan ekonomi. Padahal, pertumbuhanekonomi saja tidak cukup karena segelintir orang kaya bisa menciptakanpertumbuhan ekonomi yang melesat tinggi namun jangan sampai kita terlena karenaternyata tetap atau meningkatnya jumlah pengangguran dan kemiskinan seringdiabaikan hanya karena indikator yang sedemikian rupa.

Pembangunanmanusiawi dan adil memang membutuhkan pola pikir dan pandangan yang futuristikdan komprehensif dari setiap pelaku pembangunan. Memang tidak mudah, tetapisetidaknya bila pembangunan manusiawi dan adil ini bisa dilakukanperlahan-lahan maka kesejahteraan bisa lebih merata, bisa lebih konret danfaktual, serta bisa lebih permanen hasilnya. Bukankah hal ini cukup baik.Namun, di samping itu semua penulis merasa hal ini hanya sebuah refleksipemikiran sementara. Sehingga, bagi penulis manakala ada kritik dan jugasanggahan dari siapa saja maka masih akan sangat mempengaruhi pemikiranpenulis. Sebab pikiran penulis tidaklah sempurna, dan penulis sadar bahwakritik dan saran akan mengarahkan gagasan-gagasan bersama mendekati kata sempurna.Silahkan dipikirkan dan didiskusikan. Semoga bermanfaat.

 

Penulis adalah Alumnus Ilmu Pemerintahan Unpad

Wakabid Kaderisasi DPC GMNI SUMEDANG 2012-2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 22, 2014 by in Semua untuk Semua.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters