gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Nuansa Perlawanan Dalam ‘Hari Valentine’

Setiap tahunnya, pada tanggal  14 Februari, identik dengan  cokelat, boneka ‘hati’, pernak-pernik berwarna pink dan segala hal yang bernuansa ‘cinta’ atau ‘kasih sayang’. Ya, tanggal 14 Februari, memang diperingati sebagai hari kasih sayang atau Valentine’s Day.  Pada Valentine’s Day, insan yang memiliki ‘kekasih hati’ saling mengekspresikan rasa cinta mereka kepada pasangan masing-masing. Rata-rata, ekspresi kasih sayang itu dimanifestasikan dengan cara memberikan cokelat atau benda-benda  lain yang identik dengan valentine’s day. Dan, cokelat maupun benda-benda itu tak lain adalah produk kapitalis.

Keterkaitan Valentine’s Day dengan kapitalisme memang bukanlah hal baru. Justru  banyak kalangan yang menganggap ritus-ritus dalam Valentine’s Day  ‘dibekingi’ kepentingan modal  dalam reproduksi  atau romantisasi ‘imagi’ cinta demi menciptakan pasar. Lalu, bagaimana awal mula dari kemunculan hari kasih sayang ini?

Santo Valentinus

Banyak versi yang menjelaskan mengenai awal mula Valentine’s Day . Ada versi yang menghubungkan hari Valentine dengan hari raya paganisme di era Romawi kuno, Lupercus, dewa kesuburan dalam kepercayaan Romawi kuno. Ada juga versi yang menghubungkan hari Valentine dengan bulan Gamelion dalam kalender Yunani  kuno. Di bulan itu diadakan perayaan  untuk memperingati  pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. Dewa Zeus adalah dewa  tertinggi dalam mitologi Yunani.

Namun, versi yang paling terkenal dan juga paling populer dikalangan publik dunia adalah versi mengenai kisah seorang martir bernama Saint Valentine atau Santo Valentinus. Berdasarkan versi tersebut, Santo Valentinus adalah seorang pemuka agama Katolik yang hidup diantara masyarakat Roma pada abad ke-3 Masehi (M).

Saat itu, di Roma tengah berkuasa seorang kaisar yang bernama Claudius II. Sebagaimana layaknya kaisar  Roma  lainnya, Kaisar Claudius II  juga gemar berperang demi  memperoleh suplai tenaga budak guna  menggerakkan sistem produksi masyarakat Romawi Kuno. Pada era Yunani dan Romawi kuno, peperangan memang menjadi salah satu pranata penting dalam corak produksi perbudakan yang menjadi  basis  struktur  kedua peradaban tersebut. Semakin banyak pihak yang berhasil dikalahkan, maka semakin banyak pula budak yang berhasil diperoleh.

Kondisi obyektif semacam itu menuntut Kaisar selaku pemegang otoritas tertinggi dalam kekuasaan politik negara untuk konsisten memperluas agresi demi memperoleh tenaga taklukan yang akan dijadikan budak-budak baru.  Demikian juga dengan Claudius II. Dalam Wikipedia, dikisahkan bahwa ia adalah seorang kasiar yang  berambisi menjadikan semua pria dalam kekaisaran Roma sebagai prajurit perang. Bahkan demi mewujudkan ambisi itu, ia mengeluarkan peraturan pelarangan bagi kaum pria untuk berkeluarga atau menikah.

Hal inilah yang ditentang oleh banyak rakyat Roma, termasuk Santo Valentinus. Diam-diam, pastur yang konon  masih diperdebatkan asal-usulnya ini menggelar sakramen pernikahan bagi para pria dan prajurit Roma yang memiliki kekasih. Hal ini diketahui oleh kaisar yang akhirnya berujung pada penangkapan Santo Valentinus. Ia dianggap membangkang dari peraturan yang ditetapkan kaisar.

Akhirnya , kaisar menjatuhkan hukuman mati terhadap Santo Valentinus dengan cara dipenggal. Eksekusi hukuman mati itu dilaksanakan tanggal 14 Februari. Sejak itulah, tanggal 14 Februari diperingati sebagai hari Valentine. Nama Valentine sendiri merujuk pada nama Santo Valentinus.

Perlawanan terhadap Kekuasaan

Namun, kesahihan versi  mengenai kemartiran Santo Valentinus ini pun masih diragukan hingga kini. Banyak pihak masih memperdebatkan, apakah kisah Saint Valentine ini merupakan fakta sejarah ataukah hanya legenda.

Penyematan gelar Santo, orang suci dalam konsepsi teologis Katolik, terhadap Valentinus, juga pengesahan tanggal 14 Februari sebagai hari Valentine oleh Gereja Katolik di abad ke 5 M, tidak memupuskan keraguan akan benar tidaknya kisah martir Santo Valentinus tersebut.

Bahkan, gereja sendiri kemudian menghapus perayaan Valentine dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai cerminan keraguan gereja akan kebenaran sejarah Valentine’s Day. Namun demikian, masih banyak kalangan Katolik di Irlandia dan negara-negara Eropa lainnya yang menjadikan Valentine’s Day sebagai bagian dari perayaan agama Katolik.

Terlepas dari kontroversi sejarah itu, penulis melihat adanya sisi lain yang tidak pernah dicermati banyak orang dari kisah Valentine yang melegenda itu. Sisi lain itu adalah adanya nuansa perlawanan terhadap kekuasaan yang dilakukan oleh Santo Valentinus. Keberaniannya menikahkan para serdadu yang dilarang menikah oleh kaisar dapat dipandang sebagai bentuk perlawanan terhadap struktur perbudakan yang melestarikan peperangan hingga mengorbankan kebahagiaan privat warga Roma.

Sistem kekaisaran absolut Roma yang menyerupai fasisme telah merenggut salah satu  hak azasi paling mendasar bagi manusia, yakni hak bereproduksi dan afeksi dalam sebuah unit sosial bernama keluarga. Disinilah Santo Valentine memposisikan dirinya sebagai penentang keangkuhan kekuasaan yang menindas itu. Meskipun apa yang dilakukannya tidaklah seradikal Spartacus yang melancarkan pemberontakan frontal terhadap sistem perbudakan Yunani. Ia juga tidak se-intelektual Socrates yang mengorbankan diri demi idealismenya mengungkap kebobrokan pemikiran masyarakat Yunani yang diselubungi oleh justifikasi kepercayaan politheisme.

Kini, kita tak perlu terlalu picik ‘mengharamkan’ tradisi perayaan Valentine’s Day sebagai budaya hedonis-kapitalis atau budaya asing yang ‘kafir’. Namun, kita juga tidak usah terhanyut dalam romantisasi hari Valentine yang hanya bergumul pada manifestasi ‘cinta’ menurut ukuran penguasa kapital.

Yang perlu kita lakukan adalah menggali substansi yang ada pada perayaan hari Valentine dan menarik korelasinya dengan situasi terkini, ketika kepongahan kekuasaan negara yang ‘berselingkuh’ dengan modal telah menghancurkan ‘cinta’ yang paling hakiki, yakni keadilan dan  kesejahteraan bagi kaum papa. Seperti halnya Saint Valentine yang rela berkorban demi melawan kekuasaan yang memperbudak rakyat, seperti itu pula kiranya kita. Demikianlah selayaknya Valentine’s Day kita maknai.

HISKI DARMAYANA

Penulis adalah kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI)  Cabang Sumedang dan Alumni Antropologi Universitas Padjajaran Bandung

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/opini/20120214/nuansa-perlawanan-dalam-hari-valentine.html#ixzz36Cc4q3BL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 21, 2014 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters