gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Outsourcing dalam Kajian Historis Materialisme

Menurut Karl Marx dalam buku Das Kapital

“motif utama penggerak aktifitas produksi adalah motif ekonomi”

Pengantar

            Dalam sejarah perkembangan manusia menurut Karl Marx, terdapat 6 tahap perubahan yang akan dilalui oleh manusia terkait dengan kepemilikan alat produksi, yaitu masyarakat Komunal Primitif, masyarakat Perbudakan, masyarakat Feodal, masyarakat Kapitalis, masyarkat Sosialis, masyarakat Komunal Modern. Sampai saat ini, kita baru sampai pada tahap masyarakat Kapitalis dimana struktur penguasaan alat produksi dikuasai oleh para pemilik modal (kaum borjuis). Menurut Marx, didalam struktur masyarkat Kapitalis, masyarakat dibedakan kedalam 2 kategori. Pertama adalah masyarakat yang memiliki alat dan sarana produksi, dan yang kedua adalah masyarakat tanpa alat dan sarana produksi.

Didalam kelas masyarakat yang memiliki alat dan sarana produksi, mereka memiliki segala sumber daya untuk menghasilkan produk barang/jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mendapatkan nilai ekonomis dari kerja – kerja produksi. Sementara untuk kelas masyarakat yang tidak memiliki sarana dan alat produksi, mereka harus menjual tenaga/jasa mereka untuk membantu kelas yang memiliki sarana dan alat produksi untuk menghasilkan produk untuk mendapatkan nilai ekonomis. Dari sini dapat dilihat sebuah skema bahwa kelas yang memiliki kedekatan terhadap relasi kepemilikan alat dan sarana produksi memiliki bargain position untuk menentukan keberadaan kelas yang lain didalam struktur masyarakat Kapitalis.

Dialektika Historis

            Sejarah masyarakat buruh dimulai saat terjadinya Revolusi Industri di Inggris. Saat itu dimulailah suatu bentuk tatanan masyarakat baru dimana pekerjaan yang biasa dilakukan oleh manusia berangsur – angsur digantikan oleh kehadiran mesin yang tujuannya adalah membantu mempermudah dan meringankan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia. Seiring dengan kehadiran mesin, peran manusia dalam proses produksi semakin terpinggirkan dan yang memiliki relasi terhadap kepemilikan mesin adalah kaum borjuis dan pemilik modal.

Akibat yang ditimbulkan oleh Revolusi Industri di Inggris saat itu adalah perlombaan seluruh perusahaan di berbagai cabang produksi untuk membuat (menemukan) mesin yang dapat mempermudah perkerjaan untuk dapat bersaing dalam dunia industri. Hal ini didorong oleh semangat persaingan, tidak hanya diantara negara – negara maju, namun juga diantara perusahaan yang ada didalam suatu negara. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah tergantikannya peran manusia dalam proses produksi dalam skala yang sangat luas dan masif yang mengakibatkan buruh harus tunduk pada keinginan pemilik modal atau akan tereliminasi dari sistem produksi.

Persaingan diantara sesama masyarakat kelas pemilik modal dan negara – negara maju menuntut masyarakat kelas pekerja untuk memberikan kontribusi untuk menunjang proses produksi dan daya saing. Tuntutan yang diberikan adalah penambahan jam kerja bagi pekerja yang tujuannya adalah  meningkatkan produktivitas dan pemotongan gaji yang tujuannya adalah mengurangi biaya produksi. Hal ini harus dituruti oleh kelas pekerja karena jika tidak, mereka akan kehilangan pendapatan untuk dapat melangsungkan hidup.

Hal ini akhirnya menimbulkan perlawanan dari berbagai kelompok kelas pekerja yang pada puncaknya mengakibatkan lahirnya peristiwa Haymarket di Amerika Serikat pada 1 Mei 1886 yang pada Kongres Sosialis dunia di Paris tahun 1889 ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional. Tuntutan pada saat itu adalah pengurangan jam kerja menjadi 8 jam sehari dan perbaikan kondisi kerja. Sejak saat itu, terjadi demonstrasi di berbagai tempat di belahan dunia yang melakukan hal serupa yang intinya menuntut pengurangan jam kerja dan perbaikan kualitas hidup. Hal ini juga berimbas ke Indonesia. Perubahan struktur masyarakat agraris dan maritim yang bergeser ke arah masyarakat industri yang dimulai saat era orde baru dibawah pemerintahan Soeharto mengakibatkan masyarakat Indonesia mengalami hal serupa yang terjadi pada kondisi kaum buruh di Eropa dan Amerika Serikat. Akibatnya, banyak lahan pertanian aktif yang berubah fungsi menjadi lahan industri yang mengakibatkan rakyat kehilangan hak mereka atas tanah dan relasi poduksi yang menjadikan mereka menjadi kelas pekerja baru bagi kebutuhan industri.

Di dalam struktur masyarakat Kapitalis dimana daya saing adalah faktor kunci untuk dapat bertahan hidup, tuntutan kelas buruh diatas tentu menyulitkan posisi kelas pemilik modal untuk dapat bersaing. Dalam persaingan dunia industri, efektivitas dan efisiensi adalah kata kunci untuk dapat memenangi persaingan dan menjadi pemimpin dalam dunia usaha. Salah satu langkah strategis yang dilakukan oleh kelas pemilik modal untuk meningkatkan efisiensi dan mendorong produktivitas adalah dengan melakukan Outsourcing.

Outsourcing dapat diartikan penggunaan seluruh sumber daya yang ada diluar perusahaan untuk membantu proses produksi didalam sebuah perusahaan. Dengan begitu perusahaan tidak harus mengerjakan seluruh bagian dari proses produksi dan dapat melimpahkan sebagian beban kerja untuk dikerjakan oleh pihak diluar perusahaan. Tujuannya adalah mendapat hasil produksi yang maksimal dengan biaya produksi yang lebih rendah. Penggunaan sistem outsourcing dalam sistem ketenagakerjaan tentu akan semakin mereduksi peran dari kelas pekerja. Di satu sisi, kelas pemilik modal yang diwakilkan oleh perusahaan selalu menginginkan produktivitas  yang tinggi dengan tingkat efisiensi yang tinggi, sementara kelas buruh menginginkan kepastian kerja dan pemenuhan kebutuhan hidup yang layak yang tentunya tidak sejalan dengan prinsip umum ekonomi dan keinginan dari kelas pemilik modal. Hal inilah yang menurut Karl Marx disebut dengan teori Pertentangan Kelas.

Analisis Sistem Outsourcing

Prinsip pelaksanaan sistem outsourcing adalah peningkatan efisiensi dan pengurangan beban kerja. Dengan penggunaan outsourcing, perusahaan dapat menjalankan proses produksi dengan sumber daya dalam jumlah yang seminimal mungkin dan mendapat hasil seoptimal mungkin. Dalam bidang ketenagakerjaan, pihak perusahaan tidak lagi diharuskan untuk merekrut tenaga kerja dalam jumlah yang besar untuk mengerjakan proses produksi di perusahaan, namun dapat melimpahkan hal itu kepada perusahaan penyedia tenaga kerja outsourcing sehingga akan mengurangi biaya yang harus dikeluarkan untuk merekrut tenaga kerja baru. Perusahaan juga diuntungkan dengan tidak mengeluarkan “biaya perawatan” selama pekerja outsourcing tersebut membantu perusahaan untuk menjalankan proses produksinya di dalam perusahaan tersebut.

Sementara efek bagi kelas pekerja dalam penerapan sistem outsourcing ini, kelas pekerja tentu akan semakin termarjinalkan. Hal ini disebabkan karena pekerja akan semakin sulit untuk mengakses perkejaan karena perusahaan hanya memberikan sedikit ruang bagi kelas pekerja untuk menjadi bagian dari perusahaan. Selanjutnya adalah pekerja outsourcing diwajibkan membayar kepada perusahaan penyedia tenaga kerja outsourcing tersebut sebagai bagian dari perjanjian kerja sama yang harus disepakati oleh tenaga kerja. Dan terakhir adalah tenaga kerja outsourcing tidak akan mendapat hak sebagaimana tenaga kerja pada umumnya seperti promosi jabatan, kenaikan upah dan lain sebagainya. Menurut Karl Marx, ketiga hal diatas adalah perwujudan “penghisapan yang dilakukan manusia atas manusia lainnya” karena didalam prinsip masyarakat kapitalis, dengan cara inilah pemilik modal dapat terus bertahan hidup dan bertahan dalam dunia persaingan.

Pandangan Kristiani

Didalam pandangan etika Kristiani juga termuat hal yang menyangkut dengan filsafat materialisme terkait pelaksanaan sistem kerja outsourcing. Dalam surat 2  Tesalonika 3 : 10 dikatakan “jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” Ayat itu menekankan pada pengertian bahwa seseorang  yang ingin mendapat penghasilan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, haruslah ia berusaha menurut kemampuannya. Dalam sistem outsourcing, kelas pemilik modal tidaklah bekerja menurut kemampuannya, namun menerima hasil kerja dari kelas pekerja untuk mendatangkan keuntungan ekonomis hanya karena kelas pemilik modal menguasai relasi produksi akan sarana dan alat produksi  yang tidak dimiliki oleh kelas  pekerja.

 

 

Ditulis oleh: Kristian Sinulingga

Ketua Cabang GMNI Sumedang

Mahasiswa jurusan Administrasi Bisnis Fisip Unpad

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 29, 2014 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters