gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

 Trisakti Tavip Sebagai Jalan Kebangkitan Bangsa

Oleh: Kristian Sinulingga

Sejarah merupakan bagian tak  terpisahkan dari perjalanan suatu bangsa. Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa juga pernah memiliki sejarah panjang sebagai bangsa besar yang ditandai pada era kejayaan Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya. Di sisi lain, Indonesia juga pernah merasakan pahitnya zaman penjajahan sebelum diplokamirkannya Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945. Dinamika sejarah yang dialami oleh Bangsa Indonesia telah memberikan kita pelajaran untuk terus berjuang demi mempertahankan kemerdekaan yang telah kita raih dengan perjuangan yang begitu hebat.

Pasca kemerdekaan Indonesia di tahun 1945, perjalanan Indonesia sebagai negara-bangsa yang merdeka tentu tidaklah mudah. Banyak tekanan dan ancaman dari dunia internasional yang ingin menjajah kembali Indonesia. Namun, Bung Karno sebagai pemimpin bangsa saat itu telah berhasil membawa Bangsa Indonesia keluar dari tekanan untuk terus berjuang mencapai cita – cita sosialisme Indonesia. Salah satu peristiwa sejarah yang penting dalam fase perjalanan Bangsa Indonesia adalah pencetusan Trisakti Tavip dalam pidato presiden pada Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1964 oleh Bung Karno.

Trisakti Tavip adalah konsep pembangunan Indonesia yang dicetuskan oleh Bung Karno untuk membawa Bangsa Indonesia mengarungi masa – masa sulit. Tiga prinsip utama pembangunan dalam Trisakti yang dimaksud adalah berdikari dalam bidang ekonomi, berdaulat dalam bidang politik dan berkepribadian dalam bidang budaya. Tavip merupakan singkatan dari Tahun Vivere Pericoloso, sebuah ungkapan yang berasal dari bahasa Italia yang berarti “hidup secara berbahaya”. Dicetuskannya konsep Trisakti Tavip ini berdasarkan kondisi politik internasional pada saat itu dimana Indonesia sedang berada dalam tekanan internasional,  khususnya negara – negara sekutu yang tidak menyukai kedekatan Indonesia dengan negara – negara blok komunis. Bung Karno menganggap kondisi politik internasional saat itu sangat merugikan Indonesia. Organisasi – orgasnisasi yang mewadahi kepentingan negara – negara dunia seperti PBB, justru hanya dipakai untuk kepentingan negara – negara kapitalis pro sekutu sehingga melalui konsep pembangunan Trisakti Tavip ini, Bung Karno menginginkan Indonesia dapat melanjutkan konsep pembangunan dengan mengedepankan azas kemandirian.

Tiga prinsip utama Trisakti adalah berdikari dalam bidang ekonomi, berdaulat dalam bidang politik dan berkepribadian dalam bidang budaya. Dalam prinsip yang pertama, yang dimaksud dengan berdikari dalam bidang ekonomi menurut Bung Karno adalah kita harus mampu membangun perekonomian kita di atas tumpuan kaki kita sendiri. Bahwa perekonomian nasional harus disusun berdasar pada segala sumber daya yang kita miliki. Kita harus dapat memaksimalkan setiap potensi sumber daya alam untuk dikerjakan oleh setiap sumber daya manusia yang kita miliki demi kepentingan nasional, kepentingannya bangsa dan rakyat Indonesia. Untuk membangun sistem perekonomian nasional yang berdikari juga membutuhkan dana. Dana yang dipakai juga haruslah sebesar – besarnya dari modal yang dimiliki rakyat Indonesia sendiri. Namun, Bung Karno tidaklah anti terhadap bantuan dan modal asing. Selama bantuan dan modal asing tersebut tidak mengikat dan tidak bertentangan dengan politik negara serta dapat digunakan untuk mencapai pembangunan demi kemakmuran rakyat, maka bantuan dan modal asing tersebut dapat kita gunakan untuk ikut membantu pembangunan perekonomian nasional.

Dalam prinsip yang kedua, berdaulat di bidang politik maksudnya adalah agar pemerintah Indonesia memiliki kedaulatan penuh untuk menentukan arah kebijakan politiknya tanpa terikat atau diatur oleh  pihak lain. Kedaulatan pemerintahan untuk menentukan arah kebijakan dan sikap politik tanpa ada intervensi dari pihak manapun akan menunjukkan harkat dan martabat sebagai sebuah negara – bangsa yang besar dan merdeka. Penentuan arah kebijakan yang berdaulat, tentu akan menciptakan suasana politik yang stabil yang akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi rakyatnya. Kebijakan yang dibuat, baik itu kedalam maupun keluar, tentu semata – mata diambil untuk kepentingan bangsa dan negara tanpa kuatir akan tekanan pihak internasional selama kebijakan tersebut tidak melanggar hak dari negara internasional yang lain.

Dan prinsip yang ketiga yaitu berkepribadian dalam budaya. Bung Karno menjelaskan bahwa Indonesia kaya akan ragam budaya yang harus terus digali dan dikembangkan sebagai pondasi pembangunan kita. Masyarakat Indonesia harus bangga dan cinta terhadap budaya tanah airnya sendiri daripada budaya bangsa asing. Jika hal ini terus dijaga maka akan menjadi karakter bangsa. Salah satu ciri budaya masyarakat Indonesia adalah semangat gotong – royong. Bung Karno juga menekankan bahwa gotong – royong yang menjadi akar budaya masyarakat Indonesia harus menjadi karakter budaya bangsa. Pembangunan yang berazaskan semangat gotong – royong tentu sesuai dengan tujuan akhir pembangunan masyarakat Indonesia menuju cita – cita masyarakat sosialis Indonesia.

Inilah tiga prinsip dasar yang dikemukakan Bung Karno dalam Trisakti Tavip untuk menopang pembangunan Indonesia yang mandiri, berdaulat dan berkarakter. Dengan konsep pembangunan Trisakti Tavip ini Bung Karno ingin mengajak seluruh elemen bangsa untuk mengedepankan kepentingan rakyat Indonesia diatas kepentingan bangsa lain. Bahwa tujuan didirikannya Negara Indonesia merdeka adalah untuk membangun masyarakat Indonesia dalam prinsip berkeadilan dimana didalamnya tidak ada penindasan bangsa terhadap bangsa lain, tidak ada penindasan manusia terhadap manusia yang lain.

Relevansi pembangunan masa kini

            Saat ini, sudah 68 tahun sejak diproklamirkannya kemerdekaan Indonesia namun kondisi bangsa Indonesia saat ini masih jauh dari cita – cita masyarakat Indonesia yang merdeka. Dari Orde Lama hingga zaman reformasi saat ini ternyata belum mampu mengangkat harkat dan martabat masyarakat Indonesia sebagai sebuah bangsa besar yang merdeka. Pemerintahan Orde Lama oleh Bung Karno telah merancang konsep pembangunan yang berkeadilan melalui UUPA no 5 tahun 60. Namun, sebelum berhasil dilaksanakan secara masif dan menyeluruh, Bung Karno dilengserkan oleh pelaku sejarah Orde Baru melalui sebuah “kudeta merangkak”. Di era Orde Baru, konsep pembangunan diganti melalui program Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) dengan mengedepankan investasi dan hutang sebagai modal utama pembangunan. Dengan membuka keran liberalisasi segala sektor tanpa batas inilah yang kemudian mengakibatkan Indonesia masuk dalam jebakan hutang tanpa batas seperti hingga saat ini.

Pasca jatuhnya rezim Orde Baru, dimulailah era reformasi untuk melanjutkan cita – cita pembangunan masyarakat Indonesia merdeka. Namun, hingga saat ini, pemerintahan era reformasi belum mampu membawa bangsa Indonesia keluar dari krisis berkepanjangan. Hal ini disebabkan, pemerintahan saat ini tidak memiliki konsepsi pembangunan yang mengedepankan kepentingan rakyatnya. Hampir seluruh bidang pembangunan di Indonesia lebih memihak kepentingan asing daripada kepentingan rakyat sendiri dan juga tidak memiliki landasan keadilan dan semangat gotong – royong. Jika hal ini dibiarkan, Indonesia akan selamanya diatur oleh asing dan pemerintah kita hanya akan menjadi boneka dari negara – negara imperialis.

Saat ini, sudah saatnya kita kembali kepada konsepsi pembangunan Trisakti Tavip Bung Karno. Segala daya upaya yang harus kita lakukan haruslah demi tercapai cita – cita masyarakat Indonesia yang merdeka secara hakiki. Pemerintah kita harus berani untuk mengubah haluan pembangunan kita yang selalu berorientasi hutang dan investasi menjadi semangat ekonomi berdikari, yang mengedepankan sumber daya modal dan sosial yang berasal dari kekuatan dalam negeri sendiri. Arah kebijakan dan sikap politik kita harus diambil dalam kerangka kepentingan nasional, bukan atas arahan dan desakan pihak asing yang ingin mendikte kebijakan pemerintah kita melalui lembaga internasional yang jelas – jelas hanya menguntungkan sekelompok kecil negara yang memiliki kuasa terhadapnya. Dan yang terakhir, setelah kita mampu meletakkan kepentingan rakyat diatas kepentingan asing, maka pembangunan harus dilaksanakan atas budaya masyarakat Indonesia dengan semangat gotong – royong.

Tahapan dari tujuan negara Indonesia merdeka menuju masyarakat sosialis Indonesia adalah pembebasan nasional, lalu berlanjut pada tahap pembangunan masyarakat nasional demokratis dan yang terakhir adalah tercapainya masyarakat sosialis Indonesia. Saat ini, kita masih berada pada tahapan fase pertama, yaitu pembebasan nasional. Untuk melaksanakan tahapan ini, kita harus menyusun seluruh kekuatan revolusioner untuk mendobrak sistem saat ini yang sudah jauh menyimpang dan mengembalikan kepada semangat awal proklamasi. Kita harus merubah tatanan masyarakat kapitalis saat ini menjadi sistem yang lebih manusiawi dengan prinsip gotong – royong melalui instrumen konstitusi. Salah satunya adalah dengan melaksanakan TAP MPR No. 9 tahun 2001. Selanjutnya adalah tahapan pembangunan masyarakat nasional demokratis dimana pembangunan harus dilaksanakan berdasar dua tahapan, yaitu pembangunan manusia yang nantinya akan menjadi modal sosial untuk melaksanakan tahapan kedua, yaitu pembangunan fisik, yaitu pembangunan sarana dan prasarana untuk menunjang aktivitas produksi dalam sistem berbangsa dan bernegara. Jika seluruh sistem sudah bekerja sesuai dengan prinsip yang ada, maka ini akan menjadi dasar untuk tercapainya masyarakat sosialis Indonesia.

 

Penulis adalah Ketua DPC GMNI Sumedang periode 2012-2014

Mahasiswa Administrasi Bisnis, Universitas Padjadjaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 25, 2014 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters