gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Membedah Keberpihakan Media Massa

Media massa atau mass media menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sarana dan saluran resmi sebagai alat komunikasi untuk menyebarkan berita dan pesan kepada masyarakat luas. Secara umum kita kenal media massa terbagi kedalam berbagai macam bentuk, seperti televisi, surat kabar, media online, radio, majalah dan sebagainya. Sejatinya, banyak media massa  merupakan sarana dan prasarana bagi publik. Tujuan utama media adalah mencerdaskan kehidupan bangsa seperti termaktub dalam Preambule UUD 1945. Selain itu, media yang menggunakan frekuensi negara sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Pasal 33, tersirat bahwa penggunaan maupun pengelolaan aset negara harus mempunyai persetujuan negara. Maupun dalam UUD 1945 Pasal 28 juga memperkuat posisi media massa saat ini, dimana rakyat memperoleh hak mendapat informasi dan mengeluarkan pikiran.

Pada masa Bung Karno, media dijadikan alat propaganda subordinasi Presiden. Bagi Bung Karno media dijadikan api pembakar revolusinya Indonesia. Kala itu, Indonesia menghadapi ancaman dari Blok Barat dan Blok Timur dalam Perang Dingin. Kepentingan asing adalah menjatuhkan Soekarno bagaimanapun caranya, terkhususnya lewat media. Masa jatuh-bangun yang dialami masa Bung Karno dan parlemen kala itu tak lepas dari intervensi asing untuk menjatuhkan Bung Karno. Maka dari itu, Bung Karno membatasi media massa sebagai salah satu pintu masuk Imperialisme Barat masuk ke negara baru kala itu.

Setelah Soekarno ditumbangkan oleh rezim Orde Baru, didalangi Soeharto. Rezim Orba berhasil membuat media dibredel sebagai bentuk ancaman penguasa Jenderal Soeharto. Pers dan kebebasan mengeluarkan pikiran, gagasan, maupun aksi sangat ditentang oleh Soeharto. Bagi Soeharto media dapat menganggu stabilisasi politik nasional yang merupakan celah kehancuran rezim Orba. Hingga akhirnya Mei 1998 Soeharto berhasil ditumbangkan sebagai bentuk perlawanan rakyat dan menjadi awal kebangkitan media massa saat ini.

Era reformasi sebagai kritik terhadap rezim orba melahirkan beberapa agenda besar, termasuk didalamnya mengenai kebebasan pers. Kebebasan pers adalah cikal bakal lahirnya menjamurnya media massa saat ini. Di alam demokratisasi yang cenderung liberal saat ini memudahkan akses modal masuk. Melalui berbagai peraturan perundang-undangan yang memudahkan investasi masuk dan agenda swastanisasi aset negara. Kebebasan pers di alam demokrasi liberal saat ini menyimpang jauh dari cita-cita bangsa saat ini dan UUD 1945. Frekuensi negara yang harusnya dikelola untuk kemakmuran rakyat malah dijual dan bangkrut. Pengelolaan negara yang sangat kendor dalam menjaga instabilitas politik nasional menjadi perkara buruk bagi kehidupan berbangsa dan negara. Fatalnya, dapat berdampak pada konflik horizontal dalam mencerna informasi dari media massa tersebut.

9 Juli mendatang kita akan menghadapi pemilihan presiden dimana ada dua kandidat yang saling bertarung memperebutkan kursi tertinggi di Republik Indonesia. Menarik untuk membedah kepentingan media saat ini dalam mensuksesan capres-cawapres terutama dalam mempengaruhi publik. Dalam momen pilpres ini media bukan hanya untuk meningkatkan popularitas maupun elektabilitas semata. Ada agenda besar bagaimana media saat ini dengan “dengan sengaja” menggiring opini publik dan menjadikan sebuah kebenaran publik.

Beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dalam memahami kepentingan media saat ini. Pertama adalah aktor politik yang punya kuasa terhadap media massa. Media massa sarat dengan modal yang dibiayai oleh individu maupun segelintir pihak. Dengan mengetahui aktor politik dan kepentingan dalam pilpres 2014 maka kita akan dapat mengetahui arah keberpihakan media.

Kedua adalah penggunaan bahasa yang digunakan dalam memuat berita maupun informasi. Selayaknya alat agitasi dan propaganda, bahasa punya pengaruh besar dalam memahami tujuan dan kepentingan media. Penggunaan bahasa baik lisan maupun tulisan yang digunakan menjadi acuan utama mengetahui alam pemikiran sumber berita dalam media massa. Dalam momen pilpres saat ini, publik disibukkan dengan serangan politik, black campaign, maupun kabar angin yang akan mempengaruhi penggunaan bahasa dalam media massa tersebut.

Ketiga adalah mengetahui tujuan politik dari media massa. Tujuan politik adalah alur akhir dari tujuan media massa yang disebarluaskan. Dengan mengetahui tujuan politik media massa, publik dapat mengambil sikap dan tidak menelan mentah informasi media massa. Beberapa pekan lalu, publik diresakan akan kehadiran Tabloid Obor yang dengan secara langsung menyerang salah satu pasangan calon presiden. Tujuan politik dari tabloid obor adalah bentuk black campaign atau kampanye hitam yang validitasnya masih diragukan. Dengan mengetahui tujuan politik dari tabloid obor tersebut, publik secara tidak langsung rakyat tercerdaskan. Tujuan media massa sangat beraneka ragam, seperti meningkatkan popularitas dan elektabilitas, melakukan serangan balik, hak klarifikasi individu/kelompok, pencerdasan politik, penanaman nilai, dan lain sebagainya. Dengan mengetahui arahan dari pemuatan atau penyiaran informasi kita tahu lebih dulu dalam memaknai sebuah informasi.

Dalam situasi saat ini, sangat penting bagi publik untuk menilai dan mencerna informasi lebih tajam dan kritis. Penyebarluasan informasi yang tidak valid maupun palsu dari sebuah media massa dapat berakibat fatal dengan terjadinya konflik horizontal. Menuju pilpres dalam hitungan hari mendatang, sudi kiranya publik menyadari peranan media massa dan tokoh presiden mendatang.

 

Trianda Surbakti

Wakabid Agitasi dan Propaganda DPC GMNI Sumedang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 20, 2014 by in Semua untuk Semua.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters