gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Pemikiran dan Pergerakan Mas Marco

Oleh: Kristian Sinulingga

Bernama lengkap Marco Kartodikromo, ia lahir di Cepu pada awal tahun 1890-an. Ia dilahirkan dari seorang ayah yang berkedudukan sebagai “priyayi rendahan” yang hidup dari bertani. Sosok yang kerap dikenal dengan sebutan Mas Marco ini pada masa kecil sempat mengecap pendidikan dunia barat di Sekolah Dasar Umum Angka Dua di Bojonegoro, namun karena dilahirkan dari keluarga kecil, Mas Marco tidak dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Pada awal tahun 1905, Mas Marco bekerja menjadi juru tulis Dinas Kehutanan. Namun tak lama  setelahnya, ia pindah ke Semarang dan bekerja sebagai juru tulis di kantor pemerintah. Disana, ia belajar bahasa Belanda dari seorang Belanda. Setelah pandai bebahasa Belanda, pada tahun 1911 ia kemudian pindah ke Bandung. Pada saat di Bandung adalah kali pertama Mas Marco bergabung dengan sebuah penerbitan Surat Kabar Medan Priyayi pimpinan Tirto Adi Suryo. Dari perjumpaan dengan Tirto Adi Suryo kemudian Mas Marco banyak belajar tentang ilmu jurnalistik dan pengetahuan tentang organisasi modern. Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal perjuangan Mas Marco.

Pergerakan Mas Marco

Awal mula perjuangan Mas Marco dimulai tatkala ia mulai mengenal media pers dan menjadi pembantu redaktur majalah Medan Priyayi di Bandung pada tahun 1911. Ia banyak  belajar tentang jurnalistik dan juga tentang organisasi modern dari pimpinan surat kabar tersebut, Tirto Adi Suryo, yang dianggapnya sebagai gurunya. Namun, 2 tahun setelahnya, Medan Priyayi yang saat itu merupakan surat kabar dengan oplah terbesar di kalangan masyarakat pribumi, mengalami kebangkrutan. Tak lama setelah itu, Tirto Adi Suryo yang menjadi pimpinan surat kabar Medan Priyayi juga dibuang ke Maluku oleh pemerintah kolonial Belanda.

Awalnya Mas Marco sempat mengalami kemunduran semangat karena peristiwa tersebut, namun dia kembali bangkit dan kemudian melanjutkan perjuangan dengan mendirikan surat kabar sendiri bernama “Dunia Bergerak” pada tahun 1914. Melalui surat kabar ini, Mas Marco dengan lugas dan lantang menyuarakan kritik terbuka terhadap struktur dan tatanan masyarakat yang dibangun oleh pemerintah kolonial. Dalam beberapa artikelnya, ia berani menyuarakan ketidakbenaran yang dipraktikkan oleh pemerintah kolonial. Akibat tulian – tulisannya tersebut, ia kemudian disidang di pengadilan Belanda dan dikenai tuduhan persdelicten (delik pers) untuk pertama kalinya dan kemudian mendapat sanksi hukuman penjara selama 8 bulan (Juli 1915 – Maret 1916).  Di depan sidang pengadilan tesebut ia terus saja berseru “Saya berani bilang, selama kalian, rakyat Hindia, tidak punya keberanian, kalian akan terus diinjak – injak dan hanya menjadi seperempat manusia!!!”. Sebuah semangat awal yang mengobarkan nasionalisme bagi rakyat pribumi.

Setelah keluar dari penjara di Semarang, Mas Marco kemudian melanjutkan perjuangan dengan  bergabung dengan surat kabar “Pantjaran Warta” pimpinan R. Goenawan.  Setahun disana, Mas Marco kemudian kembali dipenjara karena tulisan – tulisannya yang dianggap menghasut masyarakat pribumi dan menebar kebencian masyarakat pribumi terhadap pemerintahan kolonial. Setelah keluar dari penjara, Mas Marco kemudian bergabung lagi dengan surat kabar “Sinar Djawa” milik Sarekat Islam Semarang yang berhaluan sosialis. Disini ia bertemu dengan Semaun dan Darsono. Disini Mas Marco menulis berbagai macam artikel sampai menerbitkan karya sastra berupa roman yang berisi semangat perlawanan terhadap penjajahan kolonial. Akibat tulisan – tulisannya yang selalu mengkritik pemerintahan kolonial, keluar – masuk penjaran menjadi rutinitas yang selalu dijalani Mas Marco dengan kepala tegak.

Selain aktif dalam kehidupan pers dan karya sastra, hal lain yang dilakukan oleh Mas Marco setelah keluar dari penjara adalah ikut aktif dalam organisasi Syarekat Islam di Surakarta pada tahun 1924. Disini ia berkenalan dengan seorang muslim komunis bernama Haji Misbach. Perkenalannya pada Haji Misbach menjadi dasar perkenalan Mas Marco dengan ajaran komunis. Saat Haji Misbach dibuang ke Manokwari akibat perlawanan kelompok radikal kiri terhadap pemerintah kolonial, Mas Marco yang kemudian mengambbil alih Syarikat Islam yang berpaham  komunis dan juga menjadi tokoh penting dalam organisasi PKI. Namun hal ini tak bertahan lama  karena setahun kemudian, pemerintah kolonial Belanda kembali menangkap Mas Marco akibat dituduh bersekongkol dengan kelompok radikal yang merancang pemberontakan yang gagal di tahun 1926.

Setelah ditangkap dan diadili, Mas Marco kemudian dibuang ke  kamp pengungsian di Boven Digul. Disana ia menjalani kehidupan yang sulit dan serba kekurangan karena saat itu Boven Digul baru pada tahap awal pembangunan sebagai sebuah kamp pembuangan para aktivis dan pejuang yang melawan pemerintahan kolonial. Mas Marco tak pernah surut semangat perjuangannya dan selalu mengobarkan semangat perlawanan dengan sesama kawan pengungsi di Boven Digul. Namun, semangat perjuangan Mas Marco akhirnya harus berakhir disana karena kondisi alam yang tak kondusif mengakibatkan ia meninggal disana dalam kondisi sakit malaria.

Perjuangan Mas Marko  dalam membela  kaum pribumi dari penindasan pemerintahan kolonial adalah semangat awal nasionalisme yang anti terhadap penjajahan dan menginginkan kemerdekaan atas hak dan perlakuan yang sama. Salah satu karya Mas Marco yang mengungkapkan hal itu ditulis dalam karyanya “Sama Rata Sama Rasa”. Ia salah satu peletak dasar nasionalisme yang dibangun melalui tulisan dan karyanya semasa memperjuangkan perbaikan nasib rakyat Indonesia yang ditindas oleh pemerintah kolonial Belanda.

 

Penulis adalah Ketua DPC GMNI Sumedang periode 2012-2014

Mahasiswa Administrasi Bisnis, Universitas Padjadjaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 10, 2014 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters