gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Marxisme dan Nasionalisme

Oleh: Kristian Sinulingga

Ideologi adalah seperangkat sistem nilai yang dianut oleh manusia yang menjadi landasan berpikir untuk menjawab segala permasalahan umat manusia. Salah satu ideologi besar yang pernah ada untuk menjawab tantangan dari paham ideologi liberalisme/kapitalisme adalah marxisme. Marxisme adalah seperangkat sistem nilai perlawanan yang dihasilkan dari buah pikir Karl Marx untuk melawan sistem penindasan yang dilahirkan oleh sistem kapitalisme. Marxisme mempertentangkan adanya kelas yang terbangun oleh sistem kapitalisme yang melahirkan penguasaan relasi produksi oleh segelintir kelas pemilik modal dan mengalienasi kelas pekerja (proletar). Menurut Karl Marx, adanya pembagian kelas berdasarkan relasi produksi tersebut akan menimbulkan penghisapan oleh kelas pemilik modal terhadap kelas proletar melalui teori “nilai lebih” yang hanya akan menguntungkan kelas pemilik modal. Marxisme menuntut perjuangan kelas untuk mendapatkan penguasaan terhadap alat dan sarana produksi agar setiap orang mendapat hak yang sama untuk bekerja dan menghasilkan nilai ekonomis dari setiap usahanya. Tahapan terakhir yang ingin dicapai dari marxisme adalah komunisme.

Marx membangun konsep gagasannya diatas landasan pemikiran 2 filsuf besar, yaitu Hegel dan Feurbach. Hegel yang terkenal dengan filsafat idealisme dan Feurbach dengan filsafat materialisme dijadikan Karl Marx sebagai landasan perjuangan. Marx juga membuat konsep bangunan atas dan bangunan bawah untuk menjelaskan corak hubungan yang terjadi dalam struktur masyarakat. Marx menjelaskan bahwa bangunan atas yang terdiri atas ideologi, politik, sosial – budaya, agama, seni dan sebagainya, akan ditentukan oleh bangunan bawah yaitu ekonomi. Jadi, struktur ekonomi yang akan menentukan ideologi, politik dan agama yang menjadi bangunan atas dalam struktur masyarakat tersebut. Jadi, untuk melakukan perubahan mendasar dalam setiap struktur, harus dimulai dengan merubah corak ekonomi yang ada didalam struktur masyarakat tersebut.

Sejarah perkembangan manusia menurut Karl Marx dimulai dari masyarakat komunal primitif digantikan masyarakat zaman perbudakan. Zaman perbudakan kemudian berkembang menjadi masyarakat feodal. Zaman feodal mendapat perlawanan dari kelas borjuis melahirkan zaman masyarakat kapitalistik. Dari masyarakat kapitalistik akan melahirkan masyarkat sosialis dan akhirnya terbentuknya tatanan masyarakat komunal modern. Menurut Karl Marx, ini adalah sebuah keniscayaan sejarah. Namun, hingga saat ini, struktur masyarakat kapitalis ternyata tidak pernah beranjak menuju masyarakat sosialis. Ramalan Karl Marx  mengenai kapitalisme yang akan runtuh oleh gelombang massa kaum proletar yang semakin tertindas dalam sistem monopoli kapitalistik ternyata tidak terbukti. Dan buruh sebagai aktor perjuangan untuk mendobrak sistem ekonomi kapitalistik yang menindas, ternyata tidak melakukan revolusi perjuangan seperti yang diramalkan oleh Karl Marx.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah “mengapa ramalan revolusi yang dicanangkan oleh Marx tak terwujud? Adalah Gyorgy Lukacs yang memberi sudut pandang tajam persoalan tersebut. Menurutnya, revolusi tidak terjadi dalam hubungan sosial ekonomis masyarakat kapitalis karena Marx lupa pada “proses reifikasi”. Reifikasi adalah proses menumpulnya kesadaran kelas buruh karena perlakuan impersonal yang mereka terima selama bekerja bagi perusahaan – perusahaan kapitalis. Untuk menjawab persoalan ini, Lukacs mencoba memberi solusi agar kesadaran kritis kaum buruh kembali dibangkitkan dan ditingkatkan. Pola ini kemudian dikebangkan menjadi model pendidikan penyadaran oleh Paulo Freire dengan sistem pendidikan pedagogi.

Dengan kesadaran kritis yang dimiliki oleh kaum buruh, diharapkan proses perjuangan kaum buruh (proletar) akan menghasilkan revolusi seperti yang diramalkan oleh Marx. Namun, revolusi proletarian juga harus memenuhi beberapa unsur yaitu organisasi, pemimpin dan kerangka aksi sebagai pedoman dan penggalang kekuatan revolusioner.

Konsep kesadaran kritis yang dibangun oleh Lukacs diharapkan mampu membawa perubahan tingkat kesadaran kaum buruh. Dimulai dari dari perubahan kesadaran intransitif dimana setiap orang paham akan konsep perubahan yang belum memiliki objek. Selanjutnya kesadaran intransitif diharapkan mampu ditingkatkan menjadi kesadaran transitif dimana tumbuh niat dari kaum buruh sebagai objek perubahan untuk melakukan perubahan tersebut dan pada tingkatan akhir menjadi kesadaran transformatif, yaitu buruh sebagai  subjek yang akan melakukan perubahan tersebut. Menurut Pusat Studi Sosial Frankfurt, teori kritis seharusnya memberi fungsi teori – teori terhadap perjuangan emansipasi manusia. Namun,yang harus diingat adalah tidak ada teori yang bebas nilai. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh Marx berdasar konsep bangunan atas dan bangunan bawah. Jadi, ilmu pengetahuan yang menjadi basis dari teori adalah bangunan atas yang akan ditentukan oleh basis material ekonomi. Oleh karena itu, apapun yang menjadi basis ekonominya, akan sangat menentukan teori dan ilmu pengetahuan yang berkembang. Hal inilah yang nantinya akan berkembang menjadi “dilema rasionalitas”.

Dilema rasionalitas adalah sebuah keadaan dimana rasional berpikir manusia menganggap bahwa teori yang diciptakan manusia bebas nilai dan hanya ditujukan untuk kepentingan perkembangan ilmu pengentahuan. Rasionalitas yang dianggap bebas nilai tersebut justru sarat akan kepentingan. Dalam struktur masyarakat kapitalis saat ini, rasionalitas manusia menganggap bahwa manusia khususnya kelas pekerja ditempatkan sebagai bagian dari objek komoditi. Namun, hal ini dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan kita justru menempatkan kapitalisme bukan sebagai musuh sejarah, tapi bagian  dari proses aufklarung (pencerahan). Hal ini lah yang menjadi dilema karena menurut Marx, kapitalisme justru adalah sistem yang harus segera digantikan karena adanya proses penindasan dan penghisapan terhadap kelas proletar.

Dilema rasionalitas tentu dapat dilawan dengan rasionalitas kritis. Rasionalitas kritis adalah kondisi dimana kita bukan “mengiyakan keadaan”, namun “mempertanyakan keadaan”. Melalui rasionalitas kritis, kita diajak untuk terus bersikap skeptis dan mempertanyakan setiap kondisi yang terjadi dengan analisa Marxisme dan menolak segala sikap yang diambil hanya berdasarkan like and dislike terhadap keadaan tanpa mempertanyakannya kembali melalui proses deduksi – induksi.

Selain Marxisme, adalah Nasionalisme merupakan paham yang berkembang di Indonesia. Soekarno adalah salah satu penggagas konsep nasionalisme ala Indonesia. Bung Karno mengambil intisari nasionalisme yang diajarkan oleh Otto Bauer dan Ernest Renan. Bahwa nasionalisme Indonesia adalah yang rasa cinta terhadap tanah air, yang didasarkan pada kesatuan wilayah dan adanya rasa bersama untuk mewujudkan suatu bangsa. Hal inilah yang menjadi dasar nasionalisme kita. Bahwa nasionalisme Indonesia bukanlah didasarkan pada kesamaan suku, agama, ras, warna kulit, namun dalam perbedaan tersebut kita mampu menyatukan diri dalam bingkai kebhinekaan (persatuan).

Semangat nasionalisme Indonesia juga digali Bung Karno dari culture dan nature nya Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, nasionalisme Indonesia sangat cocok untuk diterapkan di Indonesia. Semangat nasionalisme yang cinta terhadap kemanusiaan. Bukan semangat nasionalisme yang chauvinis, atau djenggo nasionalisme ala Inggris yang saling serang untuk mencapai kebutuhan negara sendiri. Semangat nasionalisme yang didasari oleh budaya masyarakat yang akan menjaga elan persatuan Indonesia sebagai sebuah bangsa yang besar.

 

Penulis adalah Ketua DPC GMNI Sumedang periode 2012-2014

Mahasiswa Administrasi Bisnis, Universitas Padjadjaran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 10, 2014 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters