gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Genealogi Pemikiran Pendiri Bangsa

Oleh: Kristian Sinulingga

Genealogi dapat diartikan menurut 2 pengertian, yaitu pengertian secara konvensional dan pengertian menurut Foucault. Genealogi menurut pengertian konvensional dapat diartikan sebagai studi mengenai evolusi dan jaringan dari sekelompok orang sepanjang beberapa generasi secara kontiniu. Konsep genealogi ini berguna untuk  melihat  gerak perkembangan diakronik dan rantai intelektual dari generasi ke generasi. Sedangka genealogi menurut pengertian Foucault berarti melihat bagian dari  sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini. Dalam hal ini, genealogi berperan untuk mempelajari gerak sinkronik dari fase sejarah yang bertalian untuk saling dihubungkan dalam sebuah gerak perkembangan historis.

Untuk menjelaskan proses lahirnya kaum intelegensia di Indonesia yang pada fase berikutnya akan melahirkan tokoh – tokoh pemikir yang dianggap sebagai pendiri bangsa, harus dimulai dari penjelasan tentang sejarah globalisasi. Globalisasi dapat dibagi dalam 3 fase sejarah yaitu archaic globalisasi, proto globalisasi dan modern globalisasi. Archaic globalisasi dimulai jauh sebelum abad masehi. Pada tahapan ini, masyarakat nusantara sudah dikenal sebagai pelaut yang ulung. Masyarakat nusantara memiliki kemampuan untuk berlayar sampai ke Madagaskar dan melakukan proses perdagangan. Pada saat itu, masyarakat dunia mengenal nusantara sebagai pusat produksi rempah – rempah. Dunia memerlukan melakukan perdagangan dengan masyarakat nusantara untuk mendapatkan rempah – rempah yang berasal dari nusantara. Posisi nusantara yang berada pada jalur khatulistiwa juga memberi keuntungan bahwa nusantara pernah menjadi lokasi pertemuan berbagai kebudayaan besar dunia.

Selanjutnya adalah tahapan proto  globalisasi. Proto globalisasi dimulai pada pertengahan abad 15 sekitar tahun 1492 ketika dimulainya abad penemuan (the ages of discoveries). Pada zaman  ini, negara – negara khususnya Eropa dan Amerika mendapat kebesaran dan kemasyuran karena penemuan mesin – mesin yang membantu perkembangan peradaban umat manusia. Abad penemuan menjadi tonggak sejarah yang penting bagi perkembangan sejarah perkembangan umat manusia karena merubah hampir seluruh corak dan struktur relasi produksi. Hal ini yang juga kemudian mendorong terjadinya revolusi Prancis yang merubah struktur pemerintahan di negara tersebut. Revolusi Prancis menjadi awal terjadinya revolusi demokratik di dunia. Abad penemuan juga ditandai oleh revolusi industri yang terjadi di Inggris. Terjadinya revolusi industri di Inggris mendorong negara tersebut untuk berekspansi ke seluruh penjuru dunia untuk memasarkan produk – produk industri negara tersebut. Ekspansi Inggris untuk mendapatkan keuntungan ekonomis kemudian diikuti oleh negara – negara Eropa lain seperti Spanyol dan Portugis untuk mendapatkan daerah – daerah jajahan demi keuntungan ekonomis bagi negara tersebut.

Ekspansi inilah yang kemudian melahirkan sistem penjajahan, termasuk di nusantara (yang saat ini dikenal sebagai Indonesia). Negara – negara penjajah seperti Spanyol, Portugis hingga Belanda pernah menjajah Indonesia silih berganti. Namun, penjajahan yang paling lama dan keji adalah yang dilakukan Belanda. Corak penjajahan yang dilakukan Portugis dan Spanyol hampir sama, yaitu menguasai dan memonopoli perdagangan masyarakat Indonesia, khususnya terkait perdagangan rempah – rempah. Namun, berbeda halnya dengan yang dilakukan Belanda. Karena pada dasarnnya Belanda adalah sebuah negara kecil dan miskin, maka corak penjajahan yang dilakukan Belanda adalah mengeruk seluruh kekayaan alam yang ada di Indonesia. Dan untuk melakukan seluruh tugas pengerukan sumber daya alam tersebut, tenaga kerja yang dipergunakan adalah rakyat Indonesia yang dijadikan budak  oleh  penjajah Belanda pada saat itu. Inilah yang mengakibatkan penderitaan masyarakat Indonesia pada saat itu menjadi semakin dalam. Tanahnya dirampas, dan tenaganya harus diberikan demi kepentingan Belanda.

Penjajahan Belanda adalah corak penjajahan kapitalisme ortodoks dimana Belanda mengeruk Sumber daya alam dan juga memperbudak rakyat Indonesia untuk melakukan kerja paksa demi mengisi kas negara Belanda. Pemerintahan Belanda bekerja sama dengan para raja – raja kecil di Indonesia untuk memperbudak bangsanya sendiri. Karena  kewenangan tanpa batas yang dimiliki oleh Belanda demi keuntungan mereka, banyak masyarakat Belanda yang ikut pindah ke Indonesia beserta sanak keluarga. Untuk itu, diperlukan dibangun sekolah – sekolah dan berbagai fasilitas yang diperlukan untuk menunjang pendidikan anak – anak dari keluarga Belanda yang ada di Indonesia. Mulai saat itu di Indonesia dikenal pendidikan ala Eropa.

Saat Bangsa Indonesia mulai mengenal pendidikan ala Eropa, hanya sedikit sekali rakyat Indonesia yang dapat  mengenyam pendidikan tersebut, diantaranya adalah anak dari pangreh praja atau bupati atau petinggi – petinggi dan raja – raja kecil pada saat itu. Beberapa diantaranya yang beruntung adalah HOS Cokroaminoto, Agus Salim, Samanhudi dan teman – teman yang lain. Inilah yang kemudian dikenal sebagai kaum intelegensia generasi pertama di Indonesia. Beberapa sekolah yang didirikan di Indonesia adalah Kwekschool (sekolah guru), OSVIA, Sekolah dokter jawa dan HBS. Berkat pendidikan yang diberikan Belanda kepada kaum pribumi  pada saat itu, akhirnya melahirkan intelektual – intelektual muda kaum pribumi.

Masyarakat pribumi yang pada saat itu mendapat kesempatan untuk bersekolah, kemudian melahirkan lulusan – lulusan dari sekolah guru yang memiliki intelektualitas tinggi. Namun, mereka yang menjadi lulusan sekolah guru tersebut ternyata tidak mendapatkan pengakuan sebagai kelas “priyayi tinggi” bagi masyarakat pribumi yang lain dann ternyata juga tidak diterima oleh masyarakat Eropa. Hal ini menimbulkan perlawanan dari kelompok intelegensia ini terhadap kaum pribumi yang mengedepankan “bangsawan usul” dan juga perlawanan terhadap bangsa Eropa yang merendahkan status dan martabat kaum guru tersebut hanya karena berasal dari kaum pribumi.

Kondisi kaum pribumi pada saat itu sungguh menderita. Hal ini menimbulkan belas kasihan dari sebagian rakyat Belanda yang tergabung dalam kelompok politik sayap kanan Belanda yang mendesak Ratu Belanda untuk membalas kebaikan masyarakat Indonesia. Hal ini yang kemudian dikenal sebagai lahirnya era Politik Etis (The Debt of Honour) yang dipimpin oleh Partai Kristen Belanda pada tahun 1900. Politik Etis yang dikemukakan oleh Multatuli pada saat itu menghendaki Bangsa Belanda memberikan pendidikan yang setimpal dan merata bagi seluruh bangsa Indonesia. Era Politik Etis ini kemudian melahirkan kaum  intelegensia generasi kedua di Indonesia seperti Soekarno, Hatta, Natsir, Syahrir dan kawan – kawan intelektual muda yang dikemudian hari dikenal sebagai Pejuang dan Pendiri negara Indonesia merdeka.

Perjuangan kaum intelegensia Indonesia generasi kedua tersebut setelah politik etis mendapat kemudahan dalam mengakses pendidikan Eropa. Namun, masih  terdapat perbedaan dan diskriminasi yang diberikan terhadap kaum pribumi dari orang Belanda asli. Hal tersebut tidak menyurutkan niat dan tekad dari kaum intelegensia muda tersebut untuk mendapat pendidikan yang tinggi dari Eropa yang nantinya akan dipergunakan untuk melawan Belanda dan mengusir Belanda dari tanah air Indonesia.

 

Penulis adalah Ketua DPC GMNI Sumedang periode 2012-2014

Mahasiswa Administrasi Bisnis, Universitas Padjadjaran

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 10, 2014 by in Suara Umum.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.453 pengikut lainnya

Visitors

free counters