gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Ledakan Elpiji Dan Sentralisasi Kewenangan

Lima tahun sudah konversi minyak tanah ke gas dicanangkan pemerintah, tetapi ledakan tabung gas elpiji 3 kilogram (3 kg) hingga kini masih menjadi momok menakutkan bagi rakyat miskin. Terakhir, Kamis kemarin (15/11/2012), terjadi ledakan tabung gas elpiji 3 kg di Kampung Parung Jambu, Bogor, Jawa Barat, yang melukai tiga orang. Sementara minggu lalu juga terjadi ledakan tabung elpiji 3 kg di Kecamatan Mangkutana, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, yang menghanguskan sedikitnya delapan kios milik warga di Kecamatan tersebut.

Berbagai kasus ledakan itu menunjukkan masih minimnya jaminan keselamatan bagi pengguna elpiji 3 kg yang mayoritas warga miskin. Setelah ‘dipaksa’ menggunakan gas elpiji 3 kg sebagai pengganti minyak tanah melalui program konversi yang dicanangkan pemerintahan SBY-JK tahun 2007 lalu, rakyat miskin harus menghadapi tantangan lain yang merupakan dampak tak langsung dari program konversi, yakni ancaman ledakan tabung gas.

Data Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) menunjukkan, sampai tahun 2010 saja telah terjadi ledakan tabung gas sebanyak 189 kasus, dengan perincian: tahun 2008 terjadi 61 kasus, tahun 2009 terjadi 50 kasus, dan 79 kasus terjadi pada tahun 2010. Rentetan kasus ledakan tabung gas 3 kg tersebut telah membuat sebagian rakyat miskin ketakutan menggunakan gas elpiji 3 kg dan memilih beralih ke minyak tanah. Namun, minyak tanah pun kini sangat sulit diperoleh karena sudah ditarik oleh pemerintah dalam skala besar sebagai bagian dari program konversi. Kalaupun stok minyak tanah masih ada di pasaran, harga per liternya sangat mahal (bisa mencapai 8.000-10.000 rupiah per liter). Maka, banyak pula masyarakat miskin yang akhirnya harus kembali ke pola hidup masa lalu, yakni menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar memasak.

Kenyataan sulit yang dihadapi rakyat miskin tersebut harus mendapat perhatian serius pemerintah dan Pertamina. Sejauh ini, respon pemerintah hanya bersifat normatif saja. Belum ada perubahan mendasar yang dilakukan pemerintah, dan juga Pertamina sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan ini.

Pertamina sendiri telah menyatakan kesiapannya untuk mengambilalih kendali program konversi minyak tanah ke elpiji 3 kg serta tata niaga tabung 3 kg. Menurut Dirut Pertamina Karen Agustiawan, saat ini terdapat tabung elpiji 3 kg yang tidak memenuhi standar nasional Indonesia (SNI). Tetapi yang menjadi problemnya Pertamina tidak memiliki kewenangan untuk menarik tabung gas 3 kg dari peredaran karena hal itu merupakan kewenangan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) seperti yang telah diatur dalam Peraturan Menteri (Permen) Perindustrian No 85 tahun 2008. Sementara kewenangan Pertamina ialah melakukan pengadaan tabung gas elpiji 3 kg, mendistribusikan paket perdana elpiji 3 kg, pengisian ulang produk elpiji 3 kg serta suplai dan distribusi elpiji 3 kg kepada pihak agen.

Pada bagian sosialisasi, pengawasan serta verifikasi penyediaan dan distribusi tabung elpiji 3 kg menjadi tugas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Namun, realitas yang ada menunjukkan tugas dan tanggung jawab yang dimiliki masing-masing instansi pemerintah tidak dijalankan secara optimal. Bahkan cenderung ada kesan pemerintah melepas tanggung jawabnya dalam hal pengadaan paket tabung gas serta pengawasan distribusinya kepada pihak swasta yang berorientasi profit. Maka, ketika hal itu terjadi, keuntungan sebesar-besarnya lah yang menjadi tujuan utama dari implementasi kebijakan konversi ini, bukannya keselamatan dan kenyamanan rakyat miskin sebagai pengguna tabung gas 3 kg.

Serangkaian kesalahan implementasi kebijakan tersebut juga membuka peluang bagi para “pebisnis liar” untuk memancing di air keruh dengan memproduksi tabung gas palsu beserta kompor dan regulatornya. Seperti yang dikemukakan oleh Badan Standarisasi Nasional (BSN) bahwa 20 persen regulator dan 50 persen kompor gas yang beredar tidak memenuhi mutu SNI karena disinyalir palsu.

Dibutuhkan perubahan mendasar dalam tataran implementasi dari kebijakan konversi ini. Pemerintah maupun Pertamina perlu memperkuat kontrolnya atas pengadaan tabung gas 3 kg beserta kompor, regulator dan selangnya, serta mengawasi secara ketat distribusinya. Menurut penulis, lebih baik distribusi, pengawasan, sosialisasi maupun penarikan tabung bermasalah dilakukan oleh satu instansi teknis, dalam hal ini Pertamina. Hal ini guna memperkuat kontrol Pertamina atas distribusi maupun penggunaan produknya sendiri.

Selain itu, distribusi dan kontrol secara terpusat juga diperlukan guna menghilangkan mis-koordinasi antar institusi seperti yang kerap terjadi selama ini, sehingga gagal  mengatasi lemahnya komitmen pihak swasta dalam memproduksi paket tabung gas 3 kg yang aman digunakan rakyat. Manfaat lainnya adalah kontrol ketat dari Pertamina juga dapat menutup peluang permainan para “pebisnis liar” yang mencoba mencari keuntungan dengan mengabaikan keselamatan rakyat banyak.

Sosialisasi kepada para pengguna elpiji 3 kg juga harus terus dilakukan dan diperluas jangkauannya hingga peristiwa ledakan tabung gas 3 kg yang disebabkan oleh shock culture konsumen elpiji 3 kg karena telah terbiasa menggunakan minyak tanah dapat dicegah.

Hiski Darmayana– kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan Jurnalis di media energi Petromindo.com

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/kabar-rakyat/20121116/ledakan-elpiji-dan-sentralisasi-kewenangan.html#ixzz36CcfROuH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 8, 2014 by in Suara Umum and tagged .

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters