gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Manipulasi Para Imperialis Minyak

Temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), yang dipublikasikan pada tanggal 30 Mei 2012 mengenai hilangnya pendapatan negara sebesar Rp 2,35 triliun dari perhitungan pajak penghasilan (PPh) minyak dan gas (migas) dan perhitungan bagi hasil migas, barulah sebagian kecil contoh nyata dari impotensi negara dihadapan perusahaan migas, terutama korporasi asing.

Ketua BPK Hadi Poernomo mengatakan, temuan itu menunjukkan kelemahan pengen­dalian interen dan ketidakpatuhan oknum pemerintah dan pihak korporasi terhadap peraturan perundang-un­dangan. Mengacu pada permasalahn ini, BPK merekomendasikan kepada pemerintah agar mengupayakan amandemen PSC (Production Sharing Contract) atau aman­de­men tax treaty (Perjanjian Peng­hindaran Pajak Berganda/P3B) terhadap berbagai perrusahaan migas yang berstatus  kontraktor kontrak kerja sama (KKKS).

Manipulasi pajak oleh para pemegang KKKS ini seperti menjustifikasi laporan Transparancy International (TI) mengenai perilaku koruptif 44 korporasi migas dunia (MNC) di Berlin pada awal tahun 2011 lalu.  Hal demikian mungkin bagi sebagian orang merupakan kabar baru. Tapi tidak demikian bagi kalangan yang menyuarakan dampak negatif investasi MNC migas di berbagai belahan dunia sejak lama. Problem korupsi dan pajak yang disebabkan kehadiran MNC migas hanyalah satu dari sekian banyak persoalan yang menggelayuti industri migas Negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Perilaku korup tersebut hanya instrumen untuk “melicinkan jalan” bagi MNC-MNC migas itu demi pencapaian yang lebih besar, yakni dominasi atas industri migas nasional.

Sejak dibukanya “pintu masuk” pengerukan sumber daya alam Indonesia oleh korporasi asing pasca konferensi Time Life Corp di Geneva dan diberlakukannya UU Penanaman Modal Asing pada tahun 1967, penguasaan industri minyak nasional oleh MNC migas berlangsung nyaris tanpa hambatan berarti. Penulis tidak akan mengulas hal ini lebih jauh, sebab banyak diantara kita telah mengetahui kisah kelam ini.

Beberapa MNC migas yang berhasil meraih keuntungan besar dari dominasi tersebut adalah MNC-MNC yang juga dinyatakan korup menurut laporan TI tahun lalu, seperti Total, British Petroleum, Exxon Mobil dan Conoco. Dengan legitimasi UU nomor 22/2001 tentang migas, korporasi asing telah diberi peluang untuk memasuki sektor hilir bisnis migas negeri ini. Hasilnya, kini kita dapat melihat SPBU Shell, Petronas, dan yang terbaru, Total, bertebaran di Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia.

Dominasi asing atas migas nasional juga menghasilkan kenyataan yang lebih mengejutkan. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mencatat perusahaan migas asing menguasai 95,45 Juta hektar luas lahan konsesi migas Indonesia, dari total luas daratan wilayah Indonesia yang mencapai 192,257 juta hektar. Total blok migas yang dikuasai pihak asing mencapai 329 blok migas.

Cengkeraman imperialis pada industri minyak nasional juga dipertegas sendiri oleh data pemerintah. Data dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Ditjen Migas Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral memperlihatkan bahwa perusahaan migas asing menguasai 65 persen dari total blok migas di Indonesia. Perusahaan nasional hanya menguasai 24,27 persen. Sisanya dikuasai oleh konsorsium perusahaan asing dan lokal, yang (lagi-lagi) menunjukkan dominasi asing dalam pembagian keuntungan eksploitasi migas (sharing profit) dan kepemilikan saham, dimana perusahaan lokal hanya berwenang atas 20 persen saham konsorsium tersebut.

Sementara itu, pada akhir Mei 2009, data Departemen ESDM menunjukkan 69,9 persen dominasi asing dalam industri migas Indonesia, sekitar 70 persen di antaranya perusahaan asal AS seperti Chevron, Conoco Philips dan Exxon Mobil. Bagaimana dengan perusahaan nasional? Data tersebut memperlihatkan kiprah perusahaan migas nasional hanya mencapai 29,1 persen dalam industri  migas.

Khusus untuk sektor gas alam, laporan dari Energy Information Administration (EIA) pada Januari 2008 menegaskan fakta yang lebih dahsyat. Laporan tersebut menyatakan 90 persen dari total produksi gas alam Indonseia berasal dari 6 MNC yakni, Total (30%), Exxon Mobil(17%), Vico (BP-Eni joint venture 11%), Conoco Philips (11%), BP (6%) dan Chevron (4%). Dari keenam MNC tersebut, 3 diantaranya berasal dari AS dan menguasai 32 persen produksi gas alam Indonesia. Dan MNC-MNC tersebut juga yang termasuk dalam 44 perusahaan migas internasional yang berperilaku korup menurut laporan TI.

Ketidakadilan dalam proses produksi migas Indonsesia bukan hanya diperlihatkan oleh adanya dominasi asing dalam kepemilikan dan pembagian keuntungan, namun juga dalam hal biaya produksi (cost recovery). Dalam laporan BP Migas pada 2005, sejak 2004 investasi yang ditanamkan pemerintah dalam produksi migas nasional hanya US$ 5,56 juta, sedangkan cost recovery yang diberikan pemerintah US$ 5,6 juta. Pada 2005, investasi migas US$ 6,22 juta, sementara cost recovery-nya US$ 7,68 juta.

Nuansa koruptif kembali terlihat dalam hal penggunaan cost recovery oleh para kontraktor migas asing. Audit Badan Pengawas dan Pembangunan (BPKP) periode 2000-2006 menemukan indikasi penyimpangan pada 43 kontraktor migas dengan nilai kerugian Negara Rp.18,07 Triliun. Hal ini disebabkan longgarnya definisi cost recovery yang disepakati pemerintah dan kontraktor (yang sebagian besar MNC). Sehingga faktor-faktor non-produksi seperti renovasi rumah dan biaya hiburan juga dibebankan kepada Negara. Propaganda intelektual dan ekonom neoliberal bahwa privatisasi dan swastanisasi asset Negara kongruen dengan pemberantasan korupsi dapat dijawab segera dengan fakta tersebut.

Tidak hanya sampai disitu perilaku korup dalam pengelolaan migas nasional oleh pihak asing. Cengkeraman MNC migas (sekaligus juga imperialis minyak) terhadap sumber-sumber minyak Republik ini disinyalir dapat berjalan mulus melalui persekutuan “haram” pihak MNC dengan aparat Negara yang berperilaku korup dan bermental antek. Kasus mafia pajak yang melibatkan Gayus Tambunan memperkuat hipotesa tersebut, ketika tercatat ada beberapa perusahaan migas asing yang menjadi “pasien” Gayus dan aparatur pajak lainnya. Tetapi anehnya, fakta ini jarang sekali diungkap ke permukaan, terutama oleh Satgas Anti-Mafia Hukum bentukan Presiden yang dikomandoi Denny Indrayana beberapa waktu lalu.

Jadi, seperti yang telah disinggung sebelumnya, temuan BPK kemarin hanyalah sebagian kecil saja dari suatu gambaran kelam perilaku korup dan manipulatif korporasi migas di negeri ini yang bertujuan (dan memang sudah) menguasai industri migas nasional. Persoalannya kemudian, apakah pemerintahan yang berkuasa kini serta kalangan elit politik nasional berani mengambil langkah radikal untuk mengubah sistem pengelolaan migas kita yang ‘berbau’ kolonial? Lalu, apakah Komisi Pemberantasan Korupsi juga berani membongkar mafia migas dan pajak yang melibatkan MNC-MNC migas? Sepertinya, kita tak bisa berharap banyak mengingat renegosiasi di sektor tambang mineral dan batubara saja masih belum menunjukkan hasil memuaskan hingga kini. Ya, kita memang tak boleh berharap, melainkan berjuang sekuat tenaga bersama kekuatan progresif lainnya untuk menghentikan rampok-isasi yang dilakukan imperialis dan antek-anteknya di dalam negeri.

HISKI DARMAYANA, Penulis adalah Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sumedang

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/kabar-rakyat/20120531/manipulasi-para-imperialis-minyak.html#ixzz36Ce444NC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juli 4, 2014 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters