gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

“Pungli oh pungli : Bisa Karena Biasa”

Hari masih pagi, kala mentari sedang akan memperbanyak pancaran sinarnya. Ku nyalakan sepeda motorku (eh.. maksudku punya ibuku) dan ngeeengg, melaju dengan tak jemu-jemu.

Belum lima menit, aku sudah berada di depan sebuah plank yang bertuliskan Kelurahan *tiiiiitt*. Mesin motorpun ku matikan. Lalu pintupun ku gedor, (pak RW gak datang bawa polisi ya, ntar malah kayak lagu jamrud lagi. haha). Akupun di sambut dengan baik, dan percapakan dimulai dengan sebuah pertanyaan “mau ngurus apa?”.

****

Singkat cerita, suratpun selesai dibuat, tinggal ditandatangani sama sekretaris. Kebetulan saat itu Lurahnya lagi gak ada jadi diwakilkan sama sektetaris Lurah. Akhirnya… selesai juga ditandatangani.

“Udah nih, Bu?”

“Oh udah kok.”, jawabnya.

“Kalau gitu, makasih ya Bu. Permisi”

Setelah saya ucapkan terima kasih, ibunya gak jawab dengan frase “sama-sama”, dan anda tahu ibunya jawab apa? Eng ing eng.. Katanya dengan senyuman, “Gak ada apa-apanya nih?”

“Maksudnya Bu?”, balasku.

“Kalau gak ada juga gak apa-apa”, sambungnya lagi.

“Oh, maaf saya gak tau Bu, emangnya biasanya bagaimana?”

“Oh gak, kalau gak ada juga gak apa-apa kok”

“Kalau begitu, makasih ya Bu”, tuturku sambil pergi keluar gedung Kelurahan.

Dalam hati ku bergumam, “hari gini ngurus surat pengantar saja masih mau pake ‘apa-apa’, apa kata dunia? hehe”. Tapi ngomong-ngomong maksudnya “apa-apa” ini apa ya? Ah, ya sudahlah.

****

Seperti kata bapakku, sebenarnya untuk pelayanan begitu gak perlu lah sampe harus minta-minta lagi. Soalnya, PNS itu kan sudah punya gaji, bahkan ada tunjangan lagi. Meskipun pendapatannya masih kurang kalau dibandingkan pengeluaran yang kian melangit kesannya kurang pantas lah kalau masih meminta dari masyarakat, apalagi kalau yang dimintanya justru lebih miskin dari dirinya.

Dalam kasus saya misalnya, seorang pengangguran yang sedang terjun dalam lautan pencari kerja, yah kurang etislah kalau harus memberi pada yang udah punya gaji, ya ndak??

Pelajaran yang bisa diambil adalah kalau anda benci pungli, artinya anda juga harus berani menolak untuk memberikan pungli. Kita mulai dari begitu saja dulu. Sekian.

Junius Fernando

Wakabid Kaderisasi DPC GMNI Sumedang

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juni 7, 2014 by in Semua untuk Semua.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters