gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

“Hasil Survei Paksa Mundur Pempimpin”

Hajat lima tahunan sudah kita lalui. Menariknya di negara yang semakin modern ini, pengumuman KPU seakan-akan tidak lagi menjadi sesuatu yang sangat dinanti-nantikan oleh banyak kalangan. Hal ini tidak lepas dari keberadaan lembaga-lembaga survei yang telah ramai dan berlomba-lomba dalam menyajikan hasil hitung cepat. Hitung cepat yang dikeluarkan lembaga-lembaga survei relatif dapat dipercaya mengingat rekam jejak mereka pada masa-masa sebelumnya. Fenomena menjamurnya lembaga survei dengan tingkat kepercayaan yang cukup baik sesungguhnya menyadarkan kita bahwa posisi mereka semakin nyata dalam sistem politik Indonesia, khususnya dalam perhelatan demokrasi.

Kali ini penulis ingin melihat sisi positif dari keberadaan lembaga survei meski kini ada banyak pandangan miring terhadap lembaga seperti ini. Serangan terhadap lembaga survei kian memuncak tatkala sudah bukan rahasia lagi ada banyak lembaga survei yang menggadaikan esensi keilmuannya demi meraup pundi-pundi uang yang sangat menggiurkan.

Lembaga survei tatkala menjalankan peranannya secara jujur dan ideal akan mempermudah proses para kandidat pejabat politik untuk maju dalam sebuah pertarungan demokratis. Betapa tidak, survei-survei yang dilakukan lembaga telah memaparkan peta bagi para kandidat terkait seberapa populernya mereka dan seberapa diharapkannya mereka untuk memimpin rakyat. Namun harus kita akui bahwa hal ini dapat berjalan ideal tatkala para kandidat juga menjadikan indikator opini publik sebagai pijakan untuk bertarung dalam kontestasi demokratis tersebut. Hal ini akan pincang manakala kandidat justru mengandalkan uang untuk merebut jabatan politik. Para politisi kerap kali

Kasus menarik terjadi dalam pemilu presiden di Kosta Rika. Salah satu kandidatnya, Jhonny Araya berhenti berkampanye sebulan sebelum pemilu karena tertinggal jauh dalam jajak pendapat. Araya tidak menyatakan mundur dengan resmi dari pemilu karena memang peraturan Kosta Rika tidak memperbolehkan seorang kandidat mundur dari pemilu. Akhirnya kandidat oposisi Luis Gillermo Solispun memenangi putaran kedua pemilu presiden dengan meraup 77,9 persen suara.

Dari kasus ini penulis melihat betapa berpengaruhnya hasil jajak pendapat bagi seorang Araya hingga dia menghentikan kampanyenya sebulan sebelum pemilu. Barangkali akan ada banyak pendapat menanggapi kasus ini, namun dalam pandangan penulis kita dapat melihat ambisi pemimpin yang seharusnya dapat dikalahkan oleh kemauan rakyat. Para kandidat seharusnya mampu menilai kapabilitas dan popularitas dirinya sehingga tidak memaksakan diri dan berpijak pada kekuatan uang atau bahkan memilih jalan curang dalam kontestasi. Dan salah satu cara untuk melihat kemampuan dan popularitas yang menjadi indikator tingkat keterpilihan kita adalah dengan memperhatikan hasil survei–yang tentunya memperhatikan kebenaran metodologi dan dasar keilmuannya.

 Junius Fernando

Wakabid Kaderisasi DPC GMNI Sumedang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Juni 4, 2014 by in Semua untuk Semua.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.451 pengikut lainnya

Visitors

free counters