gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

“Jangan Rasialis”

Mochtar Lubis dulu pernah menggunakan judul ini dalam tajuk rencana yang dia tulis pada 29 Januari 1972 lalu. Intinya Mochtar nggak pernah setuju dengan nada-nada rasialis yang kerap mencuat di negeri ini, khusunya untuk etnis tionghoa. Dan anda tahu, bagi saya sangat menyesakkan tatkala beberapa hari lalu saya melihat mereka yang notabene adalah seorang politisi mengeluarkan statement rasialis kendati itu hanya lewat twitter.

Saat kalimat rasialis keluar dari mulut seorang politisi saya pikir ini adalah sebuah kecelakaan maut yang mengajak kita turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Sedih banget bro, kalau kita sadari bahwa sesungguhnya politisi adalah mereka yang seharusnya punya prinsip moralitas yang tinggi sehingga tidak patut mengeluarkan pernyataan yang sama sekali sudah menghancurkan nilai-nilai kebhinekaan yang adalah salah satu nilai moralitas bangsa kita. Jadi, bagi saya sejak pernyataan itu keluar darinya saya tidak mengakuinya lagi sebagai seorang politisi. Saya rasa inilah ganjaran yang pantas bagi dia, karena saya tidak ingin sebutan sebagai politisi dikotori oleh orang-orang yang sesungguhnya tidak layak disematkan sebutan itu.

Saya pikir adalah salah tatkala kita masih selalu menggunakan sudut pandang SARA saat ingin menilai seseorang. Saat seseorang melakukan kesalahan, nggak pantas kalau kita justru menyalahkan etnisnya. Cobalah untuk melihat persoalan secara adil, dengan katakan seseorang salah karena memang dia salah bukan (misalnya) karena dia etnis cina atau tidak.

Dan menurut saya sesuatu harus ditempatkan pada tempatnya yang pantas. Tidak perlu membawa-bawa suku, agama, atau ras seseorang untuk sesuatu yang sama sekali nggak ada kaitannya. Sederhananya jika seorang membunuh yang lain, kurang bijak kalau di pengadilan anda menghakimi suku atau agama orang tersebut. Bila dia bersuku A, tentu bukan suku A yang dihakimi sebagai pembunuh, melainkan hanya individu itu sendiri yang seharusnya menanggung hukuman akan kesalahannya.

Selain itu, saya juga masih sering mendengar suara-suara yang sangat senang membangun kebencian dan perpecahan antar etnis. Hal ini lebih sering tertuju pada saudara kita yang beretnis cina. Saya sebut etnis cina, bukan tionghoa, semoga tidak menjadi persoalan besar bagi kita, karena menurut saya persoalannya bukan soal pemilihan kata, melainkan bagaimana kita memilih logika untuk menghormati semua etnis yang sudah ada sejak sebelum perjuangan kemerdekaan kita.

Kerap kali ada sebuah serangan bagi etnis cina hanya karena ada banyak etnis cina yang sukses dalam perekonomiannya. Menariknya yang diangkat adalah soal pengusaha tersebut etnisnya apa bukan soal bagaimana dia bisa menjadi seorang pengusaha sukses, apakah dia meraihnya dengan jujur atau tidak jujur, apakah mereka benar-benar bersaing dengan adil atau tidak. Kalau mau adil dalam memandang persoalan ini seharusnya kita tidak mempermasalahkan etnis mereka yang sukses dalam perekonomiannya melainkan memperhatikan soal-soal lain yang baru saja saya paparkan. Kalau ada pengusaha beretnis tertentu melakukan kesalahan, salahkanlah pengusahanya, jangan tempatkan etnisnya pada tempat yang salah.

Bagi saya akan sangat sederhana jika memandang orang-orang yang mengangkat persoalan seperti ini ke arah SARA. Saya justru beranggapan bahwa orang seperti ini lebih mengarah pada orang yang iri saja atau adalah orang yang sangat mudah terprovokasi oleh orang-orang yang bertanggung jawab. Atau kemungkinan ketiga, dia adalah orang yang memang sama sekali kurang paham tentang pokok persoalan namun sangat ingin berkomentar tentangnya. Intinya, saya hanya ingin jika menilai siapapun itu bukan justru menyalahkan latar belakang suku, agama, dan rasnya melainkan cobalah untuk adil merujuk pada orang tersebut sebagai manusia yang sama seperti anda. Lihat apakah dia melakukan kesalahan atau tidak, bila salah, salahkan dirinya bukan kelompoknya yang barangkali sama sekali tidak tahu menahu soal itu.

Hal lain lagi dalam membahas calon pemimpin, saya kira nggak relevan jika kita masih melihat pemimpin dari latar belakang etnis, agama, dan rasnya. Sementara dalam pengamatan kita bersama masih banyak mereka yang mengaitkan SARA dalam sebuah hajat pencarian pemimpin di negeri ini. Contoh yang paling sering kita dengar adalah dikotomi pemimpin jawa dan nonjawa. Saya pikir orang-orang yang cerdas sudah nggak layak mengangkat isu seperti ini untuk bahasan pencarian sosok pemimpin. Siapapun dia, seharusnya kita menilainya dari kapabilitasnya dalam memimpin dan latar belakangnya dalam memberikan peranan bagi negeri ini. Saya pikir inilah yang patut kita nilai. Toh apapun sukunya, yang terpilih akan terikat untuk menjadi pemimpin yang dimiliki semua golongan.

Kembali lagi soal pernyataan-pernyataan rasialis, saya tidak mau mengarahkan ini pada soal sanksi yang harus diberikan bagi mereka yang kerap mengeluarkan nada-nada rasialis. Tapi saya merasa kita perlu membuat pembahasan besar, yang sifatnya diskursif agar semua orang benar-benar tercerdaskan dan paham betul tentang aspek moralitas bangsa kita yang juga terangkum dalam “bhineka tunggal ika”.

Kita urgent membahas secara mendalam konsep kebhinekaan agar tidak lagi dipandang sebagai slogan semata. Kita juga mesti jujur dalam menyampaikan sejarah tentang peran-peran beragam etnis, beragam agama, dan ras di Indonesia yang kemudian bersatu, saling memberi peran, untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang merdeka. Tentu saja kita tidak bisa menafikan itu semua, kecuali kita, sekarang ini perlahan-lahan berubah menjadi bangsa yang lebih senang mengingat kesalahan orang lain meski sedikit dan menutup-nutupi kebaikannya yang justru jauh lebih besar. Ayolah, jangan lagi rasialis. (Junius F S)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 29, 2014 by in Semua untuk Semua.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters