gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Kala “Mereka” Ingin Dimengerti

Tentu saja kita semua punya masa kecil. Dan disadari atau tidak ada banyak pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari pengalaman kita di masa kecil. Kali ini penulis ingin mengajak pembaca meluangkan waktu untuk berkontemplasi tentang hubungan seorang anak dengan orang tuanya di kala mereka sudah beranjak dewasa.

Adalah sangat wajar tatkala pola pikir kita berbeda dengan orang tua kita. Hal ini kerap kali membuat kita berbeda dalam memandang sebuah permasalahan. Namun yang jadi masalah adalah bagaimana cara kita merespon perbedaan yang ada. Kadang kala kita gagal memahami perbedaan sehingga disadari atau tidak kita kerap meresponnya dengan nada keras lantas membuat orang tua kita tersinggung. Lantas mengapa hal ini bisa terjadi?

Bagi penulis–setelah sedikit merenung–persoalan mendasarnya adalah karena kita tidak berusaha untuk mengerti orang tua kita. Kita enggan berganti peran dengan mereka. Peran mereka yang dahulu selalu mengerti kita dengan segala keluguan dan egoisme kita di masa kecil pada dasarnya tidak kita sadari sebagai sebuah jasa besar orang tua yang tidak sebanding dengan apa yang kita lakukan pada mereka di masa dewasa kita. Sangat jarang kita menyadari hal ini dan berusaha berganti peran dengan mereka dengan mencoba mengerti dan memahami mereka apa adanya. Sementara tidak ada salahnya kita mencoba untuk menerima perbedaan pola pikirnya dan merespon mereka dengan kasih sayang seorang anak yang pada dasarnya–apapun itu–tidaklah sebanding dengan kasih sayang yang sudah mereka berikan pada kita.

Untuk memahami ini, penulis ingin sekali mengajak pembaca mengingat kembali masa kecil kita. Bilamana memori tentang masa kecil kita sangat terbatas, barangkali kita bisa memperhatikan tingkah laku seorang anak kecil dan bagaimana kesabaran orang tuanya untuk menghadapinya. Kala masih kecil tentu kita tak ubahnya seorang raja yang sama sekali tidak bisa ditentang keinginannya. Menariknya apapun itu selama orang tua kita mampu, mereka akan berusaha memberikan apapun keinginan kita. Bahkan, di beberapa keluarga yang dapat dikatakan kurang mampu, orang tua tersebut bekerja lebih keras untuk anaknya.

Lalu di masa kecil kita, barangkali kita bisa memperhatikan ini dari anak kecil pada umumnya, dimana tangisannya adalah sebuah perintah bagi orang tua. Menariknya lagi, entah bagaimana orang tua kita dapat mengerti dan memahami apa maksud dari tangisan itu. Mereka tahu seperti apa tangisan saat lapar dan seperti apa tangisan saat kita buang air dan saat kita kepanasan atau kedinginan. Mereka berusaha untuk memahami dan mengerti kita yakni sebagai wujud kasih sayang yang tidak terbatas. Ini luar biasa bukan?

Selain karakteristik mereka yang sangat pengertian, mereka juga selalu ada bagi kita. Mereka akan meninggalkan kesibukannya saat kita butuh bantuannya. Tidak ada pekerjaan yang tidak akan dihentikannya saat kita menangis. Mereka akan segera menyiapkan makanan saat kita minta makan lewat rengekan kita yang tidak tahu diri itu. Saat seorang bayi ngompol atau buang air, seorang ibu yang sedang makanpun akan berhenti makan dan segera membersihkan bayinya. Lantas menurut kita, apalagi kasih sayang orang tua yang masih kita ragukan? Apakah mereka masih kurang mengerti akan kita?

Kalau di masa dewasa kita, kita masih kerap marah kala orang tua kita berbeda pendapat dengan kita. Dan kita tidak mampu memberikan kasih sayang pada mereka di masa tua mereka. Apalagi kita kerap melupakan mereka demi cita-cita yang membentang di benak kita. Kira-kira seberapa jahatnya kita pada mereka? Kejahatan saja tidak layak dibalas dengan kejahatan, apalagi kasih sayang yang tak terbatas kalau masih kita balas dengan amarah dan mengabaikan mereka sungguh berdosanya kita. Barangkali setelah selama ini mereka mencoba mengerti kita, di masa tuanya mereka juga ingin dimengerti.

Tulisan ini sekedar renungan yang menghampiri benak penulis, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Junius Fernando S Saragih

Wakabid Kaderisasi DPC GMNI Sumedang

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 12, 2014 by in Semua untuk Semua.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters