gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

“Membaca : Melawan Jemu Menjaring Ilmu”

adalah jendela dunia, begitulah adagium yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Tak ubahnya sebuah jendela, membaca artinya membuka jendela yang sebelumnya menghalangi pandangan kita tentang sesuatu yang baru. Membaca membangkitkan kesadaran bahwa ternyata ada banyak hal yang berbeda dan menarik di luar sana. Bila tak mau di sebut bagai katak dalam tempurung, barangkali membaca adalah salah satu cara menolak tuduhan tersebut.

Hampir paripurna manusia di dunia ini mengakui bahwa membaca adalah pekerjaan yang sangat penting. Namun, di sadari atau tidak, hanya ada segelintir orang yang gemar membaca karena lahir dari keinginannya sendiri, atau dengan kata lain bukan karena dipaksa oleh guru, dosen, atau tuntutan pekerjaan. Ada banyak orang yang justru menyimpulkan bahwa membaca adalah pekerjaan yang sangat menjemukan.

Bicara tentang membaca, di negeri kita juga ada kekeliruan kecil yang mudah-mudahan dewasa ini sudah mulai terkikis. Pernahkah anda berpandangan negatif tatkala melihat seseorang yang membaca buku di tempat umum atau transportasi umum? Misalnya saja, bagi anda, mereka yang membaca di tempat umum kesannya sok pintar dan barangkali anda akan bergumam, “ah, itu orang gaya-gayaan aja biar dianggap intelek”. Padahal apa salahnya seseorang memanfaatkan waktunya untuk membaca buku. Andai saja, waktu yang kita gunakan untuk mengomentari mereka kita manfaatkan dengan ikut membaca buku, bukankah hidup kita jauh lebih berkualitas?

Ketertarikan penulis membahas tentang kebiasaan membaca sebenarnya didorong oleh ayah penulis yang pernah bilang begini, “Sebenarnya untuk jadi pintar itu, kita harus biasakan membaca, bahkan koran bekas yang terbuang-buangpun harus dibaca, bisa aja dari koran bekas itu kita menemukan informasi penting yang bisa menambah pengetahuan kita”. Bagi saya pernyataan ini sangat menarik dan sedikit banyaknya mendorong saya melawan rasa malas yang kerap menghantui dan mulai membaca.

Setelah beberapa kali membaca, akhirnya saya mulai memahami manfaat membaca bagi siapa saja yang ingin jadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan membaca, kita ibarat orang yang baru saja kecebur got, melihat kolam renang dengan airnya yang jernih, tanpa pikir panjang langsung menceburkan sesosok tubuh yang udah gak jelas warnanya itu ke dalamnya, lalu muncul kembali dalam kondisi bersih sebersih-bersinya. Haha. Barangkali ini analogi paling lebay yang pernah saya tuliskan.

Kembali lagi ke manfaat membaca yang mulai penulis sadari. Pernahkah anda merasa tercerahkan dan semakin bergairah setelah membaca sebuah buku? Inilah yang kerap penulis rasakan. Saat membaca sebuah buku, belum juga usai membacanya, penulis langsung terinspirasi tentang sesuatu yang membakar semangat untuk segera mengerjakannya. Ini artinya, dengan membaca, seseorang dapat terpacu untuk lebih dinamis dan akan menjadikan dirinya penuh dengan ide untuk terus berkreasi.

Bahkan, dalam lain kasus, tatkala membaca sebuah buku, benak kita melahirkan berbagai pemikiran yang berbeda dengan pandangan si penulis. Kita disentak untuk jadi kritis. Wah, luar biasa bukan? Kadang kala kita seperti dibawanya menghayalkan sesuatu yang lain yang sangat lekat dengan diri kita. Kok bisa? Penulis beranggapan bahwa membaca adalah saat di mana otak kita bekerja dengan lebih cepat dan mengajak kita berkomunikasi dengan penulis buku yang kita baca. Kala anda berkomunikasi, di sinilah kala di mana pikiran anda tidak harus sama dengan si penulis. Dalam kata lain, anda di bawa pada pikiran-pikiran berbeda, kendati hal tersebut tetap dipicu oleh pemikiran yang ada dalam buku yang kita baca.

Selain itu, dengan membaca–menurut penulis–kita akan jauh lebih komprehensif dalam mengenal pandangan orang lain. Mengapa demikian? Kadang kala bahasa lisan ditambah lagi ada waktu dan tempat yang membatasi kita cenderung membuat kita hanya memahami sepotong dari pemikiran orang lain. Di sisi lain, ini ada kaitannya dengan keterbatasan otak seseorang untuk menangkap pemikiran orang lain tatkala diucapkan secara lisan. Kita akan jauh lebih mudah mencerna tatkala dalam bentuk tulisan, karena dapat kita baca secara berulang-ulang. Dengan begini, akan ada keuntungan lain yang bisa kita ambil dari membaca, yakni kita akan lebih komprehensif pula tatkala ingin mengkritik pemikiran orang lain. Jadi, kita tidak akan menjadi seorang pengkritik yang kerap salah mengkritik.

Terakhir penulis juga menyadari bahwa dengan membaca kita tetap dapat belajar dan berkomunikasi dengan orang-orang populer maupun orang sukses yang sangat padat jadwalnya. Bila tidak dapat bertatap muka secara langsung, kita dapat membeli bukunya dan berkomunikasi dengan mereka lewat karya tulisan-tulisan tentang mereka atau yang langsung ditulis oleh mereka.

Penulis adalah lulusan Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad

Seorang pemimpi, ingin jadi penulis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 10, 2014 by in Semua untuk Semua.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.453 pengikut lainnya

Visitors

free counters