gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

“Capres, Mau dibawa Kemana Indonesia?”

Oleh : Junius Fernando S Saragih

Bincang-bincang capres ramai mewarnai hari-hari menjelang 9 Juli 2014, sayangnya pembahasan tentang visi-misi dari para capres belum juga rampung. Bagi penulis hal ini sedikit membingungkan. Betapa tidak, ibarat ingin naik pesawat mereka sama sekali belum tahu arah dan tujuan. Mereka masih berkutat mengenai kemana arah bangsa ini akan dibawa, namun hasrat menjadi presiden sudah tidak tertahan.

Bercermin dari sini, penulis mengasumsikan tiga kemungkinan untuk menggambarkan para capres yang terlambat merancang visi dan misi yang tepat bagi bangsa ini. Pertama, barangkalipara capres adalah orang-orang yang tidak menganggap serius soal visi, sehingga mereka lebih mementingkan kekuatan mesin pemenangan, yakni parpol dan koalisi. Kedua, barangkali para capres menilai para calon pemilih di negeri ini bukanlah orang-orang yang cerdas hingga istrumen penilaiannya bukan didasarkan pada visi dan misi melainkan hanya ikut-ikutan, tergantung kekuatan uang, atau kekuatan manajemen isu. Ketiga, barangkali para capres hanya berambisi menjadi presiden semata, dan tidak siap menjadi pilot yang akan membawa bangsa menjadi bangsa yang sejahtera, adil, dan makmur. Kemungkinan keempat, visi misi para capres akan sangat tergantung pada para pendukung yang berani memberikan sumbangan paling besar bagi pemenangan kandidat.

Penulis akan mencoba membahas masing-masing kemungkinan ini agar dapat kita jadikan referensi untuk menilai sosok seperti apakah para capres yang sudah mencuat ke permukaan. Mengapa visi dan misi yang begitu pentingnya hingga kini masih belum muncul, sementara indikator kelaikan para capres pada negeri ini sangat bergantung pada seberapa kenalnya mereka pada negeri ini. Sementara, pengenalan akan negeri dapat dimanifestasikan dalam visi dan misi. Dan seberapa seringnya mereka menemukan solusi bagi permasalahan-permasalahan yang ada di negeri ini akan terlihat dalam visi dan misi yang mereka tawarkan. Sudah barang tentu kita membutuhkan pemimpin yang tidak saja berbicara tentang dirinya, melainkan tentang kita, Indonesia.

Kemungkinan pertama, benarkah bagi para capres mesin parpol dan koalisi adalah hal yang paling penting dibandingkan visi dan misi? Bila memperhatikan apa-apa yang tampil di media, kemungkinan pertama ini seakan-akan sedang dipertegas. Bahkan agenda pencarian koalisi justru mampu mengobok-obok internal beberapa partai. Bila sudah seperti ini, bukankah kita kian ragu memberikan kekuasaan bagi mereka untuk memimpin Indonesia yang jauh lebih luas dan kompleks masalahnya dibanding sekedar wacana koalisi.

Proses pencarian teman koalisi belakangan ini juga sedang memaparkan visi dan misi para capres yang bersifat tentatif dan fleksibel tergantung pada bertambah atau tidaknya peluang untuk memenangi pilpres. Betapa tidak, pada saat koalisi terbentuk, para tokoh parpol berpendapat bahwa koalisinya tidaklah dibangun berdasarkan bagi-bagi jatah kursi, melainkan karena adanya kesamaan gagasan dan visi untuk Indonesia. Bagi penulis, pernyataan naif yang kerap disampaikan di media ini harus kita respon dengan cerdas. Pernyataan naif ini tak ubahnya serangan bagi diri mereka sendiri. Karena bagi penulis, sangat terlambat tatkala kesamaan gagasan dan visi ini baru disampaikan menjelang pilpres. Pertanyaannya mengapa tidak sejak dulu, hingga mimpi mengerucutkan jumlah parpol tidak lagi tertinggal dalam wacana semata?

Lantas bagaimana dengan kemungkinan kedua, apakah para capres terlambat memaparkan visi-misinya karena telah memetakan bahwa kebanyakan pemilih bukanlah pemilih cerdas yang mementingkan visi dan misi? Untuk menjawab hal ini penting untuk kita memperhatikan hasil penelitian terdahulu yang sifatnya lebih terukur. Pada pilpres 2009, Lembaga Survei Indonesia (LSI) melansir bahwa masyarakat memilih capres-cawapres pada 8 Juli kemarin karena alasan program yang meyakinkan para kandidat (38,6 persen), visi yang pro rakyat (35,6 persen), tokohnya mudah diingat (8,2 persen), ikut-ikutan pilihan keluarga (7,4 persen), ikut-ikutan pilihan orang lain (3 persen), sentimen agama (1,3 persen), pro perempuan (1 persen) dan lain-lain (5 persen) (viva.co.id, 10/04/14).

Bila memperhatikan hasil penelitian ini alhasil dapat kita nyatakan bahwa bagi masyarakat sendiri visi dan misi menjadi salah satu instrumen penting untuk menilai kelaikan seorang capres. Ini artinya, para capres tidak bisa mengabaikan pentingnya visi dan misi yang juga mampu menarik perhatian masyarakat. Akan tetapi, harus juga kita akui bahwa visi dan misi yang kerap diangkat oleh kandidat masih cenderung retorik dan kurang konkret. Sepatutnya para capres harus mampu mengaplikatifkan visi Indonesia yang ingin menggapai Indonesia sejahtera, adil, dan makmur. Hal ini sekaligus mencegah para capres tergelincir pada kemiripan visi dan misi yang sekedar mengangkat isu-isu kerakyatan, namun tidak solutif. Kemiripan visi dan misi hanya akan menjadikan visi dan misi itu kosong serta gagal menarik simpati dan menjadi instrumen penting penilaian kelaikan para capres.

Kemungkinan ketiga, para capres terjebak pada ambisi mereka untuk menjadi seorang presiden, bukan pemimpin yang paham dan siap membawa bangsa ini kepada mimpinya sebagai bangsa yang sejahtera, adil, dan makmur. Kesan para capres sekedar menuruti ambisinya dibanding kesiapannya memimpin, nampak tatkala mereka terlambat dalam menuangkan visi dan misinya di hadapan khalayak umum. Andaikan mereka telah siap menjadi pemimpin, maka visi dan misi bukanlah persoalan rumit. Hari-hari ini bahkan seharusnya diisi dengan pertarungan visi dan misi, bukan saling sindir, atau sibuk dengan kericuhan di internal partai. Dengan silang visi dan misi harapannya akan dimunculkan sosok capres yang benar-benar siap dengan ribuan solusi bagi persoalan bangsa ini. Visi dan misi yang teruji oleh rakyat sepanjang waktu menjelang pilpres alhasil akan menjadi capres populer yang dipilih oleh rakyat.

Sementara kemungkinan keempat nampaknya memang sangat tidak etis, namun tidak ada yang mampu menyangkal kemungkinannya. Terlambatnya visi dan misi capres muncul di permukaan barangkali sedang menunggu berkumpulnya tiap simpul kekuatan pemenangan. Dalam politik, dikenal adagium Harold Laswel yang menyatakan bahwa politik itu adalah tentang who get what, when, and how. Ini artinya, tidak tertutup kemungkinan visi dan misi seorang capres akan menentukan siapa saja para pemilik modal, para elit, dan para simpul massa yang bersedia mendukung kandidat.

Dalam asumsi penulis, visi dan misi belum mencuat permukaan karena memang para pemegang pengaruh belum menentukan pilihannya. Para pemegang pengaruh akan memberikan dukungannya pada capres mana yang mampu mengakomodir kepentingannya tatkala ia memimpin negeri ini. Harapan kita, kemungkinan ini bukanlah gambaran sejujurnya tentang yang saat ini terjadi. Semoga saja politik dalam benak para capres, bukan tentang who get what, when, and how melainkan untuk mencapai kesejahteraan bersama.

Wakabid Kaderisasi DPC GMNI Sumedang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 9, 2014 by in Semua untuk Semua.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.453 pengikut lainnya

Visitors

free counters