gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

BUDAYA EGALITER MASYARAKAT BALI AGA*)

Hiski  Darmayana**)

 

Pulau Bali yang dijuluki Pulau Dewata tersohor akan  kekayaan budayanya yang memukau tidak hanya bagi penduduk nusantara, tapi juga warga dunia. Kebudayaan Bali yang erat kaitannya dengan agama Hindu memang bernilai estetis, eksotis serta (bagi sebagian orang) bernuansa mistik. Hal-hal inilah yang membentuk karakteristik kebudayaan Bali menjadi demikian unik hingga mengundang banyak orang dari seantero jagad untuk berkunjung ke Bali demi melihat serta mempelajari kebudayaan Bali. Film Eat,Pray, Loveyang dibintangi Julia Roberts mengilustrasikan ‘fungsi’ pulau Dewata bagi warga dunia tidak hanya sebagai tempat rekreasi atau pelesiran, tetapi juga ‘wadah’ pencarian ketenangan dan hakekat kehidupan.

Identifikasi kebudayaan Bali dengan ke-Hindu-an memang telah menjadi rahasia umum. Identitas ke-Hindu-an itulah yang seakan  menutupi adanya variasi dalam kebudayaan Bali. Bagi masyarakat awam diluar Bali, sepintas memang tidak dapat melihat adanya berbagai varian dalam kebudayaan masyarakat Bali. Namun, faktanya secara sosio-kultural kebudayaan Bali terbagi dalam dua sub-kultur, yakni Bali Aga dan Bali Majapahit. Apa sesungguhnya perbedaan mendasar dari kedua ‘kutub’ budaya tersebut?

Dampak Invasi Majapahit

 

Masyarakat pendukung kebudayaan Bali Aga merupakan sebagian dari orang Bali yang tidak atau kurang mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa-Majapahit dan agama Hindu Dharma (Danandjaja, 1985). Masyarakat Bali Aga berdomisili di daerah pegunungan serta pedalaman, karena itu dinamakan Aga yang dalam kamus bahasa Kawi  artinya gunung.  Sembiran, Trunyan, Tigawasa, Pedawa dan Pegringsingan adalah beberapa desa yang didiami masyarakat Bali Aga. Desa-desa tersebut berada di Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Karangasem. Masyarakat Bali Aga atau Bali Mula dapat disebut juga sebagai penduduk asli Pulau Bali sebelum datangnya pengaruh kebudayaan Jawa-Majapahit yang kental nuansa Hindu-Dharma.

Sementara masyarakat Bali Majapahit atau wong Majapahit adalah masyarakat Bali yang telah terpengaruh budaya Jawa-Majapahit pasca invasi Majapahit ke pulau tersebut.  Kitab Negarakertagama mencatat invasi Majapahit terjadi ditahun 1343 dibawah pimpinan Patih Gajah Mada, yang ketika itu tengah berusaha mewujudkan sumpahnya untuk mempersatukan  (baca: menaklukkan) nusantara atau yang lebih dikenal dengan istilah  “Sumpah Palapa”. Wong Majapahit merupakan bagian terbesar dari populasi di Pulau Bali kini. Mereka tinggal didaerah dataran rendah serta membentuk kebudayaan yang kental dengan nuansa Hindu Majapahit (Bagus, 1999).

Perbedaan yang mendasar antara masyarakat Bali Aga dengan Bali Majapahit terlihat pada sistem sosialnya. Orang Bali Aga sejak masa sebelum datangnya invasi Majapahit hingga kini tidak mengenal sistem kasta dalam tatanan masyarakatnya. Pada masa Bali kuno/pra-Majapahit, struktur masyarakat ketika itu diisi oleh empat kelompok yang dikenal dengan Catur Varna dalam agama Hindu, yakni Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Pembagian masyarakat pada masa Bali kuno yang disebut sistem Catur Varna tersebut lebih bersifat fungsional-horizontal, bukan genetis-vertikal seperti sistem kasta dalam masyarakat India.

Sistem Catur Varna yang sifatnya horizontal perlahan mulai pudar pasca masuknya pengaruh Majapahit melalui invasi tahun 1343. Sebagaimana yang kita ketahui, sistem kemasyarakatan Majapahit berbasis pada tatanan feodal-prebendal yang hirarkis sifatnya. Hal ini bercampur baur dengan sistem kasta yang juga menonjol dalam tatanan masyarakat Majapahit.

Oleh karena hegemoni budaya Majapahit itulah, sistem sosial Bali mulai berubah menuju pada sistem Wangsa yang mirip dengan kasta di India. Kategorisasi sosial ditentukan oleh garis keturunan dengan mobilitas antar kelompok yang tertutup. Dalam perkembangan selanjutnya, sistem Wangsa digunakan sebagai instrumen diskriminatif dari kalangan petinggi Majapahit terhadap orang Bali Aga yang masih melanjutkan sistem budaya egaliter Bali kuno. Sistem wangsa dipakai penguasa Majapahit untuk membedakan wong Majapahit yang diberi perlakuan istimewa (misalnya dalam distribusi pengairan subak) dengan orang Bali Aga yang sudah terdesak ke daerah pegunungan.

Perlawanan Kultural

 

Meskipun zaman keemasan Majapahit yang mengakibatkan polarisasi dalam masyarakat Bali telah berlalu, namun egalitarianisme masyarakat Bali Aga tetap terjaga. Sampai sekarang, niscaya tidak akan ditemukan adanya susunan masyarakat Bali Aga yang terstratifikasi dalam kasta atau kelas secara  kaku dan dengan batasan antar kelas yang tegas. Sistem sosial masyarakat Bali Aga yang egaliter dan demokratis masih tetap dipertahankan hingga kini di desa-desa tempat orang-orang Bali Aga bermukim. Penelitian etnografi yang dilakukan James Danandjaja di salah satu desa Bali Aga, Trunyan, pada tahun 1975 menemukan fakta mengenai kehidupan sosial yang demokratis dalam interaksi antara warga dan pimpinan desa tersebut. Bahkan pernah terjadi ‘pembangkangan’ warga desa terhadap keputusan pemimpin desa untuk mengadakan upacara purnama kepitu yang dianggap sepihak oleh warga desa (Danandjaja, 1985).

Situasi masyarakat Bali Aga yang tetap survive dengan kebudayaan Bali Mula dapat dilihat sebagai perlawanan kultural terhadap hegemoni budaya Majapahit. Salah satu bentuk perlawanan kultural yang lainnya adalah penggunaan bahasa Bali yang berbeda dengan bahasa yang digunakan masyarakat Bali mainstream.  Masyarakat Bali Aga menggunakan bahasa Bali yang dianggap kasar oleh kebanyakan orang Bali (Majapahit), yakni bahasa Bali nista. Orang Bali Aga tidak mengenal tingkatan bahasa seperti layaknya masyarakat Bali pada umumnya yang telah terpengaruh budaya feodalisme Majapahit.

Dalam suprastruktur masyarakat feodal, strata bahasa memang kerap dijumpai karena berfungsi sebagai simbol keagungan atau prestise kalangan elit feodal dalam masyarakat bersangkutan. Hal yang sama juga terjadi pada masyarakat Bali di dataran rendah yang terkontaminasi budaya feodal Majapahit. Demikian juga halnya dengan masyarakat Sunda Priangan yang pernah dijajah oleh kekuasaan feodal Mataram, hingga akhirnya mengenalundak-usuk basa hingga kini.

Dimasa kini, konflik kultural antara orang Bali Aga dengan wong Majapahit sudah tidak ‘sepanas’  dahulu lagi, oleh karena sistem wangsa dikalangan penduduk Bali majapahit pun telah meluntur secara perlahan. Namun, pranata-pranata feodal seperti penggunaan nama, kategorisasi sosial berdasarakan keturunan dan strata bahasa masih ditemukan pada masyarakat Bali Majapahit. Bahkan stigmatisasi terhadap orang Bali Aga sebagai orang yang masih belum beragama Hindu secara ‘penuh’ masih kerap ditemukan dikalangan orang Bali Majapahit. Dan pada saat yang bersamaan pula, masyarakat Bali Aga tetap mempertahankan karakteristik kebudayaannya yang egaliter, demokratis dan sosialistis.

Tulisan ini dimuat dalam rubrik Sisi Lain Berdikari Online*)

Penulis adalah kader GMNI Sumedang dan alumni Antropologi Unpad**)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Mei 8, 2014 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters