gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Muda dan Berbahaya

Kaum muda lebih baik tidak ikut dalam pemilihan umum, jika tidak memiliki pilihan dengan alasan yang tepat. 


Tahun 2014 merupakan tahun politik yang akan menentukan nasib Indonesia selama lima tahun ke depan. Apa kira-kira yang menjadi tanggung jawab kaum muda dalam pertarungan politik kali ini? Kontestasi kian memanas, setiap partai politik berpacu untuk mengajukan calon terbaiknya. Semua yang akan ikut pertarungan politik kali ini mempersiapkan diri. Tawaran demi tawaran diberikan kepada publik. Setiap masyarakat tentu saja memiliki pilihan masingmasing.

Namun, ada masalah tidak lazim yang menciderai demokrasi Indonesia, yaitu golongan putih (golput). Pemilihan umum kepada daerah di Jawa Barat tahun lalu sekitar 32% masyarakat golput berdasarkan Pusat Kajian dan Kepakaran Statistik (PK2S) Universitas Padjadjaran (Unpad). Demikian juga halnya dengan pemilu di Sumatera Utara golput mencapai 51,49% masyarakatnya memilih golput, seperti yang dilansir dari situs resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara. Hal ini tentu saja menunjukkan betapa tidak sehatnya demokrasi di negara republik ini.

Kekecewaan masyarakat terhadap pemerintahan selama ini menyebabkan masyarakat memilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya. Banyaknya janji kampanye menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintahan dan partai politik. Kelihatannya fungsi partai politik kini mulai memudar. Lalu, apakah yang menjadi peran pemuda dalam pemilu ini? Sejarah sudah membuktikan bahwa setiap perubahan di negeri ini, bahkan hampir di seluruh belahan dunia membutuhkan peran serta pemuda.

Demikian pula sejarah Indonesia, di mana pemuda selalu turut andil dalam perubahan besar. Pada masa sebelum kemerdekaan, pergerakan nasional dimulai oleh kaum muda terpelajar. Begitu juga pada waktu menjelang masa proklamasi kemerdekaan peran pemuda tidak boleh dianggap sebelah mata. Pemuda seperti Syahrir tentu saja memiliki andil yang besar. Masa Orde Baru digulingkan oleh aksi massa oleh pemuda. Dan, tentu saja masih banyak catatan sejarah tentang pemuda yang dapat memberikan dampak bagi negeri ini, seperti Tan Malaka dan Soe Hok Gie.

Pemuda-pemuda itu memilik dampak karena mereka berani dan mereka berjuang demi negerinya. Demi rasa cinta tanah air. Lalu bagaimana dengan pemuda masa kini? Apakah kita hanya tinggal diam dalam romantisme sejarah dan ikut bersorak atas kejayaan masa lalu tanpa berusaha melakukan sesuatu? Tentu saja tidak! Pertama, kita harus mencintai tanah air kita. Kedua, kita harus melakukan pencerdasan politik kepada masyarakat dengan berbagai cara, dengan tulisan misalnya. Ketiga, pemuda jangan hanya pasif dan melakukan protes terhadap pemerintah tanpa memberikan solusi.

Pemuda harus bergerak sesuai dengan bidangnya masing-masing. Sebagai pemuda yang penuh semangat dan gairah serta idealisme, haruslah bergerak. Muda dan berbahaya. Muda penuh gairah dan berbahaya karena dapat mengubah nasib suatu bangsa, sehingga setiap kawula muda Indonesia hendaknya menyadari tugas dan tanggung jawabnya dalam mengawal jalannya demokrasi kita.

*)dimuat di: http://m.koran-sindo.com/node/376070

 

YENGLIS DONGCHE DAMANIK

Mahasiswa Jurusan IlmuAdministrasi Negara,

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,

Aktivis GMNI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 7, 2014 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters