gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Amir Sjarifudin Harahap, Nasionalis dari Tanah Batak yang Terlupakan*)

Amir Sjarifudin Harahap, bukanlah nama yang akrab di telinga rakyat Indonesia. Hanya sedikit dari masyarakat negeri ini yang mengenal sosok Amir sebagai seorang pejuang, apalagi  pahlawan. Dan memang hampir seluruh buku yang menjadi referensi sejarah di institusi pendidikan negara tidak mengemukakan secara jelas kontribusi Amir dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Justru Amir lebih identik dengan peristiwa Pemberontakan PKI Madiun tahun 1948 di buku  sejarah  resmi versi pemerintah. Dilekatkannya sosok Amir dengan peristiwa ini sekaligus menjadi stigma bagi nama Amir Sjarifudin dalam sejarah bangsa, dimana Amir lebih dikenal sebagai pengkhianat negara atau pemberontak. Benarkah demikian?

Lahir dari keluarga Batak Angkola pada tanggal 27 April 1907 di Medan, Amir Sjarifudin merupakan anak sulung dari pasangan Djamin  Baginda Soripada Harahap dan Basunu Siregar . Ayahnya adalah  keturunan kepala adat dari Pasar Matanggor, Padang Lawas. Sementara  ibunya lahir dari keluarga Batak-Melayu di Deli.

Pada tahun 1921 Amir diundang oleh sepupunya yang telah menjadi anggota Volksraad, Mulia, untuk menimba ilmu di Leiden, Belanda. Di Leiden, Amir bersama Mulia tinggal di rumah seorang guru penganut Kristen Calvinis yang bernama Dirk Smink. Pertemuan dengan Dirk Smink inilah yang mengawali perkenalan Amir dengan agama Kristen, dimana pada tahun 1935 Amir  memutuskan untuk dibaptis dan menjadi penganut Kristen.

Sebagai seorang Kristen yang berwatak progresif, Amir terinspirasi perjuangan tokoh Kristen Jepang, Toyohiko Kagawa (1888-1942). Tokoh Kristen yang juga dikenal sebagai bapak gerakan buruh di Jepang itu menyerukan perlawanan terhadap sistem kapitalisme yang membuahkan budaya materialisme. Kagawa juga mengingatkan bahwa tugas keKristenan bukanlah mengadakan “proyek-proyek mercusuar” semacam pendirian gereja-gereja yang mewah dan mahal. Tugas pokok umat Kristen adalah bersolidaritas dan berjuang demi perbaikan nasib kaum miskin yang tertindas.

Spirit Anti Kolonialisme

 

            Persinggungan Amir dengan dunia pergerakan dimulai saat ia aktif berorganisasi di Perhimpunan Siswa Gymnasium selama mengenyam pendidikan di Belanda. Ketika berkecimpung di organisasi inilah, Amir menjadi penggerak kelompok diskusi Kristen yang bernama Christelijte Studenten Vreeninging op Java (CSV op Java). Diskusi-diskusi yang diadakan CSV op Java tersebut membahas berbagai persoalan politik yang berkaitan dengan situasi pergerakan nasional di tanah air. Kelompok CSV op Java ini dikemudian hari bermetamorfosa menjadi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

Sepulangnya dari Belanda pada  tahun 1927, Amir meneruskan pendidikannya di Sekolah Hukum Batavia. Persinggungannya dengan berbagai aktivis pergerakan  membuat spirit anti kolonialisme Amir makin membara. Pada tahun 1928, Amir turut berpartisipasi dalam Kongres Pemuda ke-2 sebagai wakil dari Pemuda Batak (Jong Batak).

Sebagai tokoh sekaligus pendiri organisasi Jong Batak, Amir memiliki wawasan dan kesadaran yang tinggi mengenai kebudayaan Batak. Kesadaran akan kekayaan budaya Batak itulah yang membuat Amir dan kawan-kawannya terpanggil untuk memacu semangat perjuangan para pemuda Batak. Basis pemikiran Amir dan rekan-rekan ketika mendirikan Jong Batak adalah sebagai berikut , “Bahasa Batak kita begitu kaya akan puisi, pepatah dan peribahasa yang terkadang mengandung satu dunia kebijaksanaan tersendiri. Bahasanya sama dari Utara ke Selatan, tapi terbagi dengan jelas dalam berbagai dialek. Kita memiliki budaya sendiri, aksara sendiri, seni bangun yang tinggi mutunya, yang sepanjang masa tetap membuktikan bahwa kita memiliki nenek-moyang yang perkasa. Sistem marga yang berlaku bagi semua kelompok penduduk negeri kita menunjukkan adanya tata Negara lama yang bijak. Kita mempunyai hak untuk mendirikan sebuah Perserikatan Batak yang khas, yang dapat membela kepentingan-kepentingan kita dan melindungi budaya kaum kita… “ (Hans Van Miert, hal 475).

Namun, kepedulian Amir pada budaya dan masyarakat Batak tidak membuatnya menjadi seorang primordial dan mengabaikan perjuangan kemerdekaan di ranah kebangsaan. Tahun 1931, Amir  ikut mendirikan Partai Indonesia (Partindo), partai yang mengusung azas Marhaenisme ajaran Bung Karno. Keterlibatannya dalam Partindo membuat Amir akrab dengan pandangan politik nasionalis kiri atau nasionalis kerakyatan. Pandangan politik yang condong ke kiri itulah yang menggerakannya untuk mendirikan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) bersama aktivis pergerakan kiri lainnya. Amir juga  dikenal sebagai tokoh yang berjuang melalui media massa. Ia menjadi pemimpin redaksi Indonesia Raja, majalah Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia (PPPI) pada tahun 1928-1930.

Pergerakan politik Amir yang bersifat radikal membuat pemerintah kolonial Belanda ‘gerah’. Pada tahun 1933, Amir ditangkap pemerintah kolonial dan dijatuhi hukuman 18 bulan penjara karena tulisan-tulisan di majalah Banteng yang dipimpinnya dianggap menghina pemerintah.

Pejuang Revolusi yang Berakhir Tragis

 

            Ketika Hindia Belanda terancam oleh invasi Jepang sebagai dampak dari Perang Pasifik, Amir menegaskan posisi politiknya yang menentang pendudukan Jepang atas Indonesia. Pergerakan “bawah tanah” Amir yang menentang pendudukan Jepang membuat Amir kembali menjadi buruan penguasa. Pada tahun 1943, ia ditangkap Kempetai (intelijen militer Jepang). Setahun kemudian, Amir dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Militer Jepang, namun hukuman tersebut urung dilaksanakan setelah adanya intervensi Soekarno.

Pasca Proklamasi kemerdekaan, Amir diangkat sebagai Menteri Penerangan pada kabinet pertama Republik Indonesia secara in-absentia oleh Presiden Soekarno. Kiprahnya dalam pemerintahan dimulai sejak saat itu. Namun Amir tidak meninggalkan dunia politik. Di akhir tahun 1945, ia mendirikan Partai Sosialis bersama Sjahrir.

Gebrakan Amir dimulai ketika menjabat Menteri Pertahanan pada Kabinet Perdana Menteri (PM) Sjahrir I. Amir memperkenalkan lembaga Biro Perjuangan yang mengintegrasikan laskar-laskar rakyat dalam pertahanan revolusi Indonesia. Dari sinilah berkembang konsep “Tentara Kerakyatan” yang meletakkan militer dibawah kontrol rakyat sipil. Kebijakan Amir tersebut menimbulkan antipati dari kalangan militer alumni KNIL seperti Nasution.

Pasca jatuhnya kabinet Sjahrir sebagai akibat dari ditandatanganinya Perjanjian Linggarjati, Soekarno memberi  mandat pada Amir untuk menyusun  kabinet. Dengan dukungan PNI dan Masjumi, Amir membentuk kabinet  baru  pada 3 Juli 1947.

Karir Amir di pemerintahan meredup setelah ia menandatangani Perjanjian Renvile yang sangat merugikan Indonesia. PNI dan Masjumi yang notabene bagian dari pemerintahan Amir dan mendukung perundingan Renvile berbalik menyerang kebijakan tersebut. Amir pun mengembalikan mandatnya pada Soekarno di awal tahun 1948.

Amir bersama Partai Sosialis yang dipimpinnya bergabung dengan PKI pimpinan Muso dan organisasi kiri lainnya dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) dan menjadi oposisi pemerintahan baru pimpinan PM Hatta. Kebijakan Hatta yang  menyingkirkan laskar-laskar rakyat dari tubuh angkatan perang melalui reorganisasi dan rasionalisasi (Re-ra) menimbulkan kemarahan Amir dan FDR. Amir merasa konsep “Tentara Kerakyatan” yang dirintisnya dibuang begitu saja oleh pemerintah.

Clash antara pemerintah Hatta dengan FDR mencapai klimaks ketika pada tanggal 18 September 1948 pemerintah Hatta menuding FDR melakukan coup d etat di Madiun. Pemerintah Hatta langsung menindak tegas seluruh kekuatan politik yang berafiliasi dengan kaum kiri atau FDR. Amir beserta ribuan orang kiri ditangkap TNI pada akhir November 1948.

Apakah benar FDR atau PKI melakukan pemberontakan di Madiun ketika itu ? Hal tersebut masih menyimpan banyak misteri hingga kini. Yang jelas bila merujuk pada buku sejarah resmi pemerintah memang seperti itulah adanya. Namun beragam versi lain seputar peristiwa itu kini banyak bermunculan. Salah satunya adalah buku Barabudur karya Roger Vaillant yang mengungkapkan adanya campur tangan Amerika Serikat (AS) dalam peristiwa Madiun. Dalam buku tersebut diungkapkan bahwa AS menyodorkan sebuah proposal pembasmian kaum kiri atau Red Drive Proposal yang berisi pressure pada pemerintahan Hatta agar menyingkirkan kelompok politik kiri atau komunis dari kehidupan bernegara di Indonesia. Keinginan AS itu dilatar belakangi oleh atmosfer perang dingin antara AS dengan Uni Sovyet (komunis) yang ketika itu mulai memanas. Dan kebijakan Re-ra serta penumpasan PKI/FDR pasca peristiwa Madiun merupakan implementasi Red Drive Proposal oleh Pemerintahan Hatta.

Kendati dituding memberontak, Amir tetap menyangkal tuduhan kudeta yang dilayangkan pemerintah kepadanya. Ia menegaskan bahwa ia adalah seorang nasionalis yang loyal pada Republik Indonesia. Namun riwayat Amir tampak kian mendekati akhir. Seperti yang dideskripsikan Fred Wellem dalam bukunya, Amir Sjarifudin : Tempatnya dalam Kekristenan dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia (1982), Amir beserta sepuluh orang tahanan politik Madiun lainnya dieksekusi tembak di Ngalihan Solo pada tanggal 19 Desember 1948. Ketika akan ditembak mati, Amir meminta waktu satu jam untuk berdoa. Setelah itu ia menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Internationale. Ia pun tewas dengan tangan memegang Alkitab.

Seorang  pejuang revolusi menemui ajal secara tragis dengan menyandang status sebagai pemberontak. Seluruh karya perjuangan Amir sejak masa pergerakan nasional hingga revolusi kemerdekaan seakan tenggelam oleh “pemberontakan PKI di Madiun”. Sebuah peristiwa yang hingga kini masih mengundang tanda tanya besar. Begitulah nasib Amir Sjarifudin Harahap, nasionalis dari tanah Batak yang terlupakan.

Tulisan ini dimuat di rubrik Seri Tokoh Pembebasan nasional situs Berdikari Online*)

Hiski  Darmayana

Alumni Antropologi FISIP UNPAD dan Kader  GMNI  Sumedang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 3, 2014 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters