gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Memperkokoh Semangat Kebangsaan Melalui Bahasa

Bahasa merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan suatu bangsa. Sebagai instrumen interaksi antar manusia,bahasa memegang peranan peting bagi proses persatuan sebuah bangsa yang berbasiskan komunikasi intensif diantara warganya. Sehingga salah satu ciri yang harus ada dalam sebuah bangsa ialah adanya bahasa yang dipakai bersama (common language).

Dalam sejarahnya,bangsa Indonesia telah melewati dinamika yang begitu panjang dalam proses pembentukan suatu common language. Secara historis diakui bahwa pada momentum Sumpah Pemuda 20 Oktober 1928 telah ditetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Konsekuensinya ialah bahasa Indonesia menjadi bahasa persatuan dari bangsa Indonesia,bukannya bahasa Jawa atau bahasa suku bangsa lain di nusantara yang berjumlah sekitar tiga ratus suku bangsa menurut perkiran Clifford Geertz,seorang Antropolog Amerika.

Bahasa Indonesia yang kemudian dijadikan sebagai bahasa nasional ketika Indonesia merdeka berakar dari bahasa Melayu. Dengan melalui proses difusi budaya yang agak lama,bahasa Melayu diterima sebagai bahasa ‘penghubung’ berbagai suku bangsa yang ada di nusantara. Salah satu instrumen penting persebaran bahasa Melayu di nusantara ialah sastra.

Pada era Pergerakan Nasional,bahasa Melayu disebarkan melalui karya-karya sastra para sastrawan dan budayawan tanah air. Karya-karya sastra tersebut juga berfungsi sebagai propaganda perjuangan politik kaum nasionalis dalam upayanya melawan kolonialisme.

Pasca kemerdekaan,pembentukan persepsi bersama mengenai bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional masih terus berlanjut. Hal ini disebabkan masih tetap eksisnya bahasa dari berbagai suku bangsa yang digunakan dikalangan masyarakat sebagai bahasa ibu(mother language). Kondisi ini tentu merupakan konsekuensi logis dari masyarakat multikultur seperti Indonesia.

Meskipun begitu,sosialisasi tentang pentingnya bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional tetap harus dilakukan. Sebab seperti yang telah disinggung sebelumnya,bahasa yang digunakan bersama oleh seluruh warga bangsa ialah ciri khas yang harus ada pada sebuah bangsa. Ptoses ini memang tidak mudah apalagi di era globalisasi yang mengusung paradigma modernitas seperti sekarang ini cenderung memarjinalkan peran dan fungsi bahasa Indonesia.

Contoh konkret marjinalisasi bahasa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat kini ialah munculnya peraturan di beberapa sekolah negeri yang menyandang status Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) tentang penggunaan bahasa Inggris pada hari dan jam pelajaran tertentu. Kenyataan ini mencerminkan goyahnya rasa kebangsaan yang ironisnya justru terjadi di institusi pendidikan milik negara.
Hal lainnya yang merefleksikan rendahnya kesadaran akan arti pentingnya pendidikan bahasa bagi anak-anak bangsa ialah minimnya pendidikan sastra di sekolah-sekolah negeri. Perlu diketahui bahwa Indonesia adalah satu-satunya negeri di dunia yang sekolah-sekolahnya tidak mewajibkan siswanya untuk membaca sekian banyak novel,syair atau puisi karya sastrawan Indonesia. Maka tidak heran bila generasi muda,khusunya para remaja,banyak yang tidak mengenal nama-nama seperti Pramoedya Ananta Toer dan Sitor Situmorang.

Tidak terselesaikannya proses pembudayan bahasa Indonesia sebagi bahasa bersama seluruh warga bangsa merupakan cerminan belum selesainya pembentukan sebuah bangsa yang bernama Indonesia. Hal tersebut menjadi tanggung jawab bersama seluruh komponen masyarakat dan juga pemerintah. Salah satu implementasi dari internalisasi nilai-nilai kebangsaan melalui bahasa dapat diawali dengan memperbanyak materi pengenalan sastra Indonesia di sekolah-sekolah. Hal ini penting dilakukan demi memperkokoh rasa kebangsaan melalui pendidikan bahasa dan sastra Indonesia secara intensif,serta tidak meminggirkan peran dan fungsi bahasa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat.

Hiski Darmayana
Alumnus Antropologi Sosial FISIP Universitas Padjadjaran

Kader GMNI Sumedang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Februari 1, 2014 by in Semua untuk Semua.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters