gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

MENYAMBUT HADIRNYA KARTINI BARU

 

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati hari lahirnya Raden Ajeng Kartini (R.A.Kartini),seorang pejuang emansipasi wanita pertama di negeri ini. Kartini,perempuan yang lahir di Jepara 21 April 1879, merupakan wanita Indonesia pertama yang sadar akan keterbelakangan dan ketertindasan kaumnya, serta berani bertindak untuk memberontak terhadap ketidak adilan tersebut. Meskipun akhirnya ia harus merelakan dirinya dinikahi oleh lelaki dari golongan ningrat yang telah beristri, namun ia tetap dikenang sebagai ‘pendekar’ emansipasi perempuan yang berjuang melalui aksi sosial dan tulisan kritis (karya Kartini yang paling monumental ialah kumpulan suratnya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang). Dalam kumpulan tulisannya tersebut, tertuang kesedihan , pemberontakan, harapan dan cita-citanya bagi perbaikan nasib kaum perempuan dan bangsanya. Surat-surat itu mulai ia tulis ketika usianya masih sangat muda, yakni 20 tahun. Hingga beliau meninggal pada usia 25 tahun(1904), pemikiran-pemikirannya terus ia tuangkan dalam surat-surat yang ia tujukan untuk kawannya di Negeri Belanda tersebut.

Pada masanya, Kartini dalam usianya yang masih belia telah mengambil sikap yang cukup berani dan “tidak wajar” bagi kebanyakan perempuan muda masa itu. Kartini muda dengan tegas menggugat sistem sosial dan budaya patriarki yang merupakan bagian dari kultur Feodal. Budaya patriarki-feodal dilestarikan oleh penguasa kolonial yang berkepentingan untuk melakukan ‘pemerasan’ sumber daya alam dan manusia nusantara. Kombinasi kultur feodal dan sistem kapitalis-kolonial tersebut menimbulkan penderitaan yang hebat bagi penduduk pribumi, terutama kaum perempuannya yang harus mengalami keterbelakangan di segala aspek kehidupan. Kartini muncul dengan semangat pembebasan bagi kaum dan bangsanya dari semua kungkungan sistem politik, ekonomi dan budaya yang menindas.

Kini, sebagian kaum perempuan Indonesia telah menikmati apa yang dahulu Kartini perjuangkan, yakni kebebasan mengakses pendidikan, pekerjaan serta partisipasi politik. Namun realitasnya belum semua kaum perempuan negeri ini dapat meraih hak-hak asasinya sebagai mana layaknya warga negara yang lain. Di negeri yang telah merdeka hampir 65 tahun ini, mayoritas kaum perempuan masih menjadi kelompok sosial yang paling miskin. Merujuk pada data Asian Development Bank (ADB) pada tahun 2005, 70% perempuan Indonesia termasuk dalam kategori miskin. Ketidak mampuan secara ekonomi telah menyebabkan banyak kaum perempuan kesuilitan bahkan tidak mampu mengenyam pendidikan hingga level perguruan tinggi.

Kondisi ini diperparah oleh makin massifnya liberalisasi dan komersialisasi pendidikan yang dilakukan negara melalui serangkain kebijakan seperti UU Sisdiknas No.20/2003 yang merubah status beberapa perguruan tinggi negeri(PTN) menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) serta Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang bersifat komersil.Kedua kebijakan tersebut menimbulkan dampak makin tidak terjangkaunya dunia pendidikan oleh kalangan miskin, termasuk mayoritas kaum perempuan. Terlihat adanya pola sistematis dan terstruktur dari pihak negara dalam proses pemiskinan kaum perempuan dan kelompok sosial lainnya seperti buruh dan petani. Negara abai terhadap amanat konstitusi yang memberikan mandat bagi negara untuk memenuhi hak warga negara dalam mendapatkan pendidikan (Pasal 31 UUD 1945).Alih-alih menjalankan amanat konstitusi, negara justru memproduksi banyak kebijakan yang bertentangan dengan semangat konstitusi dan lebih mengikuti arus neo-liberalisme yang menjerumuskan bangsa.

Dengan realitas yang demikian, dibutuhkan hadirnya “Kartini-Kartini baru” dari generasi muda perempuan Indonesia yang berani menggugat ketidak adilan dan kebobrokan dari sistem yang memiskinkan kaum perempuan saat ini. Dahulu, Kartini muda bergulat melawan budaya patriarki dan sistem kolonial yang memasung kebebasan kaumnya, maka Kartini muda masa kini berjuang melawan sistem penjajahan gaya baru, Neo-liberalisme. Kartini, di usia belianya terpanggil melakukan tindakan nyata melalui aksi sosial dan tulisan demi pembebasan kaum dan bangsanya, maka diperlukan juga aksi nyata dari Kartini masa kini demi kesejahteraan perempuan dan bangsa Indonesia. Momentumnya telah tiba, saatnya kita menyambut kehadiran Kartini baru di negeri ini. Selamat Hari Kartini.

Hiski Darmayana,

Alumnus  Antropologi FISIP

Universitas Padjadjaran

Kader GMNI Sumedang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 29, 2014 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters