gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

BAHASA DAN GENDER

Bahasa yang berfungsi sebagai instrumen komunikasi antar manusia dipengaruhi juga oleh aspek-aspek lainnya dalam ragam dimensi kehidupan manusia. Contohnya ada bahasa yang dipengaruhi oleh kehidupan sosial manusia, yang kemudian memunculkan studi sosio linguistik. Selain itu bahasa yang dipengaruhi oleh corak kultural suatu masyarakat, misalnya muncu logat dan aksen dari bahasa yang dipakai suku bangsa tertentu. Hal ini kemudian melahirkan studi etno-linguistik.

Salah satu aspek yang mempengaruhi bahasa dalam kehidupan manusia ialah seksualitas atau gender. Studi tentang bahasa yang dipengaruhi aspek gender dirintis oleh Mary Haas (1944-1964) yang mengkaji bentuk-bentuk bahasa yang digunakan oleh kelompok pria dan wanita pada masyarakat pribumi Amerika di Louisiana Barat. Selain itu, Francis Ekka (1972) juga meneliti tentang penggunaan bahasa secara seksis pada kelompok masyarakat Kurux, sebuah komunitas kecil Dravidian di India.

Douglas Taylor (1951) juga menelaah penggunaan kata-kata tertentu pada kelompok laki-laki di Dominika, namun tidak menemukan hal yang sama pada kelompok perempuannya. Penggunaan kata pada kelompok laki-laki ini bahkan berkaitan dengan kualitas, negara dan tindakan seorang laki-laki. Seperti itulah realita perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan pada masyarakat Dominika di Kepulauan Karibia.

Kaitan antara bahasa dan seks merefleksikan relasi antara satu aspek kehidupan manusia dengan aspek lainnya yang memang tidak terpisahkan. Keterkaitan ini juga mencerminkan adanya perbedaan yang fundamental dalam penggunaan bahasa dan bentuknya berdasarkan gender dalam beberapa masyarakat, salah satunya masyarakat Kurux yang dianalisis oleh Ekka (seperti yang telah disinggung sebelumnya). Ekka memandang pembedaan bahasa dengan berbasiskan gender bermakna sebagai batasan sosial antara laki-laki dan perempuan.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari bahasan singkat ini ialah bahwa bahasa bukanlah sekedar alat komunikasi antar manusia, namun lebih dari itu. Bahasa juga berfungsi sebagai instrumen ‘pembatas’ antar berbagai unsur sosial, entah itu kelas sosial, gender dan suku bangsa. Dalam konteks kelas sosial misalnya, di beberapa kebudayaan terdapat adanya tingkatan bahasa berdasarkan status ekonomi tertentu, misalnya undak-unduk basa dalam bahasa Sunda. Sementara pembedaan bahasa berdasarkan gender, dapat ditemukan dalam masyarakat Kurux dan kaum indigeneous di Lousiana Barat, Amerika Serikat. Sampai kapankah bahasa memunculkan ‘dirinya’ sebagai sekat sosial di antara manusia, selama manusia masih menganggap adanya suatu hal yang dianggap prestise dan masih mengenal stratifikasi sosial dan ekonomi, maka selama itu pula bahasa akan muncul sebagai ‘pembatas’ antara kelompok manusia satu dengan kelompok manusia yang lain.

Hiski Darmayana
Alumnus Antropologi FISIP Unpad

Kader GMNI Sumedang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 20, 2014 by in Semua untuk Semua.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.451 pengikut lainnya

Visitors

free counters