gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Kearifan Lokal Komunitas Dayak Indramayu*)

Oleh : Hiski  Darmayana**)

 

Ketika membaca judul tulisan ini, mungkin anda akan merasakan adanya suatu kerancuan. Kerancuan itu terutama pada korelasi antara kata keempat dan kelima dari judul tulisan, “Dayak Indramayu”. Adakah suku dayak di Indramayu? Bukankah dayak merupakan etnis yang berdomisili di pulau Kalimantan?

Ternyata di Kabupaten Indramayu, tepatnya di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, terdapat komunitas yang menamakan dirinya sebagai komunitas Dayak atau lebih lengkapnya komunitas Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu. Mendengar nama lengkap komunitas ini pun pasti akan menimbulkan tanda tanya besar pula dibenak kita, terutama bila dicermati adanya dua kata yang merujuk pada nama dua agama besar yang berasal dari India, Hindu dan Budha. Ada makna apa dibalik nama-nama ini? Komunitas macam apakah mereka sebenarnya?

Makna dibalik Nama

Suku Dayak Indramayu sama sekali tidak ada hubungannya dengan suku Dayak yang ada di Kalimantan meski mereka menggunakan nama dan berpenampilan layaknya suku Dayak Kalimantan. Mereka merupakan bagian dari wong dermayu atau penduduk Indramayu yang pada umumnya menggunakan bahasa dengan dialek Jawa-Cirebon. Dalam aspek bahasa dan ras (ciri khas biologis), mereka tidak banyak berbeda dengan wong dermayu lainnya. Perbedaan mereka dengan kebanyakan orang Indramayu lainnya terletak pada  adat istiadat, kepercayaan serta penampilan yang mereka jalankan serta perlihatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, nama lengkap komunitas ini adalah Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu. Tidak seperti yang kita pikirkan ketika mendengar nama tersebut pertama kali, nama komunitas yang kini beranggotakan sekitar 400 jiwa itu mengandung makna filosofis yang dalam. Ki Takmad Diningrat, yang merupakan tokoh sentral komunitas ini, mengungkapkan bahwa nama Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu menyimpan suatu falsafah hidup yang dijadikan pedoman oleh anggota komunitas ini. Kata ‘suku’ artinya ‘kaki’ yang memiliki makna bahwa setiap individu memiliki tujuan masing-masing dalam kehidupannya di alam ini. Sementara kata ‘Dayak’ berarti ‘ngayak’ atau menyaring berbagai pilihan yang ada dihadapan  manusia dalam menjalani hidupnya, yang seringkali terjebak dalam “opisisi binner”, benar atau salah.

Sedangkan kata ‘Hindu’ bermakna awal atau embrio dari kehidupan manusia ketika berada dalam kandungan ibu. Hal ini juga berfungsi mengingatkan setiap individu akan besarnya peranan ibu atau wanita dalam mempersiapkan seseorang untuk lahir dan memulai kehidupan di dunia ini. Kata ‘Budha’  artinya ‘wuda’ atau telanjang. ‘Ketelanjangan’ ini merupakan suatu refleksi atas hakikat hidup manusia yang sejatinya haruslah penuh dengan kejujuran dan kemurnian serta menyatu dengan alam. Hal inilah yang menjelaskan sebab dari penampilan Suku Dayak Indramayu yang memang tidak mengenakan pakaian (hanya mengenakan celana sebatas lutut) dalam kehidupan sehari-hari. Sementara kata “Bumi Segandu” berarti puser bumi atau alam, merefleksikan kecintaan terhadap alam. Kata Indramayu pun memiliki makna dalam filosofi mereka, yakni ‘darma’ atau bakti pada orang tua serta ‘ayu’ yang berarti perempuan. Jadi bakti yang wajib ditunaikan oleh setiap individu adalah pengabdian pada orang tua, terutama orang tua perempuan. Dalam hal ini terlihat suatu penghormatan  yang besar terhadap kaum wanita dalam komunitas ini.

Posisi kaum wanita yang terhormat dalam komunitas ini juga terlihat dari konsep kepercayaan yang dianut oleh suku Dayak Indramayu, “Sejarah Alam Ngaji Rasa”. Dalam kepercayaan tersebut, sosok Tuhan atau zat yang memberi kehidupan bagi manusia dipersonifikasikan dengan figur wanita. Mereka menamakannya Nyi Dewi Ratu.  Aplikasi keberagamaan komunitas pimpinan ki Takmad ini diwujudkan dengan memperlakukan istri atau kaum wanita dengan penuh kasih. Pengkhianatan, kekerasan serta kebohongan yang ditujukan pada istri (wanita) dilarang keras dan merupakan dosa besar.

Dalam konsepsi ajaran Sejarah Alam Ngaji Rasa, Nyi Dewi Ratu adalah sumber kebenaran hidup. Oleh karenanya, sang dewi harus dipuja dengan cara  “ngajirasa” atau  melakukan berbagai lelaku atau amalan. Amalan yang paling utama adalah kasih sayang dan kesetiaan kepada istri.

Selain penghormatan yang tinggi pada kaum wanita, suku Dayak Indramayu juga menjalankan beberapa ritual yang menggambarkan kecintaan mereka terhadap Tuhan dan alam. Ritual untuk menyembah sang penguasa alam dilakukan dengan 2 cara, yang biasa disebut laku pepe dan laku kungkum. Laku pepe dilakukan dengan berjemur diri dibawah sinar matahari. Sementara laku kungkum dilaksanakan dengan cara merendam tubuh di dalam air hingga sebatas leher. Ritual ini dilakukan dari pukul 24.00 hingga pukul 06.00 WIB.

Stigmatisasi Sesat

Awal mula dari suku Dayak Indramayu adalah suatu perkumpulan yang bernama Jaka Utama yang terbentuk diawal dekade 1970-an. Perkumpulan ini merupakan sebuah pergerakan masyarakat yang dipimpin oleh ki Takmad dengan tujuan memperbaiki moral masyarakat serta menjaga kelestarian lingkungan. Selama memimpin pergerakan tersebut, ki Takmad terus melakukan kontemplasi serta pengkajian terhadap berbagai problema yang muncul dalam kehidupan masyarakat. Hal ini menyebabkan ki Takmad dipandang sebagai seorang spiritualis baik oleh pengikutnya maupun masyarakat luas. Bahkan ada yang mencibir ki Takmad sebagai dukun.

Buah dari berbagai permenungan yang dilakukannya, ki Takmad pun berniat membentuk suatu komunitas yang bertujuan mengajarkan kebenaran hakiki kepada masyarakat. Namun metode pengajarannya bukanlah dengan doktrinasi, melainkan konkretisasi melalui perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Maka, Takmad beserta para pengikutnya dalam Jaka Utama pun meleburkan diri dalam komunitas yang kini dikenal dengan nama Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu dengan ajaran “Sejarah Alam Ngaji Rasa”  sebagai pedoman hidup para pengikutnya. Bila ditinjau lebih jauh, ajaran Sejarah Alam merupakan kombinasi dari kearifan lokal Jawa (Kejawen) serta hasil kontemplasi ki Takmad sebagai seorang spiritualis.

Oleh karena kepercayaan dan laku hidup yang berbeda itulah, komunitas ini difatwakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat pada tahun 2007. Fatwa yang teramat keliru, karena sesungguhnya para elit politik dan agama dinegeri inilah yang perlu belajar dari mereka mengenai keberagamaan yang substansial, bukan hanya sebatas formalitas belaka. Bukan rahasia lagi, banyak petinggi negeri dan pemuka agama yang memamerkan kesalehan mereka untuk menutupi mentalitas mereka yang sesungguhnya, mentalitas korup, penindas dan komprador.

(Dari berbagai sumber)

Tulisan ini dimuat dalam rubrik Sisi Lain Berdikari Online*)

Penulis adalah kader GMNI Sumedang dan alumni Antropologi Unpad**)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 17, 2014 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters