gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Pemberontakan Rakyat, Sebuah Keniscayaan Sejarah*)

Oleh : Hiski Darmayana**)

Keberhasilan pemberontakan rakyat dalam menggulingkan para penguasa tiran di Tunisia dan Mesir baru-baru ini cukup mencengangkan dunia. Betapa tidak, sistem politik otoritarian yang militeristik dan korup serta ditunjang oleh dukungan kekuatan imperialis Barat tidak mampu menahan amarah jutaan rakyat yang sudah jenuh dengan represifitas dan regresifitas rezim. Satu pelajaran penting yang dapat kita ambil disini ialah, ketika rakyat sudah marah, maka tiada satupun apparatus represif maupun ideologis Negara mampu menahannya.

 

Tunisia dan Mesir, Penyebar Virus Revolusi

            Penggulingan rezim diktator-despotik Ben Ali dan Hosni Mubarak oleh people poweryang digerakkan rakyat yang marah dan lapar menunjukkan ketidak ampuhan mekanisme ekonomi pasar yang ditutup oleh sistem kediktatoran militeristik dalam menjamin hak hidup layak sebagian besar rakyat. Pertumbuhan ekonomi Tunisia dan Mesir hanya menguntungkan segelintir elit ekonomi dan politik yang menjadi kartel sang penguasa (bandingkan dengan kualitas pertumbuhan ekonomi masa pemerintahan SBY kini). Sementara data World Bank menunjukkan 80% rakyat Mesir hidup dengan 2 dollar per hari (bandingkan lagi dengan data kemiskinan di Indonesia dengan standar yang sama). Tunisia pun tidak menunjukkan situasi yang jauh berbeda. Tidak heran pasca tergulingnya rezim Ben Ali, rakyat Tunisia serentak menghancurkan asset-aset ekonomi milik kroni-kroni Ben Ali beserta konglomerasi yang dibesarkan olehnya.

Revolusi yang terjadi di kedua Negara Maghribi tersebut kini bagaikan menyebarkan “virus” ke Negara-negara Afrika Utara dan Timur Tengan lainnya yang memiliki sistem ekonomi dan politik yang hampir serupa, yakni menguntungkan segelintir elit dan menyengsarakan mayoritas rakyat. Rasa takut di kalangan rakyat yang selama puluhan tahun direproduksi oleh pemerintah melalui ancaman apparatus represifnya perlahan sirna karena rasa lapar dan kesengsaraan hidup yang tiada tertahan. Kemiskinan, kesulitan akses kebutuhan pokok serta pengangguran yang mewabah rakyat dalam genggaman rezim tiran menjadi katalisator pemberontakan yang menghancurkan tembok tebal kediktatoran penguasa. Ingat, Soeharto juga terjungkal dari tahtanya karena ketidak mampuan pemerintahannya dalam memenuhi kebutuhan pokok dan pertumbuhan ekonomi yang minus pemerataan.

Fenomena “virus revolusi” dari Tunisia dan Mesir ini, meskipun masih ada beberapa kelemahan, telah menunjukkan kepada setiap rezim diktator dan represif di seluruh muka bumi ini agar tidak meremehkan jutaan rakyat miskin yang setiap saat dapat “bertiwikrama” menjadi raksasa berkekuatan dahsyat bagaikan sang Krisna ketika sedang dilanda amarah.Bahkan bukan hanya rezim diktator yang harus takut akan ancaman revolusi terhadap kebersinambungan rezimnya, namun juga rezim yang dari “kulitnya” terlihat demokratis tetapi hakikatnya hanya menjadi pelayan segelintir elit dan terjerumus dalam patronase imperialisme. Karena faktor utama meletusnya revolusi atau pemberontakan rakyat adalah krisis kesejahteraan massif yang membuahkan frustasi sosial, dan situsasi itu kongruen dengan sistem kapitalisme liberal yang dibalut dengan sistem demokrasi liberal. Sebagai bukti, tinjau saja fenomena yang terjadi di Eropa Barat akhir-akhir ini, ketika rezim berkuasa mencabut satu-persatu subsidi kesejahteraan buruh dan pekerja yang mengakibatkan demonstrasi atau pemogokan massal seperti yang telah terjadi di Perancis dan Yunani.

 

Kekuatan Rakyat Miskin: Pemegang kekuasaan sebenarnya

            Suatu hal yang dapat kita teladani dari mewabahnya “virus” revolusioner yang melanda Afrika Utara adalah kekuatan ribuan bahkan jutaan rakyat miskin lah pengendali kekuasaan sebenarnya dalam sebuah negeri. Sejarah peradaban manusia dari era perbudakan Romawi dan Yunani kuno hingga masa kini menunjukkan bahwa pemberontakan yang dipimpin kaum miskin telah menghasilkan perubahan sosial yang berpengaruh bagi perkembangan peradaban manusia. Meskipun tak selalu berhasil menumbangkan rezim atau sistem represif, pemberontakan kaum miskin setidaknya menciptakan inspirasi bagi para pelopor rebellion di generasi berikutnya untuk tetap meruntuhkan sistem kekuasaan yang tidak berpihak pada kaum miskin.

Dalam ilmu sosial telah dijelaskan melalui paradigma konflik, bahwasanya ketika ada segelintir manusia menguasai sebagian besar sumber daya (ekonomi dan politik), maka hal itu akan memicu perlawanan dari sebagian besar orang yang memiliki akses minim terhadap sumberdaya. Perlawanan inilah yang termanifsetasi dalam revolusi atau pemberontakan. Sejarah manusia telah membuktikkan bila revolusi dan pemberontakan akibat kesenjangan kepemilikan sumber daya merupakan suatu keniscayaan.

Kini, seringkali penulis rasakan dalam atmosfer rezim (yang katanya) demokratis sekalipun, muncul ketakutan di kalangan rakyat untuk sekedar bersuara mengungkapkan kebobrokan penguasa yang alpha dalam memenuhi hak hidup layak sebagian besar rakyat. Indonesia kini adalah contoh mutakhir. Ketakutan untuk bersuara melalui aksi demonstrasi, pemogokan, hingga ketakutan untuk bersuara melalui cara-cara yang lebih elegan dan kreatif seperti menulis, bernyanyi, teatrikal dan menciptakan jejaring dalam dunia maya seperti facebook sangat terlihat direproduksi dalam masyarakat kita.

Yang menyedihkan lagi, sebagian kalangan kelas menengah terdidik juga terjangkiti “virus” ketakutan semacam itu, padahal mereka adalah kelas sosial yang cukup independen dan tidak terlibat patronase kekuasaan. Cuma paradigma pragmatis dan apatis terhadap kondisi rakyat yang makin menyengsarakan menjadikan mereka tidak peduli akan kenyataan yang makin memburuk. Ditambah lagi dengan hegemoni apparatus ideologis Negara melalui institusi dan media massa yang menjadi intrumen hegemoni, telah mengakibatkan sebagian kelas menengah mandul pemikiran dan rasa empatinya. Dalam hal ini, penulis menaruh rasa hormat yang sebesar-besarnya kepada tokoh lintas agama yang berani menyuarakan kebohongan dan kegagalan pemerintah yang kini berkuasa dalam menciptakan kesejahteraan merata dan melindungi seluruh tumpah darah bangsa. Para tokoh agama itu tidak mampu dijerat oleh hegemoni penguasa, bahkan dengan gagah berani melawannya.

Ingat, hakikat dari demokrasi sejati adalah kecurigaan kepada pemerintahan berkuasa, bukannya ketakutan bagi rakyat. Setiap tindak laku pemerintah, apalagi yang telah memegang mandat rakyat melalui pemilu, harus terus dikontrol segala tindak laku dan kebijakannya. Apakah setiap policy nya berpihak pada kesejahteraan rakyat miskin negeri ini, ataukah pada segelintir konglomerat dan pemodal asing. Realitasnya ribuan petani kini menjadi korban kebijakan agraria dan kehutanan pemerintah yang lebih berpihak pada pemilik modal. Hal ini dapat kita jadikan indikator awal untuk menentukan sikap, apakah rezim berkuasa di Indonesia layak menerima hal yang sama seperti yang diterima oleh “rekan-rekannya” di Afrika Utara dan Timur Tengan atau tidak. Kebenaran bukanlah milik pihak yang berkuasa, ketakutan bukanlah milik rakyat. Kebenaran sejati hanyalah satu, musnahnya penghisapan dan penindasan antar manusia di bumi ini, dan tugas kita lah untuk mewujudkannya. Mewujudkan “bangunan surga” di atas puing-puing neraka muka bumi.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip salah satu bait lirik lagu Save Our Soul, Bondan Prakoso feat Fade 2 Black:

“ Wake up every one, cause now its time to face the REVOLUTION..

Save our soul, Build the NEW WORLD,

Save Our Soul, Wait for Changeover…  REVOLUTION !!!”

Ketika pemerintah melanggar hak-hak Rakyat, maka pemberontakan menjadi sah bagi rakyat dan untuk setiap orang ini menjadi hak yang suci dan kewajiban yang penting.” (Artikel 35 Konstitusi Republik Perancis 1793)

Jika kau melihat seorang pangeran tidak memerintah sesuai dengan hukum dan akhlaknya memburuk menjadi seorang tiran, penggulingan dengan kekerasan diperbolehkan dan dibenarkan.” (John Salibury)

Tulisan ini dibuat dalam rangka menyambut keruntuhan Ben Ali dan Mubarak*)

Penulis adalah alumni Antropologi FISIP Unpad dan Kader GMNI CABANG SUMEDANG**)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Januari 13, 2014 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters