gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

RUMAH BETANG, MANIFESTASI GOTONG ROYONG SUKU DAYAK*)

 

Oleh : Hiski Darmayana**)

Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki rumah adat yang merefleksikan sistem nilai dari kebudayaan suku bangsa yang bersangkutan. Salah satu suku tersebut adalah suku Dayak di Kalimantan, dengan rumah adatnya yang khas, rumah Betang. Rumah Betang adalah rumah adat khas masyarakat Dayak yang terdapat di daerah hulu sungai (Riwut,2006). Daerah hulu sungai tersebut biasanya menjadi pusat pemukiman suku Dayak. Hal ini disebabkan sungai merupakan jalur transportasi utama bagi suku Dayak untuk melakukan berbagai aktivitas sehari-hari, seperti berladang, yang merupakan pola produksi utama suku Dayak serta aktivitas perdagangan.

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, suku Dayak pada umumnya berdomisili di daerah hulu sungai. Kondisi ekologis ini berpengaruh pada bentuk rumah Betang yang pada umumnya berbentuk panggung dengan ketinggian tiga hingga lima meter dari tanah. Bangunan rumah Betang yang berbentuk demikian berfungsi untuk menghindari banjir pada musim hujan yang kerap melanda daerah hulu sungai di Kalimantan.

Komunalisme dalam rumah Betang

 

Dalam rumah Betang berdiam belasan rumah tangga yang biasanya terdiri dari100-150 jiwa. Yang penting untuk diingat ialah bahwa mereka yang tinggal di rumah Betang tidak selalu berasal dari satu kelompok kekerabatan (klan) yang sama. Jadi tradisi rumah Betang memperlihatkan komunalisme suku Dayak yang berbasiskan pluralitas (Laksono,2006). Meskipun memang ada dominasi dari satu klan tertentu dalam rumah Betang yang dipimpin oleh seorang Pambakas Lewu.

Pada bagian dalam rumah betang terdapat beberapa ruangan yang dihuni oleh setiap keluarga batih. Setiap keluarga menempati bilik (ruangan) yang di bagi-bagi dan dibatasi oleh sekat-sekat dalam rumah Betang tersebut. Di halaman depan rumah betang terdapat balai sebagai tempat menjamu tamu dan juga tempat pertemuan adat. Selain balai, juga dapat dijumpai sapundu di halaman betang. Sapundu adalah sebuah patung atau totem berbentuk manusia yang berfungsi sebagai tempat untuk mengikat binatang-binatang yang akan dikurbankan untuk keperluan ritual upacara adat. Pada beberapa halaman rumah betang, juga dapat ditemukan adanya patahu yang berfungsi sebagai tempat pemujaan (Paulus, 1994).

Sementara di bagian belakang rumah betang terdapat sebuah balai kecil yang disebuttukau, yang berfungsi sebagai gudang tempat menyimpan alat-alat pertanian, seperti lisung atau alu. Rumah betang juga memiliki tempat yang dijadikan sebagai tempat penyimpanan senjata tradisional yang disebut bawong. Ada pula sebuah tempat penyimpanan tulang-tulang keluarga yang sudah meninggal yang dinamakan Sandung.

Dalam kehidupan rumah betang juga dapat ditemukan pranata peradilan yang berfungsi sebagai wadah penyelesaian pertikaian atau sengketa yang terjadi diantara penghuni rumah. Pertikaian antar anggota rumah betang diselesaikan oleh tetua adat. Jadi sedapat mungkin setiap kemelut yang dapat mempengaruhi kehidupan rumah betang diselesaikan secara adat dalam ruang lingkup rumah betang yang bersangkutan.

Fungsi lainnya dari rumah betang ialah berperan sebagai distributor tenaga kerja dan hasil kerja antar keluarga. Dalam sistem berladang yang mereka lakukan biasanya sering terjadi barter tenaga kerja antar keluarga. Adanya pasokan tenaga kerja tambahan dari keluarga lain yang berdiam di rumah betang yang sama memberi nuansa lain dalam kehidupan rumah betang serta sistem berladang yang menjadi mata pencaharian mereka.

Sistem komunal dalam rumah betang ditunjukkan dengan sistem kepemilikan bersama dalam pengelolaan rumah maupun tanah tempat rumah betang berdiri. Semua keluarga yang mendiami rumah betang secara bersama menguasai pula semua tanah diwilayah rumah betang. Hak pengelolaan wilayah rumah betang merupakan hak sekunder, sedangkan hak primer atau hak pengelolaan rumah juga dipegang oleh setiap keluarga atau kelompok keluarga kecil yang memiliki ikatan kekerabatan. Komunalisme tersebut merupakan bukti adanya egalitarisme yang kokoh dalam masyarakat Dayak.

Berbagai deskripsi mengenai rumah betang tersebut memperlihatkan bahwa rumah betang sebenarnya adalah pusat dari sistem sosial masyarakat Dayak. Budaya Betang adalah budaya yang merefleksikan nilai gotong royong, solidaritas dan tenggang rasa. Solidaritas sosial yang tinggi diantara penghuni rumah betang dapat terlihat bila salah satu anggota keluarga ada yang meninggal dunia, maka segera diberlakukan masa berkabung selama satu minggu bagi semua penghuni rumah dengan tidak menggunakan perhiasan, tidak menggunakan peralatan elektronik dan pelarangan minum tuak.

Kebersamaan dalam kehidupan orang Dayak dalam rumah Betang juga ditunjukkan melalui pengaturan kehidupan tiap individu dalam rumah Betang oleh suatu kesepakatan bersama yang dihimpun dalam susunan hukum adat. Keamanan bersama, pembagian makanan, serta mobilisasi tenaga untuk berladang termasuk hal-hal yang diatur dalam aturan adat sebagai hasil dari musyawarah segenap warga rumah betang. Kehidupan rumah betang yang menitik beratkan pada kebersamaan dan permufakatan adalah manifestasi dari nilai-nilai gotong royong yang menurut Bung Karno merupakan ciri khas sosialisme Indonesia.

Tergerusnya budaya Betang

 

Saat ini budaya betang kian tergerus oleh arus modernisasi dan kapitalisme yang melanda negeri ini, tak terkecuali pulau Kalimantan. Rumah betang yang menjadi sentral kehidupan sosial masyarakat Dayak secara perlahan menghilang di Kalimantan. Bila masih bisa ditemukan, penghuninya tidak lagi menjadikan rumah betang sebagai tempat tinggal utama. Lenyapnya budaya rumah betang terkait erat dengan perubahan sistem produksi sebagian orang Dayak. Transformasi dari sistem perladangan menjadi pertanian intensif, pertambangan serta perkebunan sawit terjadi seiring dengan ekspansi para pemilik modal tambang atau HPH. Fakta yang juga membuat miris ialah hampir separuh dari pemilik modal yang mengeruk kekayaan alam tambang dan sawit Kalimantan adalah pemodal asing.

Perubahan itu telah berdampak pada sistem sosial orang Dayak yang juga tidak lepas dari arus modernisasi dan kapitalisasi yang merambah bumi tempat mereka berpijak. Masyarakat Dayak yang semula hidup komunal berubah mengalami ‘atomisasi’ seiring dengan kuasa modal yang hanya menjadikan mereka “sekrup-sekrup” kecil dalam sistem produksi yang dijalankan kaum kapitalis. Akibatnya, budaya betang yang sarat dengan nilai gotong royong pun tergeser oleh orientasi individual akan akumulasi profit yang tiada pernah habis. Akumulasi laba pun menjadi “nabi baru” bagi mereka yang terperosok dalam kubangan kapitalisme.

*)Tulisan ini dimuat di rubrik Sisi Lain Berdikari Online

**)Penulis adalah alumni Antropologi UNPAD dan Kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Sumedang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 28, 2013 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters