gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

TRADISI SEREN TAUN MASYARAKAT CIGUGUR*)

Oleh : Hiski Darmayana**)

Masyarakat adat Cigugur yang berdomisili di kaki gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan memiliki tradisi yang terkait erat dengan kehidupan agraris masyarakat Sunda Buhun. Tradisi tersebut ialah Seren Taun, sebuah manifestasi rasa syukur pada Sang Pencipta yang sarat dengan nilai gotong royong. Upacara Seren Taun sendiri tidak hanya dimilliki oleh masyarakat Cigugur, namun juga komunitas adat Sunda lain seperti masyarakat Baduy di desa Kanekes, masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul di Ciptagelar serta komunitas adat Sumedanglarang di Rancakalong.

Tahapan Upacara Seren Taun 

Puncak upacara Seren Taun dilaksanakan setiap tanggal 22 rayagung dalam sistem kalender Sunda. Seperti yang dikatakan sesepuh adat masyarakat Cigugur, Pangeran Djatikusumah, bulan rayagung merupakan bulan kedua belas atau bulan yang berada di penghujung tahun. Pada bulan inilah tahun Saka dalam sistem penanggalan Sunda yang menjadi pedoman masyarakat Cigugur berakhir.  Jadi tradisi Seren Taun merupakan perwujudan rasa syukur masyarakat adat Cigugur atas hasil panen yang melimpah selama satu tahun.

Prosesi adat Seren Taun sebenarnya didahului oleh Pesta Dadung yang dilaksanakan sepekan sebelum tanggal 22 Rayagung. Pesta Dadung digelar di kawasan Situ Hyang, sebuah kawasan perbukitan yang dipercaya oleh masyarakat Cigugur sebagai “tempat pembuangan” hama. Selain ritual membuang hama, Pesta Dadung juga diisi oleh doa permohonan keselamatan bagi petani, gembala serta sawah dan ternak. Diakhir pesta Dadung, beberapa petani menari sebagai ungkapan kegembiraan mereka setelah setahun berjuang di areal persawahan untuk memproduksi pangan bagi masyarakat Cigugur. Dalam hal ini terlihat adanya suatu ‘reward’ atau penghargaan bagi kaum tani yang telah berjasa bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat Cigugur akan pangan.

Sehari setelah pesta dadung, diadakan kembali prosesi seni yang biasa disebut sebagai Balong Girang. Prosesi ini ditandai dengan adanya alunan musik yang berasal dari tepukan-tepukan tangan warga di air kolam. Acara ini menjadi bagian dari rangkaian hiburan yang diadakan sebelum upacara puncak perayaan Seren Taun digelar.

Selain kedua acara tersebut, berbagai pegelaran seni tradisional serta pameran kesenian dari berbagai masyarakat adat baik di wilayah tatar Sunda maupun luar Jawa Barat juga digelar guna menyambut upacara puncak Seren Taun. Selain acara seni, diadakan pula dialog atau seminar yang mengetengahkan tema-tema kemasyarakatan, keagamaan serta budaya. Topik yang paling sering dibahas adalah masalah diskriminasi yang masih membelit masyarakat adat di Indonesia, termasuk masyarakat Cigugur sendiri.

Sehari sebelum tanggal 22 Rayagung, dipertunjukkan pagelaran seni tari Badaya Nyi Pwah Aci Sang Hyang Sri oleh para wanoja (gadis) Cigugur. Tarian ini dipersembahkan untuk Dewi Sri yang diyakini sebagai dewi padi dalam mitologi masyarakat Sunda.

Memasuki tanggal 22 rayagung, upacara puncak Seren Taun pun dimulai. Diawali dengan bunyi gong renteng yang menandai dimulainya prosesi Seren Taun, masyarakat adat Cigugur pun bersiap menyambut tahun yang baru dengan penuh sukacita. Setelah bunyi gong renteng mengalun syahdu, terdengar pula alunan musik kecapi bercampu suling khas Pasundan yang mengiringi lagu rajah bubuka (pembuka) serta puisi yang berisi penjelasan makna dari tradisi Seren Taun.

Usai moment tersebut, perayaan Seren Taun dilanjutkan dengan pertunjukan seni tari Buyung, sebuah tarian khas Cigugur yang dipentaskan oleh para wanoja Cigugur. Tari buyung ini merupakan hasil kreasi kerabat perempuan Pangeran Djatikusumah. Makna dari tarian ini adalah simbolisasi kemanunggalan hidup manusia dengan bumi yang dipijak. Sehingga tidak selayaknya manusia melakukan marjinalisasi terhadap nilai-nilai kebudayaan yang erat kaitannya dengan kondisi ekosistem.

Kesenian khas Cigugur lainnya yang menjadi bagian dari rangkaian prosesi adat Seren Taun pada tanggal 22 rayagung adalah pergelaran angklung buncis yang dipertunjukkan oleh para pemuda Cigugur. Disamping itu, seni pertunjukan angklung khas suku Baduy dari Kanekes juga dipentaskan pada tanggal 22 rayagung.

Klimaks dari upacara adat Seren Taun ditandai dengan upacara ngajayak atau menjemput hasil bumi (padi), yang diawali dengan munculnya serombongan muda-mudi Cigugur dari berbagai penjuru mata angin. Rombongan pasangan muda-mudi yang berjumlah sebelas pasang tersebut membawa hasil bumi yang tersimpan dalam suatu wadah yang terbuat dari anyaman bambu. Rombongan muda-mudi itu diiringi oleh kaum ibu yang juga membawa hasil bumi ditampah dengan kepalanya masing-masing. Iring-iringan kaum ibu tersebut juga disertai oleh rombongan bapak-bapak yang memikul hasil bumi berupa beras dan umbi-umbian dengan alat dongdang dan rengkong.

Seluruh iring-iringan muda-mudi, kaum ibu dan bapak tersebut bergerak menuju ruang Pendopo Gedung Paseban Tri Panca Tunggal, sebuah gedung tempat musyawarah adat masyarakat Cigugur dilangsungkan. Keluarga Pangeran Djatikusumah selaku sesepuh adat masyarakat Cigugur juga berdomisili di dekat gedung Paseban tersebut. Dalam ruangan pendopo Paseban, kaum muda Cigugur secara bergiliran mempersembahkan berbagai hasil bumi kepada tokoh adat Cigugur, tokoh masyarakat Kuningan, pejabat pemerintahan, tokoh agama dan kepercayaan serta tokoh nasional yang khusus diundang pada upacara Seren Taun ini. Prosesi ini diiringi dengan alunan tembang babarit yang berasal dari kidung sunda buhun dan dinyanyikan oleh paduan suara orang tua (rampak sekar).

Sementara kaum ibu serta bapak langsung menuju ke panutuan atau tempat penumbukan padi. Di tempat inilah acara penumbukan padi dilakukan secara bergotong royong oleh sebagian masyarakat Cigugur. Biasanya ada 20 kwintal padi yang ditumbuk secara massal oleh warga Cigugur. Sementara 2 kwintal padi lainnya disimpan di lumbung padi sebagai cadangan logistik.

 

Sosialisme Indonesia 

Bila ditelisik lebih jauh, maka ada nilai-nilai yang terkandung dalam ajaran Bung Karno termanifestasi dalam rangkaian upacara adat Seren Taun. Salah satunya ialah nilai gotong royong yang menjadi inti dari sosialisme Indonesia. Seluruh masyarakat Cigugur dari berbagai latar belakang strata sosial serta agama saling bahu membahu menyukseskan perhelatan tahunan tersebut.

Selain itu, penghormatan terhadap kaum tani sangat terlihat dalam prosesi pesta Dadung. Hal ini kongruen dengan pandangan Bung Karno mengenai kaum tani sebagai sokoguru revolusi nasional.

Tulisan ini dimuat dalam rubrik Suluh situs Berdikari Online*)

Penulis adalah alumni Antropologi dan kader GMNI Cabang Sumedang**)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 17, 2013 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters