gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Ngahuma, Refleksi Persahabatan Orang Baduy dengan Alam

Berladang merupakan suatu sistem atau pola pertanian yang mengubah hutan alam menjadi hutan garapan yang dapat menghasilkan kebutuhan pangan bagi manusia. Proses tersebut berlangsung secara perputaran (siklus). Salah satu kelompok masyarakat di tanah air yang masih melakukan pola pertanian berladang adalah masyarakat Baduy yang berdomisili di desa Kanekes,Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

            Hingga kini, masyarakat Baduy masih melakukan pola pertanian berladang sebagai sistem mata pencaharian utama. Berladang bagi masyarakat Baduy lebih dkenal dengan istilah ngahuma. Tidak berubahnya sistem pertanian mereka menjadi sistem pertanian sawah seperti wilayah Banten dan Jawa Barat lainnya, dikarenakan adanya prinsip tabu atau pamali (larangan secara adat) untuk mengolah tanah dengan pola bersawah.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya larangan tersebut bila dianalisis secara lebih mendalam, seperti faktor geografis,historis serta ekologis. Dilihat secara geografis lahan pertanian masyarakat Baduy terletak di perbukitan sehingga sulit dibuatkan sarana irigasi,yang merupakan persyaratan mutlak bagi berjalannya sistem pertanian sawah.

Secara historis, masyarakat Baduy (menurut beberapa versi sejarah) menjadi penerus tradisi ngahuma masyarakat Sunda Buhun sejak era Tarumanagara hingga masuknya hegemoni politik dan budaya Mataram di wilayah Priangan pada awal abad 17. Karena bila merujuk pada sumber-sumber sejarah Sunda seperti naskah Carita Parahyangan dan Wawacan Sulanjana, masyarakat Sunda adalah masyarakat peladang yang bersifat nomaden. Sementara bila ditinjau dari aspek ekologis, pola ngahumadirasakan cukup menjaga keseimbangan ekosistem terutama karena corak produksi masyarakat Baduy yang bersifat non-akumulasi sehingga tidak mengorbankan kelestarian lingkungan.

Pola pertanian ngahuma yang dilakukan masyarakat Baduy memiliki tahapan-tahapan tertentu dalam proses produksinya. Tahapan-tahapan tersebut ialaha nyacar, penebangan dan pembakaran sisa-sisa hutan, ngaseuk, ngoyos serta masa panen.

Nyacar merupakan pembukaan suatu areal hutan dengan cara dibersihkan terlebih dahulu semak belukarnya. Biasanya pekerjaan ini dilakukan oleh pria dewasa dengan menggunakan alat-alat seperti golok dan parang.

Tahapan berikutnya ialah penebangan pohon-pohon yang berukuran besar dengan menggunakan beliung atau kapak besar. Setelah itu ranting-ranting kayu dari pohon-pohon yang sudah ditebang dibakar.

Setelah pembakaran ranting-ranting kayu,areal hutan tidak langsung digarap melainkan dibiarkan dahulu beberapa waktu lamanya untuk menunggu tanah menjadi dingin. Setelah tanah dirasa telah cukup mampu untuk menerima benih, maka penanaman benih yang berupa biji-bijian dan padi-padian pun dilakukan. Pada masyarakat Baduy pekerjaan ini disebut ngaseuk atau melobangi tanah untuk menanam benih dengan menggunakan aseuk (tongkat kayu sepanjang kira-kira satu setengah meter yang ujungnya runcing).

Begitu proses pembenihan selesai, maka sambil menunggu tibanya masa panen, pembersihan ladang dari rumput-rumput yang tumbuh di sekitar tanaman dilakukan guna memudahkan proses panen kelak. Pekerjaan ini biasa disebut ngoyos oleh masyarakat Baduy.

Rentang waktu antara pembenihan dengan masa panen memakan waktu 3-4 bulan. Setelah tiba masa panen maka diadakanlah upacara selamatan sebagai manifestasi rasa syukur masyarakat Baduy atas hasil panen yang berhasil didapat. Masyarakat Baduy juga secara rutin melaksanakan upacara Seba yang bermakna mengantarkan hasil panen kepada pihak otoritas daerah setempat seperti Bupati Lebak sebagai tanda pengakuan mereka akan adanya kekuasaan politik formal.

Sistem pertanian berladang atau ngahuma yang dilakukan masyarakat Baduy selama ratusan tahun terbukti dapat menjaga keseimbangan ekosistem serta kesinambungan hidup masyarakat Baduy. Kearifan lokal yang ditunjukkan masyarakat Baduy memberikan pelajaran berharga bagi peradaban modern bahwa keberlangsungan hidup manusia tak dapat dipisahkan dari kondisi alam yang menaungi hidup manusia. Manusia hanya bisa survive bila ‘bersahabat’ dengan alam, bukannya ‘membinasakan’ alam dengan berdiri di atas prinsip akumulasi laba.

(Tulisan hasil dari “renungan malam” ini pernah dimuat di rubrik Jeda  Berdikari Online..)

Hiski Darmayana

Alumnus Antropologi FISIP Unpad

Kader GMNI Sumedang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Desember 14, 2013 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters