gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Reog, Seni Perlawanan Dari Ponorogo*)

Oleh : Hiski Darmayana**)

Reog adalah kesenian yang sangat lekat dengan Kabupaten Ponorogo. Bila menyebut nama reog, hampir dapat dipastikan beriringan dengan nama Ponorogo sebagai ‘title’-nya. Hal ini tidaklah aneh, mengingat kesenian reog memang berasal dari Ponorogo.

Selain identik dengan daerah asalnya, seni reog juga erat kaitannya dengan kekuatan fisik para penarinya. Bayangkan, seorang penari dalam atraksi barongan sebagai salah satu bagian dari kesenian reog mampu mengangkat Barongan seberat 50-60 kg dengan giginya! Dengan beban seberat itu, sang penari barongan atau yang dikenal dengan warok, harus menari secara atraktif. Tarian inilah yang menjadi ‘roh’ dari seni pertunjukan reog Ponorogo.

Reog, Seni Perlawanan

Di masa kini, seni Reog lebih dikenal khalayak sebagai seni pertunjukkan yang dijadikan simbol Kabupaten Ponorogo dalam aspek kebudayaan dan pariwisata. Tidak banyak yang menelaah lebih jauh mengenai asal muasal seni reog tersebut. Bila menelusuri sejarah kemunculan reog di Ponorogo, maka dijumpai semangat perlawanan yang sangat kental di dalamnya. Seperti juga di daerah lain di Nusantara.

Mengenai unsur perlawanan terhadap kekuasaan dalam seni reog itu, kita dapat temui dalam versi sejarah kelahirannya. Salah satu versi yang menceritakan hal itu adalah kisah perlawanan dari seorang tokoh Majapahit yang membangkang terhadap kekuasaan Raja Majapahit, Prabu Brawijaya V. Versi resmi Pemerintah Kabupaten Ponorogo, yang tertuang dalam buku Pedoman Dasar Kesenian Reog Ponorogo Dalam Pentas Budaya Bangsa dan diterbitkan pada 1 Agustus 1993, juga serupa dengan versi tersebut dalam menjelaskan tentang asal usul reog Ponorogo.

Menurut cerita itu, reog merupakan hasil kreasi dari salah satu petinggi Majapahit, Demang Ki Ageng Kutu Suryongalam, yang berfungsi sebagai media kritik terhadap kekuasaan raja Majapahit, Prabu Brawijaya V, yang juga bergelar Bhre Kertabumi. Pemerintahan Brawijaya V terkenal korup dan tunduk pada kemauan salah satu istrinya yang bukan orang Majapahit. Salah satu istri raja Brawijaya V tersebut adalah seorang putri dari negeri Cina. Jadi, pemerintahan Brawijaya V dianggap oleh banyak kalangan di Majapahit, termasuk Ki Ageng Kutu, terlalu mudah diintervensi orang asing. Karena itulah Ki Ageng Kutu memutuskan untuk ‘desersi’ dari tugasnya sebagai pejabat Majapahit dan menghimpun kekuatan rakyat di daerah Wengker, yang kini menjadi Ponorogo.

Di daerah inilah Ki Ageng Kutu mengatur strategi dan taktik untuk melawan pemrintahan Majapahit. Akhirnya beliau menyadari bahwa kekuatan rakyat Wengker tidaklah mampu melawan atau bahkan mengalahkan balatentara Majapahit. Maka ia pun memilih bentuk perlawanan lain yang bukan bersifat fisik atau frontal, yaitu melalui kesenian. Seni yang menjadi media perlawanan itulah yang kini kita kenal dengan seni Reog Ponorogo.

Simbolisasi sindiran terhadap penguasa Majapahit dalam pertunjukan Reog tampak pada topeng berbentuk kepala singa yang dinamakan sebagai “Singa Barong”, juga juga simbol Prabu Brawijaya V. Pada bagian atasnya ditancapkan bulu-bulu merak yang melambangkan sang istri dari Cina. Hal tersebut sebagai perlambang adanya pengaruh kuat dari istri sekaligus negeri asalnya, yakni Cina, terhadap jalannya pemerintahan Majapahit. Sementara Jatilan, yang merupakan bagian lain dari pertunjukan reog dengan ciri khas adanya kelompok penari (gemblak) yang menunggangi kuda-kudaan, menjadi simbol dari kekuatan pasukan berkuda Majapahit. Sementara para jathilan yang menunggang kuda melambangkan pasukan Majapahit, seorang warok yang menari dengan menopang topeng singa barong yang beratnya 50-60 kg hanya dengan menggunakan giginya menyimbolkan Ki Ageng Kutu yang harus menanggung beban berat melawan pasukan Majapahit sendirian.

Meskipun hanya melawan melalui wahana kesenian, pemerintahan Majapahit tetap merasakan adanya ancaman pemberontakan dari Wengker. Raja Majapahit pun memohon bantuan pada pihak wali penyebar agama Islam, yang ketika itu berkedudukan di Demak Bintoro. Kemudian, pihak wali pun menugaskan Raden Katong yang masih saudara Raden Patah, penguasa pertama Demak, untuk memadamkan gerakan Ki Ageng Kutu di Wengker.

Akhirnya terjadilah pertarungan antara Raden Katong dengan Ki Ageng Kutu. Pertarungan itu berakhir dengan kekalahan Ki Ageng Kutu, karena kecerdikan taktik dari Raden Katong. Maka Raden Katong diangkat sebagai penguasa daerah Wengker yang berada di bawah kekuasaan Majapahit dan Kerajaan Demak kelak setelah runtuhnya Majapahit.

Pada masa kekuasaan Raden atau Batara Katong, yang dibantu oleh Ki Ageng Mirah, seni reog atau barongan tetap dilestarikan. Tetapi makna perlawanan sebagaimana yang digagas Ki Ageng Kutu sudah dihilangkan. Sebagai gantinya, Ki Ageng Mirah menciptakan kisah fiksi mengenai kerajaan Bantarangin dengan rajanya Klana Sewandono yang sedang jatuh cinta pada puteri dari Kerajaan Kediri, Dewi Sanggalangit. Hasil kreasi Ki Ageng Mirah ini, ditambah dengan nuansa-nuansa Islam yang diadopsi oleh para seniman reog binaan pemerintahan Raden Katong, memberikan makna yang sama sekali baru bagi kesenian Reog. Dan yang jelas sejak saat itu reog tidak lagi dimaknai sebagai seni perlawanan terhadap kekuasaan. Pasca berkuasanya Batara Katong, seni Reog lebih banyak difungsikan sebagai media dakwah penyebaran agama Islam kepada penduduk Wengker yang saat itu masih banyak yang belum menganut Islam.

Reog dan Perlawanan Rakyat Masa Kini

Meskipun nuansa perlawanan dalam seni reog telah dieliminasi sejak dikalahkannya Ki Ageng Kutu oleh Raden Katong, namun hal itu tidaklah menghapus total makna reog sebagai simbol perlawanan rakyat dari memori sebagian kalangan seperti yang tampak pada masa kemunculannya. Nuansa perlawanan yang terdapat dalam seni reog ini pulalah yang menginspirasi Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk menggunakan seni rakyat ini sebagai alat perjuangan politik dan ideologi pada masa Demokrasi Terpimpin tahun 1960-an. PKI menggunakan reog sebagai simbol perlawanan rakyat terhadap kaum borjuis kapitalis. Ketika itu PKI memiliki organisasi seni reog bernama Barisan Reog Ponorogo (BRP) yang menaungi hampir seluruh seniman reog di Ponorogo. Sementara pihak-pihak yang menjadi lawan politik PKI memunculkan seni Gajah-gajahan dan Unta-untaan guna menandingi eksistensi seni reog yang ketika itu dianggap sebagai seni PKI. Konflik politik dan ideologis memang kerapkali merambah dunia seni pada masa Demokrasi Terpimpin dan Nasakom.

Pasca terjadinya tragedi politik G30S, yang bermuara pada pembasmian besar-besaran kelompok politik komunis sebagai pihak yang tertuduh, maka seni reog pun terkena imbasnya. Pemerintah Orde Baru dan Militer melarang pementasan seni reog yang dianggap sebagai alat propaganda PKI di masa lalu. Tetapi kemudian reog diizinkan muncul kembali, namun tentu dengan interpretasi dan tujuan yang sesuai dengan selera penguasa Orde Baru.

Makna seni reog sebagai seni perlawanan rakyat terhadap pemerintahan yang korup dan mudah diintervensi pihak asing sebagaimana yang dikreasikan oleh Ki Ageng Kutu dahulu masih memiliki relevansi dimasa kini. Tatkala pemerintahan yang berkuasa di negeri ini kini masih korup dan tunduk pada kehendak pihak asing (seperti dalam kasus PT Freeport), maka simbolisasi kepala singa yang diduduki burung merak masih tepat dijadikan bahan sindiran bagi para penguasa negeri ini yang merasa kerasan ‘diinjak-injak’ kepalanya oleh Negara atau korporasi asing.

(Dari berbagai sumber)

Tulisan ini dimuat dalam rubrik Suluh BERDIKARI ONLINE*)

Penulis adalah kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumedang Dan Alumni Antropologi Universitas Padjajaran (Unpad)**)

Information

This entry was posted on Desember 13, 2013 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters