gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Bukan Sekedar Slogan

Tema: Hari Pohon 21 November

Hari pohon yang kita peringati pada tanggal 21 November adalah untuk mengingatkan kita pentingnya menjaga ekosistem hutan serta kelangsungan hidupnya. Hutan merupakan kawasan alam yang mengandung beranekaragam hayati didalamnya, sebagai kesatuan unsur alam yang tak terpisahkan. Hutan terbagi berbagai macam, seperti Hutan Hujan Tropis, hutan gambut, dan sebagainya. Keanekaragaman hayati yang terkandung di hutan Indonesia meliputi 12 persen species mamalia dunia, 7,3 persen species reptil dan amfibi, serta 17 persen spesies burung dari seluruh dunia. Diyakini masih banyak lagi spesies yang belum teridentifikasi dan masih menjadi misteri tersembunyi di dalamnya. Ini merupakan potensi besar dan penting untuk dijaga dalam suatu kawasan alam seperti hutan. Hutan juga disebut sebagai paru-paru dunia, dikarenakan pohon rindang dan lebat menghasilkan oksigen bagi penyedia kebutuhan absolut manusia. Ketersediaan oksigen merupakan hasil proses fotosintesis dari zat hijau daun yang terdapat dalam pohon.

“Indonesia Paru-Paru Dunia” begitulah slogan yang di capkan pada negara kita. Indonesia sebagai negara khatulistiwa yang secara geografis mendapatkan pencahayaan matahari sepanjang tahun, dan dua musim yang merupakan keuntungan bagi Indonesia sebagai negara tropis. Ini merupakan keuntungan geografis Indonesia dimata dunia. Tak sadar begitu pentingnya Indonesia bagi dunia dan juga manusia, telah banyak terjadi konvesi hutan dalam skala besar untuk perkebunan sawit, pertambangan, dan pemukiman. Berdasarkan catatan Kementrian Kehutanan Republik Indonesia, sedikitnya 1,1 juta hektar atau 2% dari hutan Indonesia menyusut tiap tahunnya. Data Kementerian Kehutanan menyebutkan dari sekitar 130 juta hektar hutan yang tersisa di Indonesia, 42 juta hektar diantaranya sudah habis ditebang. Ini memaksa kita membuka kembali pasal demi pasal yang sudah di sah-kan oleh pembuat kebijakan. Penyediaan lahan yang begitu besar oleh pembuat kebijakan ternyata mengundang pro dan kontra mengenai ketersediaan lahan hutan bagi kelangsungan hidup manusia. Selama ini, pendekatan ekonomis yang selalu dipakai oleh pembuat kebijakan ternyata menggerus ekosistem yang terdapat di bumi khatulistiwa ini.

Program nasional Masterplan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) ternyata mengundang tanda tanya besar bahwa landasan ekologi tidak termaktub didalamnya. Menelisik lebih dalam bahwa terdapat sebuah grand design untuk menjual negara lewat sebuah program tanpa memikirkan kelangsungan hidup manusia lewat pendekatan ekologi. Agenda besar ternyata tidak dibarengi dengan kesejahteraan mutlak bagi rakyatnya, mutlak bahwa ini bukan kebijakan yang pro terhadap rakyat dalam segi ekologi. Pendekatan lainnya ialah melihat keterlibatan masyarakat dalam program ini semakin termarjinalkan dan penangguhan kerusakan ekosistem tanggung jawab penuh masyarakat lokal. Fenomena yang sering ditangkap oleh media adalah kerusakan ekosistem adalah disebabkan oleh masyarakat lokal yang tidak peduli ataupun tidak mempunyai pengetahuan dalam mengelola lingkungan. Pernyataan ini tentu terbantahkan menurut Forsyth, bahwa pertama, orang kaya memiliki dampak lebih besar dibandingkan orang lokal dalam menggunakan sumberdaya. Kedua, Masyarakat lokal sangat sadar terhadap dampak negatif dari lingkungannya mengingat mereka sering tergantung pada lingkungan untuk hidup. Ketiga, Masyarakat lokal dapat melakukan pengelolaan lingkungan yang lebih baik, khususnya ketika insentif dan informasi tersedia, namun sayangnya pengetahuan tradisional mereka seringkali diabaikan. Tentu fenomena serta bantahan Forsyth dapat menyadarkan kita bahwa masalah ini terjadi karena hilangnya pendekatan ekologi-budaya (cultural ecology) dimana masyarakat hanya menjadi korban dari berbagai kebijakan politik. Pendekatan ekologi-budaya selayaknya harus menjadi pertimbangan bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam melanjutkan program nasional MP3EI ini.

Degradasi Lingkungan

Degradasi hutan yang begitu besar akibat konversi lahan dalam skala besar dan juga pengelolaan hutan yang buruk menyebabkan menurunnya kualitas hidup manusia. Kualitas hidup tidak hanya dipengaruhi oleh besarnya pendapatan dan pengeluaran masyarakatnya atau pendapatan per-kapita bahkan besarnya pemasukan negara tapi lebih kepada ketersediaan sumberdaya yang dapat dikelola masyarakatnya. Tingkat eksploitatif dan ekstraktif korporasi terhadap sumberdaya alam Indonesia yang begitu tinggi menyebabkan rusaknya ekosistem yang terjadi di berbagai kasus pertambangan. Kerusakan lingkungan yang begitu luas dan besar dampaknya dinilai tidak sebanding dengan pendapatan negara misal berupa pajak maupun perluasan lapangan pekerjaan. Kerusakan lingkungan berupa krisis air, rusaknya unsur hara tanah, erosi tanah, banjir, keanekaragaman hayati menurun, dan manusia dilanda kelaparan serta kemiskinan yang berkepanjangan. Ini adalah pekerjaan rumah pemerintah yang sangat besar bahwa paradigma kebijakan yang berorientasi pada padat modal tidak berdampak positif pada kelangsungan hidup manusia. Pertumbuhan ekonomi yang dibanggakan oleh Presiden SBY hanya melihat pada sisi ekonomi makro bukan mikro pada kelas menengah kebawah. Usaha UMKM semakin tergusur oleh persaingan pasar yang tidak seimbang dan adil menyebabkan ekonomi Indonesia sangat rentan terjadi inflasi ataupun koleps.

Tentu ini adalah juga tugas serta tanggung jawab kita bersama. Rakyat sebagai pemegang kedaulatan harus mengawal jalannya kebijakan yang dibuat oleh lembaga negara. Isu serta fenomena sosial-politik saat ini yang terjadi yang menyimpang dari konstitusi harus segera diberantas. Sudah saatnya di Hari Pohon ini, masyarakat kembali peka terhadap lingkungan sekitar dan menjadikan lingkungan ini nyaman dan kembali menanam pohon untuk menjaga Indonesia sebagai paru-paru dunia.

Trianda Surbakti

Wakabid Agitasi dan Propaganda DPC GMNI Sumedang

Mahasiswa Perikanan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran

Iklan

Information

This entry was posted on November 27, 2013 by in Suara Umum.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.451 pengikut lainnya

Visitors

free counters