gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Jatinangor: Belajar Dari Jakarta

apartemen mewah pinewood

(foto: apartemen pinewood, jatinangor)

Sejak awal 2006 di kawasan jatinangor, sumedang mengawali era baru dalam pembangunan pemukiman padat mahasiswa. Melalui Peraturan Gubernur Jabar yang merelokasi kawasan pendidikan di Bandung ke Sumedang. Maka dari itu, untuk mendukung sarana dan prasarana bagi terciptanya kawasan pendidikan yang baik banyak dilakukan pembangunan fisik. Pembangunan fisik berupa mall jatinangor town squre memberi berkah tersendiri bagi dunia pembangunan di jatinangor. Selanjutnya di iringi dengan pembangunan apartemen atau kost mewah bintang lima. Pembangunan super mewah ini di dukung oleh kebijakan Pemerintah Daerah, dimana pemasukan lewat pajak melimpah dari sektor pemukiman dan bangunan. Ini membuktikan bahwa kepedulian Pemerintah terhadap pembangunan sektor pemukiman ini sangat tinggi. Mengingat jatinangor adalah destinasi pendidikan, seperti kampus Universitas Padjadjaran (UNPAD), Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN), Intitut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Institut Teknologi Bandung (ITB) Universitas Widyatama, dan kampus swasta lainnya melahirkan suatu era baru dalam pemukiman kemahasiswaan. Ribuan mahasiswa limpah ruah begitu juga dengan investasi kost bagi mahasiswa.

Kost bagi para mahasiswa mempunyai harga yang beragam paling rendah sekitar 3,5 juta hingga puluhan juta. Fasilitas yang super mewah seperti layaknya apartemen ibukota juga tersedia bagi kaum intelektual ini. Pembangunan kost bintang lima mulai merambah luas melihat permintaan pasar yang tinggi, mulai dari pinewood, elegante, awani, dan masih banyak lagi. Tanah dijadikan komoditas bisnis yang banyak dimainkan oleh para spekulan bisnis dan tuan tanah berakibat fatal terhadap kelangsungan hidup masyarakat jatinangor asli semakin termarjinalkan. Ironis ketika melihat pemilik tanah harus beralih profesi menjadi tukang ojek, satpam, pedagang dan penjaga kost.

Konversi lahan secara besar-besaran dari lahan produktif untuk bertani menjadi pemukiman mahasiswa, berakibat fatal terhadap ketahanan pangan dan sumber resapan air. Musim kemarau 2013 mungkin menjadi pelajaran penting bagi Pemerintah Daerah untuk kembali memikirkan kondisi tanah yang semakin terdegradasi dan sumber air yang menipis. Belajar dari kondisi tata ruang di Jakarta, harusnya Pemerintah Sumedang segera berbenah. Kebanjiran serta kekeringan melanda Jakarta sepertihalnya jatinangor saat ini menjadi alarm bagi kebijakan pembangunan pemukiman.

Pembangunan fisik berupa kost, mall, dan minimarket tidak disertai dengan pembangunan manusia yang selama ini dinilai sebagai indikator kelayakan hidup manusia. Pembangunan manusia ini seiring dengan kelangsungan ekologi di jatinangor. Ekologi adalah prasyarat untuk dapat mendukung kehidupan bagi manusia. Namun cara pandang ekologi ini diabaikan melihat kepentingan ekonomis yang sangat tinggi. Secara ekologi, siklus hidrologi yang terputus dalam hal penyerapan air akan menyebabkan kerusakan parah terhadap kelangsungan hidup masyarakatnya termasuk mahasiswa. Ini menjadikan pekerjaan rumah bagi pembuat kebijakan yang sangat berat mengingat biaya pemulihan yang juga tidak sedikit ketimbang memikirkan pemasukan lewat pajak. Kesejahteraan yang selama ini di idamkan oleh penyelenggara negara akan segera sirna ketika disatu sisi biaya hidup tinggi serta lapangan pekerjaan yang semakin sempit akan menggerus kelayakan hidup masyarakat. Pekerjaan yang minim akibat konversi lahan ini mengakibatkan tingkat kriminalitas akan semakin meningkat.

Moratorium terhadap pembangunan pemukiman adalah langkah yang perlu dilakukan Pemerintah Sumedang, sekaligus membincangkan masalah terkait ekologi. Pengelolaan tata ruang, perluasan lapangan pekerjaan serta pembangunan infrastruktur menjadi prasyarat utama sebelum menjadikan jatinangor sebagai lumbung kesengsaraan bagi masyarakat. Bukan hanya persoalan besarnya pendapatan Pemerintah dan investasi swasta tapi perlu adanya kepekaan pemerintah yang tidak membiarkan rakyat terjerumus lebih dalam lubang derita. Setidaknya belajar dari kondisi hari ini, tentu kita tidak ingin jatinangor ini seperti Jakarta dalam hal tata ruang dan ekologi.

Trianda Surbakti

Mahasiswa Perikanan, FPIK

Wakabid Agitasi dan Propaganda GMNI Sumedang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 25, 2013 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters