gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

MENCARI PRESIDEN IDAMAN

Kontestasi kian memanas. Sebentar lagi kita akan memiliki presiden baru dengan tawaran masa depan yang baru pula. Kesibukan mencari calon presiden kini melanda masing-masing partai politik. Ihwal ini tak ubahnya sebuah simbol lemahnya kaderisasi di tahun-tahun sebelumnya. Para tokoh yang digadang-gadang melejit popularitasnya, tampak seperti gula yang dikerubuti oleh gerombolan semut.

Di pihak lain,  kita berbangga manakala hari-hari ini media menawarkan cukup banyak tokoh yang layak meramaikan pesta demokrasi. Apalagi, mengingat kebanyakan dari mereka bukanlah ketua umum partai politik. Bahkan ada yang tidak dilahirkan dari perut partai politik.

Sayangnya, menurut kaca mata masyarakat, tokoh-tokoh ini tidak begitu populer. Hal ini tembus pandang saat menyoroti beberapa hasil survei elektabilitas dari waktu ke waktu. Lagi-lagi, jagat pertokohan di negeri ini masih dikuasai oleh stok lama.

Pengecualian disematkan pada sosok Jokowi yang kekhasan karakternya dipandang ibarat bunga langka yang mahal harganya. Kesederhanaan dan perhatiannya pada masyarakat selama ini telah menusuk alam tidak sadar kita. Ujung-ujungnya tidak sedikit yang menggelorakan nyanyian pencalonannya sebagai salah satu kandidat dalam kontestasi 2014.

Kendati sosoknya populer, masih banyak kalangan yang meragukan kapabilitas Jokowi untuk memimpin Indonesia yang permasalahannya jauh lebih kompleks. Namun, harus diakui bahwa fenomena Jokowi mindedmenjadi salah satu bukti dari kemuakan masyarakat akan pemimpin yang pintar otaknya namun juga lihai membodohi rakyatnya.

Kapabilitas merupakan faktor yang sangat penting namun kemauan politik menciptakan kemerdekaan hakiki adalah hal yang jauh lebih penting. Barangkali kerinduan pada pemimpin populis—meskipun selama ini banyak diragukan para pakar politik—tidak dapat lagi dibendung, akibat depresi yang semakin meruak di khalayak umum.

Sosok Presiden Idaman

Menyoroti kondisi belakangan ini, tatkala dibenturkan dengan kemauan khalayak umum kriteria presiden idaman kian sederhana. Singkatnya dibutuhkan pemimpin yang perhatian dan perlahan-lahan menghancurkan tembok yang selama ini kokoh membatasi antara pemimpin dan rakyatnya. Pemimpin yang mampu membangun kembali reruntuhan kepercayaan masyarakat pada lembaga pemerintahan oleh semangatnya yang melayani.

Sosok yang jujur dan meyakinkan lewat tindakannya, yang tidak sekedar rajin mengumbar lips service. Serta mampu berdiri tegak di depan rakyat memberikan teladan bagaimana cara berperan membangun negeri ini. Semua ini mengarah pada karakter asketis dan populis yang cenderung diabaikan karena nampak klise, namun inilah yang belakangan hilang dari cerita kepemimpinan negeri kita.

Presiden yang perhatian dan dapat dipercaya bukan berarti harus menuruti semua kemauan rakyatnya sebagaimana hantu “populisme” yang ditakuti oleh banyak pengamat. Kita tidak bisa mendefenisikan pemimpin melayani itu sama halnya dengan seorang pelayan yang akan dikendalikan sepenuhnya oleh rakyat sebagai majikannya. Di sinilah keunikan dari pemimpin yang juga dilekatkan karakter melayani.

Singkatnya, keunikan memimpin namun tetap melayani paling tidak dapat terlihat dalam pilihan-pilihan kebijakan yang diambilnya. Selain itu, presidennya akan cenderung menggadaikan egoismenya sebagai seorang pemimpin demi kepentingan rakyatnya.

Contoh sedehana dalam kasus isu kenaikan BBM. Ihwal pentingnya bukan naik atau tidaknya harga BBM. Kendati kenaikan harga BBM akan berefek domino pada kenaikan barang yang berdampak pada masyarakat rentan ekonomi. Namun tatkala pemerintah mampu menciptakan kepercayaan masyarakat bahwa ini adalah kebijakan pahit yang tidak dapat dihindari barangkali masyarakat akan menerima.

Di pihak lain, presiden yang sungguh-sungguh perhatian pada rakyatnya seharusnya menjadikan kebijakan menaikkan BBM berjalan beriringan dengan pemotongan belanja negara untuk kemewahan para pejabatnya. Sederhananya, masyarakat akan melihat tindakan nyata sebagai wujud teladan berkorban demi negara bukan justru disuguhi istilah “prihatin” yang ramai kita dengar belakangan ini.

Merujuk sosok Fidel Castro dan Ahmadinejad tentu saja kita semakin diyakinkan bahwa sosok presiden yang kita mimpikan adalah sosok seperti mereka yang sederhana, perhatian dan asketis.

Kata Kunci “Masyarakat”

Barangkali nampak terburu-buru tatkala fokus kita justru langsung diarahkan pada sosok. Sementara dalam sistem kita dewasa ini, tak dapat dipungkiri partai politik—satu-satunya rahim yang akan melahirkan presiden—juga menjadi faktor penting yang sangat berpengaruh. Dalam bingkai legitimasi hukum, sosok yang diharap-harapkan tidak akan muncul tanpa partai politik yang mau menampungnya dalam transportasi politiknya.

Alhasil eksesnya calon presiden tidak akan lepas dari kendali partai politik. Celakanya, tidak ada partai politik di negeri ini yang benar-benar mampu menjamin dirinya bersih. Lantas, apa jadinya saat sosok berkarakter harus dikendalikan oleh partai politik yang sudah mengabaikan tugas-tugasnya?

Isu presiden independen sudah pupus jua manakala Mahkamah Konstitusi menolak judicial review yang sempat diajukan pada lembaga ini. Namun, haruskah hal ini sekaligus memupuskan harapan kita akan sosok presiden idaman? Menurut saya,  sosok presiden idaman meskipun harus lahir dari partai politik yang kian tidak bersih, akan tetap mampu menciptakan kemerdekaan yang sesungguhnya tatkala masyarakatnya tidak sekedar menitipkan nasibnya di kotak suara.

Kita harus yakin bahwa konsolidasi demokrasi sesungguhnya sangat bergantung pada kata kunci “masyarakat”. Tanpa masyarakat yang peduli dan ngotot memperjuangkan aspirasinya, alhasil “elit sentris”-lah yang akan abadi menghantui kita. Lagi-lagi, pekerjaan mencari sosok pemimpin idamanpun menjadi seperti sedang menggantang asap.

Junius Fernando S

Wakabid Kaderisasi DPC GMNI Sumedang

*) dimuat di: http://www.fokal.info/fokal/2013/11/mencari-presiden-idaman/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 14, 2013 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters