gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

“Pemuda dan Tahun Politik”

Oleh : Junius Fernando S Saragih
Ingar bingar tahun politik belakangan ini diwarnai perebutan simpati pemilih pemula. Pemilih pemula yang notabene adalah pemuda tak syak menjadi sasaran empuk untuk dijadikan lumbung suara dalam pesta demokrasi.
Pasalnya, dalam catatan sementara KPU, jumlah pemilih pemula sekitar 14 juta jiwa dan pemilih muda 45,6 juta jiwa. Total 59,6 juta pemilih berusia muda ini menjadi jumlah yang tidak sedikit di tengah perkiraan pemilih pemilu sebesar 190 juta jiwa (Kompas, 24/10). Sementara dalam lima tahun silam, perolehan suara Partai Demokrat—sebagai partai pemenang pemilu—hanya sekitar 21 juta jiwa. Ini menyiratkan peran pemuda yang sangat strategis dalam perhelatan pemilu yang akan ditunaikan tahun 2014 mendatang.
Pemilu menjadi momentum penting bagi masa depan bangsa ini. Peran kalangan pemuda tidak hanya dalam menentukan kemenangan para kandidat, melainkan idealnya berperan melakukan pencerahan publik dalam memicu lahirnya pemimpin yang mampu menjawab persoalan bangsa. Sehingga, kriteria pemimpin nasional idealnya lahir dari diskusi-diskusi yang diinisiasi kalangan pemuda.
Pemuda Apolitis
Ada kecenderungan pemuda semakin apolitis. Barangkali ini tidak lepas dari merosotnya citra elit. Semua lembaga negara terjerat korupsi. Bahkan, belakangan pimpinan puncak Mahkamah Konstitusi justru ikut terseret. Di legislatif, moralitas terkoyak. Elit di DPR kerap mempertontonkan atraksi konyol, saling tuding dan hujat, mengobral bahasa sarkas di depan media. Sementara pembahasan RUU krusial yang berdampak pada rakyat justru defisit.
Saling sandra antar lembaga dalam penanganan kasus korupsi juga ikut mencuat. Banyak kalangan ragu akan praktek pemberantasan korupsi yang bernuansa politis. Partai politik yang kian korup, politik dinasti dan defisitnya ketegasan pemimpin memperparah persepsi pemuda pada politik. Dewasa ini politik Indonesia mengarah pada politik terburuk, seperti yang dikatakan Peter Merkl, “poitics at its worst is a selfish grab for power, glory, and riches”.
Potret buram perpolitikan tak ayal membangun pesimisme. Kalangan pemuda akhirnya mengarahkan perhatiannya pada hiburan-hiburan yang ditawarkan beragam media. Konstruksi tentang mimpi-mimpi individual membuatnya terbuai. Dibanding memikirkan politik yang masalahnya kian rumit, mereka mimilih produk-produk budaya hedonisme yang menjanjikan kenyamanan semu. Konsumerismepun mengakar. Demi memuaskan intensinya, berbagai cara dilakukan. Alhasil, tindak kriminal, pornografi, narkoba, dan saling bunuh kian menggerogoti pemuda.
Di pihak lain, hedonisme meninabobokan mereka dari realitas di sekitarnya. Keterpurukan multiaspek mulai terlupakan karena kesibukan di dunianya sendiri. Seakan-akan ada alat yang sedang menariknya dari dunia nyata dan memasukkannya dalam satu “kotak isolasi” yang nyaman dan menjauhkannya dari realitas. Alhasil terciptalah pemuda yang apatis, yang tidak peduli dengan orang lain apalagi perpolitikan bangsanya sendiri.
Sementara, dunia kampus—yang melahirkan kaum intelektual—juga menyimpan masalah. Pasalnya, kondisi negara yang semakin carut-marut tidak lepas dari pengaruh kaum intelektual yang ditelurkan lewat kampus-kampus. Tidak aneh hal ini pernah berimbas pada ditudingnya beberapa perguruan tinggi—oleh salah satu anggota DPR RI—sebagai pencetak para koruptor.
Situasi kampus juga semakin tidak ramah terhadap aktivis mahasiswa. Alih-alih menelurkan aktivis yang peduli, justru muncul istilah “aktivis bodrek” menggambarkan mereka yang rela menjual idealismenya demi kepentingan pribadinya.
Skema perkuliahan jauh lebih mementingkan IPK dan lulus tepat waktu. Alhasil mahasiswa amnesia akan peran pengabdiannya. Tak pelak, aktor intelektualitas semakin pragmatis dan asosial. Tidak ada lagi penyambung kepentingan politik rakyat kecil. Padahal mahasiswa adalah aktor ideal yang mampu—dengan netral—mengkritisi kebijakan yang tidak pro rakyat.
Saatnya Mengambil Peran
Menjelang perhelatan pemilu, saatnya pemuda bangun dari tidur dan mengambil peran sebagai agen pencerdasan sekaligus menyeleksi calon pemimpin nasional. Sebagai linkage actor, pemuda harus mampu mengagregasi kepentingan rakyat dan menuntut para kandidat melakukan kontrak politik dengan rakyat.
Di tengah media yang kian tersandra kepentingan politik, pemuda bertugas mempromosikan pemimpin yang terbaik. Dengan begini, demokrasi tidak lagi dikendalikan pemilik modal. Sekaligus hal ini diharapkan mampu memutus mata rantai politik uang. Persoalan sebab-akibat seperti korupsi dan politik dinasti juga dapat diselesaikan.
Andaikan semua pemuda Indonesia tercerdaskan secara politik maka di tahun 2014 kita akan menelurkan pemimpin visioner dan berintegritas. Sehingga, genaplah bahwa Sumpah Pemuda tidak lagi sekedar peringatan tanpa makna. Sumpah Pemuda yang melukiskan nasionalisme dan persatuan harus semakin mengakar. Dan tugas pemudalah mengawalnya sampai akhir cita-cita kemerdekaan sungguh-sungguh dapat tercapai.

Junius Fernando S Saragih
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad
Wakil Ketua Bidang Kaderisasi GmnI Cabang Sumedang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 13, 2013 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters