gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Ada Senyum Semangat di SLB

Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Utomo berhasil mencuci tangannya dengan baik dan bersih.  Tahap demi tahap Utomo mengosok tanganya dengan sabun cair ke seluruh tangannya. Sekarang giliran telapak tangan digosok sampai ujung jari. Masih dengan gerakan tangannya yang lambat, Utomo menggosok punggung kiri tangan atau sebaliknya dengan berselang-seling antara tangan kanan dan kiri. Gerakan tangan memutar sembari membilas tangan dengan air dan dilakukan berulang kali. Hore…, akhirnya Utomo berhasil menyelesaikannya!

Itulah sekelumit gambaran usaha anak-anak SLB Dharma Putra. Selangkah demi selangkah mahasiswa UGM belajar melatih kemampuan anak-anak yang memiliki keterbelakangan mental. Semangat daya juang dan latihan ini yang terus menerus mereka lakukan untuk membantu kemampuan anak-anak yang terbatas agar bisa terus berkembang, paling tidak sampai dapat hidup mandiri.

Itulah aktivitas mahasiswa UGM yang tergabung dalam Paguyuban Karya Salemba Empat UGM yang sedang melakukan program “Bina Desa” yang bertujuan untuk pemberdaayan masyarakat sebagai bukti nyata Tridarma Perguruan Tinggi. Program Bina Desa ini pun salah satu bagian program dari PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk.  yang disalurkan via paguyuban KSE. Rutin sebulan sekali, mereka melakukan misi sosialnya dengan memfokuskan proyek sosial Bina Desa yang sudah dibangun 2012 tahun lalu.

Desa yang dipilih adalah Desa Semin. Desa terbelakang nan jauh dari perkotaan yang berlokasi di Kabupaten Gunung Kidul DKI Yogyakarta. “Untuk menempuh Desa Semin, perjalanan yang harus kami tempuh kurang lebih selama 2 jam dari Yogyakarta ke Semin. Itupun menggunakan kendaraan pribadi,” tutur Fitria, Kepala Departemen Bindes, yang mengurusi departemen sosial masyarakat.

Desa Semin dianggap desa yang paling strategis untuk melakukan misi sosial. Terlebih lagi disana terdapat Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Putra, Sekolah anak-anak dengan keterbelakangan mental. “Uniknya siswa dan siswi SLB Dharma Putra merupakan anak-anak yang mengalami penyakit tunagrahita. Menurut keterangan wakil kepala sekolah, SLB Dharma Putra merupakan sekolah terunik di Indonesia karena seluruh anak-anaknya memiliki persamaan dan memiliki kejeniusan yang masih terpendam,” pungkas Mifftah, koordinator Bina Desa Semin, saat ditanya keunikan SLB Dharma Putra.

Tunagrahita yang diderita oleh anak–anak warga masyarakat Desa Semin merupakan keturunan dari nenek moyang. Hal ini telah dibuktikan melalui penelitian yang dilakukan Universitas Diponegoro dengan uji genetik terhadap beberapa anak penderita tunagrahita diberbagai kampung di Semin. “Hasilnya semua penyandang penyakit ini memiliki karakter yang sama yaitu hidung pesek, tangan kaku salah satu, kemudian kesulitan untuk bicara karena mengalami gangguan pada bagian rahang, serta posisi kaki yang tidak teratur,” tambahnya.

Anak tunagrahita merupakan anak yang termasuk kategori lamban dalam belajarnya. Mereka memiliki tingkat kecerdasan jauh di bawah rata-rata anak normal, sehingga tidak mampu mengikuti program sekolah yang diperuntukan bagi anak-anak normal. Mereka membutuhkan pelayanan penddidikan khusus. Anak-anak tersebut dengan latar belakang yang beragam, ada tuna rungu, tuna wicara, dan down syndrom.

Meski demikian, tak sedikit mahasiswa penerima Beasiswa Karya Salemba Empat (KSE) yang tergabung dalam Paguyuban KSE UGM ini, ikut andil sebagai volunteer Bindes untuk mengajar. Kurang lebih ada 25 volunteer penggerak Bindes Semin.

“Selain mengajar, banyak pelajaran yang bisa kami diambil dari anak-anak SLB. Seperti berbicara menggunakan bahasa isyarat. Mau tidak mau metode pengajaran yang dipergunakan adalah bahasa isyarat dan kamipun harus banyak latihan,” kata Fitria, mahasiswa jurusan Biologi, yang bergabung sebagai volunteer sejak 2012 lalu.

Materi yang diajarkan sebenarnya cukup sederhana, yaitu mengajarkan bagaimana tata cara pola hidup bersih dan sehat. Misalnya tata cara mandi, buang air, berganti pakaian, dan lain sebaginya.

Setiap anak dengan latarbelakang berbeda tentu diberikan pengajaran yang berbeda pula. Mislanya saja pada tuna rungu dan tuna wicara, mereka diajarkan menulis, membaca, dan menghitung. Selain itu, ada program keterampilan dan kerajinan, menari, serta bermain alat musik. Mereka pun diajarkan kepercayaan diri, bersoisalisasi, dan layaknya seperti orang biasanya.

Program menari dan bermain musik sudah banyak menuai hasil yang baik. Setiap ada event atau acara baik kampus maupun luar kampus, anak-anak SLB selalu diundang untuk mengisi acara kesenian tari sebagai pembuka acara. Bahkan sering mengikuti lomba olahraga tingkat nasional hingga akhirnya juara.

“Pertama melihat saya merasa kagum, anak-anak muda ini pandai menari dengan lemah gemulai. Seusai mereka menari, saya bertambah kagum dan bangga setelah saya tahu ternyata mereka tuna wicara dan tuna rungu. Tentu bukan hal mudah buat saya,” ungkap Firda, peserta Tatap Muka UGM disaat ditanya MOVE beberapa waktu lalu.

Banyak kerajinan tangan dan produk makanan yang dibuat oleh tangan-tangan mungil anak SLB. Salah satunya pelakat atau cindramata dari kerajinan berbentuk gajah. Merekapun pandai buat kue dan makanan lainnya yang selalu diikutkan dalam pameran dan bazar.

Aneka Program

Desa Senim mempunyai banyak potensi yang belum dikembangkan secara optimal. Melihat kondisi tersebut, Bina Desa membentuk beberapa program yang terbagi menjadi beberapa divisi yang dianggap cocok dan bagus untuk diterapkan. Mislanya ada divisi kesehatan, peternakan, pertanian, keterampilan dan seni, dan teknologi. Setiap divisi memiliki peran dan tanggung jawabnya berbeda-beda. Mahasiswa ikut serta memilih divisi meski kadang tidak sesuai dengan jurusannya di UGM.

“Sebelum mereka terjun ke lapangan, dilakukan observasi terlebih dahulu mengenai hal apa saja yang perlu dikembangkan, sampai akhirnya dirumuskanlah divisi-divisi tersebut,” jelas Anggita, mahasiswa Teknik Mesin UGM.

Divisi kesehatan, mahasiswa jurusan kedokteran baik kedoketeran gigi maupun kedoketeran umum berperan aktif sebagai koordinatornya. Mereka mengajarkan bagiamana menjaga pola hidup sehat. Mahasiswa kedokteran gigi, biasanya mengajarkan bagaimana menyikat gigi yang baik dan benar, mencuci tangan, dan membiasakan diri menggosok gigi sebelum dan sesudah tidur.

Divisi pertanian, mahasiswa Jurusan Pertanian yang bergerak dibidang ini. Sebelum melakukan program, dilakukan observasi atau pemantauan potensi sayuran yang ada di Desa Senim. Baru dilakukan penanaman tanaman sayuran sampai proses panen.

Divisi teknologi, divisi ini terbilang menarik dan sukses dalam pelaksanaannya. Divisi teknologi membuat instalasi biogas dengan menggunakan kotoran hewan ternak. Kotoran tersebut diambil dari hewan ternak yang mereka ternakan sendiri.

Divisi peternakan, divisi yang bekerja sama dengan divisi teknologi. Hewan ternak yang diternakan diantaranya ternak ayam, sapi, dan kambing. Kotoran sapi yang umumnya dibuang, dipergunakan kembali untuk pembuatan instalasi biogas. Alhasil apabila masak, terbiasa menggunakan biogas sebagai bahan bakar utama.

“Biasanya mereka menggunakan gas 3 kg dalam waktu 2 minggu, tetapi dengan biogas dalam sebulan hanya sekali ganti,” tambahnya.

“Tidak semua tenaga kami manfaatkan setiap waku minimalnya kami menyumbang ide dan pikiran. Hambatan lain yang dirasakan yaitu kurang bisa berkomunikasi dengan anak-anak SLB. Kami menggunakan bahasa tubuh seadanya. Atau kita pakai tulisan. Kedepannya kami mau belajar bahasa isyarat. Kami tidak mau kalah semangat berjuangnya dengan mereka,” pikir Johan, volunteer Fakultas Fisipol UGM.

Indriati Sari

Wakabid Sarinah DPC GMNI Sumedang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 28, 2013 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters