gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

SEMANGAT BERBAGI DI BANDUNG ZINE FEST

            Siang itu, keseruan ratusan pemuda berdatangan memadati Bandung Zine Fest 2013 yang digelar di Gedung Indonesia Menggugat Bandung, Sabtu (31/8). Acara yang diselenggrakan dari pukul 1 siang hingga 10 malam ini mendapat perhatian banyak dari kalangan anak muda penggiat zine. Tidak hanya dari Bandung, berbagai kalangan anak muda mulai dari luar kota sampai luar pulau rela hadir menikmati acara tersebut.

            Lembar demi lembar kertas dibaca pendatang dengan penuh ketertarikan. Terpancar wajah keseruan dari penggiat dibalik tulisan dan gambar hitam putih. Meja berjajar rapi di kiri-kanan pintu masuk diisi para kontributor yang melapak seluruh karya mereka. Mulai dari zine fisik dan bentuk PDF hingga pernak-pernik dipajang diatas dinding. Dibagikan stiker gratis atau sekedar donasi untuk ganti biaya fotokopi. Berbagai genre buku mulai dari fanzine, newsletter, hingga media alternative lain dapat dilihat di taman bacaan.

Berawal dari hobi dan kecintaan, antar penggiat zine mangadakan Bandung Zine Fest  dengan tujuan untuk menjaga silaturahmi antar penggiat media aternatif, menambah minat baca semua kalangan, dan mempercepat media dan arus informasi dengan sub kultur.

Bandung Zine Fest adalah sebuah event independen non profit sebagai ruang untuk para pembuat media alternatif, lokal artist, distributor independen dan para penerbit independen berkumpul dan memamerkan hasil karya mereka. “Zine merupakan sebuah artesis media-media mainstream yang sering dianggap sebagai ‘magazine’ dalam anti tesisnya dipotong ‘maga’ menjadi zine. Sejarahnya di Amerika pada era 1950an ada komunitas science ficsion yang merasa tereleminasi dari lingkungan sekitarnya dan tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain hingga akhirnya membuat media komunikasi sendiri,” tutur Audry Rizky Prayoga, selaku koordinator acara.

Perubahan terjadi pada tahun 1970 dengan munculnya kultur punk, dimana punk menyumbangkan banyak hal kepada dunia zine. Akibat meledaknya punk dan munculnya mesin fotokopi, maka zine pun makin menjamur dimana-mana. Pada tahun 1982, Factsheet Five Zine terbit untuk pertama kalinya. Ini adalah sebuah zine yang membahas tentang zine, yang dieditori oleh Mike Gunderloy sampai ke edisi 44 (tahun 1991), yang kemudian dilanjutkan oleh Hudson Luce. Sistem manajemen dan sirkulasi distribusi yang baik membuat zine ini dijadikan sumber informasi bagi orang-orang yang ingin mencari bacaan alternatif di luar media-media mainstream.

Sekarang zine semakin berkembang dengan pesatnya di dunia. Bentuk-bentuk yang ada tidak lagi seperti diawal kelahiranya. Banyak juga zine yang kini lebih mirip majalah-mini dengan sentuhan personal. Banyak juga yang bersirkulasi lebih luas dan mulai dikelola secara profesional. Tapi hal yang tetap dipertahankan dari perkembangan yang ada adalah semangat diawal kelahirannya, sebagai media alternatif.

Salah satunya di Indonesia, zine muncul pada tahun 1945 yang masih prokontra namun ini bukti penanda zine eksis. “Tahun 1980 ada media yang mengangkat masalah trans gender bernama Guy A nusantara,  tapi mereka belum menamakan sebagai zine karena mesin fotocopy belum sehebat sekarang,” tambah Audry.

Melalui Bandung Fest Zine 2013, antar penggiat media alternatif dapat menambah semangat berbagi, semangat menulis, dan semangat berkomunikasi. Tak heran acara yang digelar pun banyak mulai dari lapak dan pameran retrospektif cover-cover zine sampai sharing session serta workshop.

Kemeriahan bertambah dengan adanya pemutaran screening film dokumenter Bandung Zine Fest 2012. Film hasil komplikasi video rekaman BZF tahun lalu yang harapannya sebagai platform dokumentasi yang dirasa masih kurang dalam subkultur.

Sama halnya juga dengan Iqbal Tawakal, zine maker asal Bandung ini sengaja hadir sebagai kolektor untuk berbagi sharing dan komunikasi antar penggiat zine. Iqbal sudah menyenangi dunia gambar muali dari SD. Berawal dari hobinya, ia mulai menjadi zine maker dengan membuat buku bergambar. Banyak hasil karya gambarnya yang sekarang sudah dibuat diantaranya stiker, pin, CD, baju kaos. Tak banyak keuntungan yang didapat Iqbal dari zine. “Buat saya momen ini merupakan ajang sosial agar bisa saling sharing informasi dan menambah persaudaraan,” tuturnya.

 

Indriati Sari

Wakabid Sarinah DPC GMNI Sumedang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 25, 2013 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters