gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Indonesia: Pemain atau Penonton

             “Satu visi – Satu Identitas – Satu Komunitas” merupakan komitmen bersama yang ingin diwujudkan oleh negara – negara ASEAN pada tahun 2020. Prakarsa yang mulai digagas pada 1997 oleh para kepala negara anggota ASEAN tersebut menyepakati ASEAN vision 2020 yaitu mewujudkan masyarakat kawasan yang stabil, makmur dan berdaya saing tinggi dengan pembangunan ekonomi yang merata.

            Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, kemudian pada tahun 2003 diadakan kembali pertemuan yang menyepakati 3 pilar pelaksanaan ASEAN vision 2020 yang dipercepat menjadi tahun 2015, yaitu: ASEAN Economic Community, ASEAN Political-Security Community, dan ASEAN Sosio-Cultural Community. (ASEAN SUMMIT, Bali 2003). Agenda yang paling menyita perhatian bukan saja masyarakat Indonesia, melainkan juga masyarakat kawasan dan internasional adalah ASEAN Economic Community (Masyarakat Ekonomi ASEAN).

            Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah bentuk pengintergrasian ekonomi negara – negara kawasan Asia Tenggara kedalam satu bentuk pasar tunggal dengan iklim ekonomi yang sangat kompetitif. Hal ini bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada setiap anggota ASEAN untuk mengembangkan potensi dan sumber daya yang dimiliki untuk mengembangkan perekonomian nasional dalam wadah pasar kawasan yang terintegrasi. Dengan begitu, segala bentuk peredaran ekonomi dalam bentuk barang, jasa, modal, tenaga kerja dan investasi harus  bebas dari segala macam intervensi pemerintah setempat dan segala keputusan didasarkan pada hukum pasar bebas.

            Dengan keikutsertaan Indonesia dalam MEA berarti pemerintah secara sadar membuka keran liberalisasi dalam hampir setiap sektor penting dalam bidang ekonomi dan perdagangan yang menjadi tumpuan produktivitas dalam negeri. Konsekuensi logis yang harus dihadapi oleh masyarakat Indonesia kemudian adalah kesiapan para pelaku usaha dalam negeri untuk bersaing secara terbuka dan bebas untuk memperebutkan pasar tunggal ASEAN. Produk – produk dalam negeri akan bersaing secara langsung dengan produk – produk buatan negara – negara anggota ASEAN.

Kemudian tenaga kerja dari anggota MEA akan secara leluasa mencari dan membuka lapangan kerja dimanapun didalam kawasan negara – negara ASEAN dan arus modal dan investasi juga akan dengan mudah keluar-masuk dalam lalu lintas ekonomi dan perdagangan di kawasan. Jika dibiarkan berlangsung tanpa pengawasan dan regulasi yang memadai, maka hal tersebut akan menyebabkan tidak stabilnya fondasi ekonomi suatu negara karena negara akan sangat bergantung pada investasi modal asing.

            Dengan kondisi seperti ini, pemerintah mengurangi porsi tanggung jawabnya untuk ikut berperan aktif dalam membangun perekonomian nasional. Pemerintah juga memberikan kewenangan yang sangat besar kepada aktor – aktor bisnis dan ekonomi untuk mengeksploitasi segala macam sumber daya alam dan manusia untuk memberi sumbangsih terhadap perekonomian nasional dalam iklim persaingan yang sangat timpang antara aktor bisnis dengan kekuatan modal yang sangat besar bersanding aktor bisnis dengan kekuatan ekonomi mikro.

Peran Indonesia

            Sebelum program MEA benar –  benar dilaksanakan pada tahun 2015, tentu kita harus mengukur kekuatan kita terkait sejauh mana kesiapan kita untuk dapat bersaing dengan negara – negara di kawasan. Menurut data World Economic Forum, Indonesia berada pada peringkat 38 dari 150 negara dari sisi daya saing ekonomi. Jika dibandingkan dengan negara – negara kawasan, peringkat Indonesia masih kalah dari Singapura, Malaysia, Thailand dan Brunei Darussalam.

            Dalam proses interaksi perdagangan antara Indonesia dengan negara – negara kawasan, Indonesia justru mengalami defisit neraca perdagangan. Kita lebih banyak melakukan impor daripada mengekspor produk dalam negeri untuk konsumsi negara – negara kawasan. Melihat data dan fakta diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Indonesia sebenarnya belum siap untuk melaksanakan MEA pada tahun 2015 dan bersaing dengan negara – negara kawasan. Jika kita melihat faktor lain seperti kualitas sumber daya manusia, hasil produksi, dan sarana prasarana yang mendukung, maka harus kita akui secara jujur bahwa Indonesia masih membutuhkan pembenahan yang serius untuk dapat bersaing dalam pasar tunggal ASEAN. Jika tidak, Indonesia harus siap hanya menjadi penonton dalam peta persaingan pasar bebas ASEAN.

            Namun, Indonesia bukan tanpa peluang untuk dapat memainkan peran yang strategis dalam pelaksanaan MEA. Sumber daya alam, pasar potensial dan modal yang cukup besar menjadi salah satu potensi yang dimiliki Indonesia. Sumber daya alam yang melimpah dapat menjadi bahan yang dapat digunakan industri dalam negeri untuk membuat hasil produksi dengan kuantitas yang besar dan kualitas yang memadai. Dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia menjadi pasar potensial yang selalu dibidik oleh pelaku usaha dari seluruh penjuru negeri untuk dapat memasarkan produk mereka. Apabila industri dalam negeri dapat memenangkan pasar dalam negeri, maka hal ini tentu memberikan keuntungan yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Terakhir, dengan modal yang cukup besar yang dimiliki saat ini, pemerintah seharusnya dapat memberi insentif dan memperbaiki berbagai masalah infrastruktur dan teknologi untuk menunjang peningkatan produksi nasional baik secara kuantitas maupun kualitas.

            Satu hal yang harus diingat sebelum kita menerapkan MEA pada 2015, Indonesia akan mengalami satu fase penting yaitu pesta demokrasi nasional, pemilihan umum 2014. Ini akan menjadi salah satu faktor yang sangat krusial untuk menentukan nasib Indonesia kedepannya, termasuk konsep pembangunan Indonesia dalam skema MEA 2015. Jika pemimpin terpilih nantinya tidak pro terhadap rakyat dan kepentingan nasional, bisa dipastikan kondisi saat ini akan terus berlanjut dan Indonesia akan terjerumus dalam skema MEA tanpa arah dan tujuan dan hanya akan menjadi pasar bagi produk asing.

            Pemimpin yang bijak tahu kondisi saat ini Indonesia tidak siap untuk bergabung dalam pasar tunggal ASEAN karena pemerintah tidak menyiapkan prakondisi yang menunjang industri nasional untuk bersaing dengan industri negara – negara kawasan. Indonesia masih butuh waktu lebih untuk mempersiapkan kebutuhan akan infrakstruktur dan teknologi, iklim yang kondusif bagi dunia usaha, serta yang terpenting adalah pendidikan dan pelatihan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia yang terampil.

            Harapan kita terletak pada pemimpin yang berani dan mampu untuk mengambil langkah berani dengan mengeluarkan kebijakan yang mengedepankan kepentingan nasional, bukan sekedar pemimpin yang siap menandatangani setiap perjanjian liberal yang hanya menguntungkan kelas pemilik modal. Indonesia mampu menjadi aktor protagonis kebangkitan ekonomi nasional dan kawasan jika pemerintah ikut berkontribusi nyata dalam mengeluarkan setiap kebijakan yang mendorong pemanfaatan potensi yang kita miliki saat ini.

Ditulis oleh: Kristian Sinulingga

Ketua Cabang GMNI Sumedang

Mahasiswa jurusan Administrasi Bisnis Fisip Unpad

 *) dimuat di Tabloid Inspirasi bulan September

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 21, 2013 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters