gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Tiga Masalah, Satu Solusi

Indonesia sedang menghadapi tiga masalah besar yang harus diselesaikan dengan segera.Ketiga masalah tersebut adalah harga bahan pokok yang terus meroket, impor barang berlebihan dan urbanisasi dari desa ke kota.

Harga bahan pokok yang terus naik membuat masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Harga bahan pokok yang ada di pasar tidak pernah stabil bahkan sering melebihi daya beli masyarakat. Tingginya harga bahan pokok ini membuat pemerintah mengambil jalan pintas dengan cara mengimpor. Hal ini dianggap bisa menjawab masalah harga bahan pokok yang ada di pasar. Dalam jangka pendek mungkin saja ini bisa menjadi stabilisator harga bahan pokok, tetapi dalam jangka panjang ini bukan sebuah solusi.

Ada yang harus diingat, yaitu dalam setiap impor masyarakat petani menjadi korban. Banjirnya impor pertanian di pasar membuat petani lokal menjerit karena harga jual tidak bisa menutupi harga produksi. Akhirnya, mereka harus menutup semua kekurangan ini dengan cara meminjam, baik melalui bank ataupun kepada rentenir. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa kehidupan petani tidak akan pernah sejahtera selama kita masih mengimpor.

Sulitnya kehidupan petani yang secara umum tinggal di desa memaksa mereka harus beranjak ke kota. Dengan kemampuan yang pas-pasan mereka nekad ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Di kota bukan mendapatkan kehidupan yang lebih baik, malahan berbagai kesulitan mereka temui, seperti pekerjaan tidak tetap, tempat tinggal yang tidak memadai dan makan seadanya.

Dampak dari urbanisasi adalah jumlah kriminalitas meningkat. Penyebabnya, bersarnya populasi di kota membuat lapangan pekerjaan semakin sempit. Akhirnya untuk memenuhi kebutuhan hidup, cara tidak halal seperti mencuri di terminal, menjadi preman kecil di pasar atau bahkan harus menjual diri dilakukan. Hal ini menimbulkan keresahan di masyarakat yang ekonominya menengah ke atas.

Masalah urbanisasi menjadi kambing hitam dengan meningkatnya kriminalitas di kota. Padahal, inti permasalahannya adalah pemenuhan kebutuhan ekonomi yang sangat dasar yaitu pangan. Masyarakat ekonomi kelas bawah tidak membutuhkan barang-barang mewah, tetapi mereka hanya butuh pekerjaan yang bisa menjamin kehidupan mereka. Namun demikian, pemerintah tidak bisa memenuhi hal tersebut. Mahalnya harga bahan pokok membuat pasar Indonesia dipenuhi dengan impor dan akhirnya para petani di desa terhimpit secara ekonomi.

Solusi

Di dunia ini tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dan setiap solusi dari masalah tersebut tidak bisa menyenangkan semua orang. Bukan berarti itu menjadikan satu pihak menjadi korban, tetapi musyawarah untuk mufakat harus memenuhi standard yang melibatkan semua pihak. Kebanyakan masalah tidak mendapatkan solusi karena tingginya ego dan menginginkan keuntungan secara berlebihan.

Begitu juga dengan masalah yang ada di Indonesia yaitu, mahalnya barang pokok, impor yang meledak dan tingginya urbanisasi, mempunyai solusi. Adapun solusi tersebut adalah dengan menjalankan reforma agraria. Melakukan redistribusi tanah berarti menjadikan bangsa ini mandiri. Alasannya adalah pertama, dengan reforma agraria sejati berarti memberi ruang bagi petani untuk berproduksi. Tanah Indonesia yang sangat subur ini jika dikelola dengan baik akan memiliki hasil yang sangat luar biasa. Sayang tanah di Indonesia dikuasai oleh pengusaha-pengusaha rakus yang membuat perkebunan dalam jumlah besar.

Kedua adalah dengan produktifnya masyarakat petani yang ada di desa menjadikan hasil pertanian lokal melimpah. Melimpahnya hasil produksi ini harus di lindungi sehingga bisa mengalahkan barang impor. Pemerintah harus memberikan subsidi yang tepat sasaran kepada petani sehingga harga produksi murah. Selanjutnya karena harga produksi murah maka harga jual juga murah di pasar, dengan demikian maka produk lokal akan menang di negeri sendiri.

Ketiga , dengan terjaminnya kehidupan petani di desa, maka urbanisasi akan jelas sangat berkurang. Redistribusi tanah akan menyerap tenaga kerja yang besar sehingga penduduk kota pengangguran merupakan sumber daya manusia potensial. Bahkan kita tidak perlu lagi menjalankan program TKI. Tanah Indonesia yang luas dan subur harus dikelola untuk menjadikan masyarakat produktif.

Reforma agraria tidak akan menjadikan seseorang itu kaya ataupun miskin, tetapi menjamin setiap orang akan berkecukupan. Menjalankan reforma agraria sejati pada sekarang ini bukan berarti merampas kekayaan orang lain. Reforma agraria hanya membatasi kepemilikan sarana produksi seperti tanah, secara berlebihan.

Jika reforma agraria dijalankan sesuai ruh UUD 45 maka sebagian besar masalah bangsa ini akan terselesaikan. Sayang, pemerintah kita masih lambat untuk memahami dan menjalankan reforma agraria. Cara tambal sulam di kalangan pemerintah masih sangat populer. ***

Oleh: Andria Perangin-angin.

Penulis adalah Departemen Kampanye dan Kajian Kpa (Konsorsium Pembaharuan Agraria

*) dimuat di: http://www.analisadaily.com/news/47627/tiga-masalah-satu-solusi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Oktober 20, 2013 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters