gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Kegelisahan : Negara Bayaran, Membela yang Bayar???


Gambar

~ tulis pikir ~

Demi menjaga kelestarian lingkungan, kerap kali pemerintah menggusur para petani gurem alias petani kecil, alias petani tanpa tanah. Tanah-tanah yang tadinya digunakan untuk menggali apa yang bisa digali demi sesuap nasi, kini direbut kembali untuk dijadikan hutan-hutan lindung. Mereka berdalil bahwa hutan-hutan lindung itu untuk kepentingan bersama, demi udara segar yang akan dihirup banyak orang. Lebih luas lagi demi kepentingan dunia.

Sayangnya, logika ini hilang manakala yang dihadapi bukan lagi petani-petani gurem. Sebut saja pemilik modal yang kemudian ingin menginvestasikan modalnya di negeri ini. Dengan dalil kepentingan bersama pula, yang tadinya hutan-hutan lindung bisa direkonstruksi menjadi hutan-hutan beton. Ivestasi kan bisa dinikmati sebagai sarana dalam mengembangkan perekonomian negara. Akan banyak lapangan kerja yang tercipta, sehingga bisa menampung banyak penganggur di negeri ini. Katanya sih begitu.

Kenyataan sebenarnya, bahwa petani gurem tidak memiliki bargaining position apapun di mata penguasa. Mereka dianggap tidak menguntungkan bagi negara (baca: wakil-wakil negara). Tidak adanya kontribusi langsung bagi kantong-kantong negara (baca: wakil-wakil negara) yang menambah pundi-pundi kesejahteraan mereka.

Lantas, inikah idealnya? Bahwa rakyat yang patut dibela adalah mereka yang mampu membayar negara ini. Artinya bila tidak punya kontribusi, minimal sebagai subjek pajak, maka jangan berharap akan diperhatikan negara. Apakah negara itu sebuah hotel berbintang yang bila ingin berlindung nyaman di dalamnya ya harus bayar terlebih dahulu? Bukankah kontribusi seperti pajak, atau kontribusi apapun itu, hakikatnya untuk menjamin terciptanya distribusi kekayaan negara secara merata. Yang kuat membantu yang lemah. Esensi bergotong royong yang ramai dicuatkan kala ingin menggapai kemerdekaan.

Mungkinkah kita sudah lupa bahwa negara ini dibangun atas dasar perlawanan akan para penjajah yang nyata-nyata mendiskriminasikan manusia, yang menindas manusia, serta yang menghisap manusia? Ataukah kita sudah lupa bahwa perlawanan kita didasarkan pada prinsip kemanusiaan? Karena menganggap penjajahan di atas dunia yang tidak sesuai dengan perikemanusiaan itu? Bukankah kita menginginkan konstruksi negara bangsa yang ingin menghapuskan jiwa-jiwa yang sudah lama dijajah?

Atau mungkin kita melupakan bahwa perjuangan kemerdekaan bukan saja milik kaum bangsawan yang tercatat oleh sejarah? Sebab bila ditelisik, mereka yang paling rendahpun (menurut para penjajah) juga ikut berjuang melawan penindasan-penindasan kemudian mempercayakan kaum bangsawan yang anti penjajah untuk melangsungkan kepemimpinan negara bangsa yang lebih manusiawi dan tidak lagi feodal.

Harus diakui, mereka yang tertindas hari ini tidak bisa memperjuangkan dirinya sendiri, oleh sebab itulah maka siapapun yang masih memiliki kegelisahan yang sama diundang untuk ikut menyuarakan isi nuraninya. Minimal membangun opini di permukaan, menggiring pemikiran yang konstruktif dan manusiawi, dan membudayakan dialektika bagi keturunan-keturunan kita. Hingga tidak sampai patah dan terlupa bahwa mereka yang tak ter-ekspose itu juga harus diselamatkan dari penindasan. Mungkin mereka bukan saudara sekandung dari rahim sang ibu kandung, tapi mereka saudara sekandung kita sejak ibu pertiwi melahirkannya.

 Junius Fernando Saragih
Wakabid Kaderisasi DPC GMNI Sumedang Periode 2012-2014
*) dimuat di: http://gelasisi.wordpress.com/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 27, 2013 by in Semua untuk Semua.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.453 pengikut lainnya

Visitors

free counters