gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

Ayo, Rebut Inalum!

 Aluminium.jpg

Menjelang  31 Oktober nanti, perbincangan publik mengenai  penjualan  58,8 persen saham PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) milik perusahaan asal Jepang, Nippon Asahan Aluminium (NAA), kepada pemerintah Indonesia kian menghangat.

Kabarnya, pihak NAA belum menyepakati harga yang penjualan yang ditawarkan pemerintah Indonesia yang mendasarkan harga penjualan pada nilai buku Badan Pengawas Keuangan Pembangunan (BPKP). Pemerintah sendiri telah  menyiapkan dana sebesar Rp 7 triliun untuk mengambil alih mayoritas saham Inalum tersebut. Dana sebesar itu dialokasikan melalui APBN 2012 sebesar Rp 2 triliun dan  pada APBN 2013 sebesar Rp 5 Triliun. Lalu, bagaimana sejarah kemunculan perusahaan ini?

Dominasi Jepang

Beroperasinya PT Inalum, yang mayoritas sahamnya dimiliki korporasi Jepang, ini tak bisa dilepaskan dari cengkeraman dominasi modal Jepang pada dasawarsa awal berkuasanya rezim Orde Baru. Dominasi kapital negeri ‘matahari terbit’ ini tak bisa dilepaskan pula dari peranan salah satu tokoh sentral Orde Baru ketika itu, Soedjono Hoemardani.

Mantan prajurit yang pernah mendapatkan  pelatihan militer dari Keibodan semasa era pendudukan Jepang (1942-1945) ini menjadi  Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto di dekade awal 1970-an. Selain menjadi Aspri, ia juga dipercaya menjadi pelobi pemerintah Jepang, guna memuluskan aliran kapital Jepang yang dibutuhkan Indonesia (baca : rezim Orde Baru)  kala itu. Seperti yang kita ketahui, pasca menjatuhkan Bung Karno, rezim Soeharto berupaya mendapatkan  aliran modal asing sebanyak-banyaknya guna kelancaran operasional rezimnya, tak terkecuali modal Jepang.

Berkat lobi Soedjono yang pandai berbahasa Jepang inilah, proyek  pembangunan PT Inalum  dimulai pada tanggal 6 Januari 1976 di Asahan, Sumatera Utara, setelah pada tahun sebelumnya disepakati  Master Agreement antara pihak Jepang dan Indonesia, yang menyatakan masa kontrak kerja sama kedua pihak dalam Inalum akan habis di tahun 2013.

Berdasarkan Master Agreement itu, komposisi kepemilikan saham Inalum pun ditetapkan sebesar 58,8% milik Jepang (NAA) serta 41,1% sisanya dimiliki pemerintah Indonesia. Dan setelah kontrak kerja sama itu berakhir, saham yang dimiliki NAA otomatis harus dijual kepada pemerintah Republik Indonesia.

Proyek Inalum ini merupakan proyek  pembangunan  pabrik  pengolahan alumina untuk dijadikan aluminium ingot. Aluminium ingot sendiri merupakan bahan baku vital bagi beberapa produk seperti  komponen mesin dan benda-benda furniture.

Awalnya, pabrik peleburan aluminium ini memiliki kapasitas produksi 225.000 ton aluminium ingot per tahun. Untuk mendukung kegiatan operasional pabrik ini, Inalum juga membangun pembangkit listrik tenaga air (PLTA)  yang memanfaatkan aliran sungai Asahan dengan kapasitas listrik 604 MegaVolt.

Setelah beroperasi selama puluhan tahun, saat ini kapasitas produksi Inalum telah bertambah menjadi sebesar 250 ton aluminium ingot per tahun. Dan yang perlu dicatat, sebanyak 60 persen hasil produksi itu diekspor ke Jepang dan hanya  40 persen yang diperuntukkan bagi  kebutuhan dalam negeri.

Inalum Dan Hilirisasi

Sementara, untuk bahan baku aluminanya juga tidak berasal dari Indonesia, melainkan diimpor dari Australia. Jadi, dalam operasional pabrik ini selama puluhan tahun, nyaris hanya sedikit nilai tambah yang diraih oleh Indonesia sebagai sang ‘tuan rumah’ dibandingkan dengan keuntungan yang diraih Jepang.

Kerugian inilah yang harus diakhiri oleh pemerintah Indonesia, seiring dengan  berakhirnya kontrak kerja sama kedua pihak pada akhir Oktober nanti. Pemerintah sendiri, melalui Menteri Perindustrian M.S. Hidayat, telah memiliki business plan yang akan direalisasikan setelah pemerintah mengambil alih Inalum. Business plan itu  adalah meningkatkan kapasitas produksi Inalum menjadi 600.000 ton per bulan.

Selain itu, Hidayat juga bertekad agar kedepannya Indonesia tak harus mengimpor alumina dari luar negeri sebagai bahan baku Inalum, melainkan mendatangkan pasokan alumina dari Indonesia sendiri.

Hal ini seiring juga dengan pelaksanaan amanat Undang-undang No.4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara (Minerba) tentang hilirisasi, bahwasanya bahan mentah tambang mineral yang berasal dari ‘perut bumi’ Indonesia wajib diolah dan dimurnikan di dalam negeri sebelum diekspor ke pasar global. Mengapa hal ini terkait? Sebab alumina itu merupakan hasil olahan dari bijih bauksit, yang menurut UU Minerba, termasuk kategori bahan mentah tambang mineral yang harus diolah di dalam negeri.

Terkait hal tersebut, Asosiasi Pengusaha Mineral Indonesia (Apemindo) yang merupakan kumpulan para pengusaha tambang mineral nasional, juga berkeinginan memperoleh saham Inalum  yang akan dijual oleh NAA itu. Ketua Umum Apemindo, Poltak Sitanggang, melalui sebuah statement yang disampaikannya kepada penulis beberapa waktu lalu mengatakan, sudah saatnya para pengusaha nasional memanfaatkan Inalum untuk mengolah alumina yang dihasilkan oleh perusahaannya masing-masing.

“UU Minerba mengamanatkan hilirisasi, maka pengambilalihan Inalum ini harus menjadi salah satu cara untuk melakukan hilirisasi itu. Jadi, alumina yang diproduksi oleh para pengusaha nasional di Apemindo bisa diolah di Inalum nantinya, sehingga kita tidak lagi mengimpor dari Australia seperti yang dilakukan perusahaan Jepang itu selama ini,” ujar Poltak.

Tekad pemerintah dan pengusaha nasional untuk merealisasikan amanat hilirisasi melalui pengambil-alihan Inalum dari ‘tangan’ korporasi Jepang  ini patut didukung. Kiranya, pemerintah benar-benar serius dalam mewujudkan tekadnya itu dengan merebut saham Inalum secara paksa, apabila pihak Jepang tetap ‘membandel’ dalam transaksi penjualan saham mereka. Ancaman gugatan melalui arbitrase internasional yang kerap disuarakan perusahaan asing, hendaknya tidak menyurutkan langkah pemerintah untuk merebut Inalum demi pembangunan ekonomi nasional, khususnya sektor pertambangan. Ayo, rebut Inalum!

Hiski Darmayana, Jurnalis Pertambangan dan Kader Gerakan Mahasiswa Nasional  Indonesia (GMNI)

Sumber Artikel: http://www.berdikarionline.com/opini/20130922/ayo-ambil-alih-inalum.html#ixzz2fhFCqZKu

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 23, 2013 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters