gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

“Sesat Pikir Penanganan Ekonomi” *)

Oleh : Junius Fernando S Saragih **)

            Peringatan bagi perekonomian Indonesia mulai mencuat ke permukaan. Rabu (28/8), menteri perekonomian, Chatib Basri telah menandainya dengan koreksi pertumbuhan ekonomi dari 6,3 persen menjadi 5,9 persen untuk tahun 2013.

            Penyebabnya tidak saja oleh melambatnya investasi dan ekspor, melainkan juga dipengaruhi oleh belanja pemerintah yang ikut menurun. Belakangan ini, nilai rupiah juga semakin melemah dan sempat mencapai Rp 10.950 per dollar AS (Kompas, 29/08/13). Inflasipun diperkirakan melambung hingga 9,2 persen. Hal ini sontak mengingatkan kita pada prakondisi krisis 1997. Lantas, apa yang harus segera dilakukan?

            Barangkali untuk menjaga ketahanan ekonomi kita dalam jangka pendek akan muncul solusi mengembalikan kepercayaan investor dengan berbagai tawaran insentif bagi para investor. Kendati dapat mempertahankan pertumbuhan ekonomi pada kenyataannya ini hanya akan memperparah ketergantungan ekonomi di negeri ini. Alangkah lebih baik tatkala pemerintah berupaya untuk menstimulus produktivitas masyarakat yang sekaligus mampu memicu peningkatan ekspor ke luar negeri. Namun, sebelumnya kita perlu mennguraikan beberapa hal penting yang berkaitan dengan sesat pikir dalam perekonomian dalam negeri.

Inefektifitas Pertumbuhan Ekonomi

            Ada sebuah keanehan yang barangkali menghantui banyak kalangan pasca mendengar ancaman perekonomian di negeri ini. Hal krusial yang banyak disoroti adalah pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bila dibandingkan dengan beberapa negara di dunia merupakan salah satu negara yang pertumbuhan ekonominya sangat baik dan cepat. Indonesia bahkan dinyatakan sebagai salah satu negara yang memukau dan diproyeksikan akan mampu sejajar dengan negara-negara BRIC : Brazil, Rusia, India, Cina yang ekonominya nampak berkembang sehingga pantas disebut sebagai new emerging economy. Lantas, bagaimana kualitas pertumbuhan ekonomi ini juga patut menuai tanda tanya besar di benak kita. Mengapa?

            Harus kita akui, bahwa pertumbuhan ekonomi ini sama sekali tidak mampu menyelesaikan ketimpangan ekonomi dalam negeri. Di sisi lain, ketimpangan kesejahteraan dan pengangguran masih saja menjadi masalah pelik yang menghantui.

            Hal pertama, barangkali meningkatkan indeks gini patut kita jadikan acuan. Menurut BPS, indeks gini Indonesia meningkat dari 0,38 menjadi 0,41 persen. Artinya, hanya 1 persen warga Indonesia menguasai 41 persen kekayaan Indonesia. Belakangan, menteri keuangan Chatib Basri justru menghubungkan kenaikan indeks gini dengan beban subsidi BBM yang begitu besar. Sementara sudah jelas hal ini adalah dampak nyata dari tingginya jurang ketimpangan itu sendiri. Data lain yang dilansir Perkumpulan Prakarsa juga mengungkapkan, kekayaan 40 orang terkaya Indonesia sebesar Rp680 Triliun (71,3 miliar USD) atau setara dengan 10,33% PDB. Nilai kekayaan dari 40 ribu orang itu setara dengan kekayaan 60% penduduk atau 140 juta orang. Data lain menyebutkan, 50 persen kekayaan ekonomi Indonesia hanya dikuasai oleh 50 orang (berdikarionline.com, 24/12/12).

            Kedua,pemerintah sangat lihai dalam memanfaatkan data angka untuk mengklaim menurunnya tingkat pengangguran. Salah satunya yang saya kutip dari tulisan saya sebelumnya, klaim pemerintah tentang menurunnya pengangguran ternyata bukan dikarenakan peran pemerintah yang luar biasa. Data BPS, Agustus 2011 melansir tingkat pengangguran terbuka di Indonesia turun menjadi 6,56 % dibandingkan Februari 2011 sebesar 6,80 %. Opini masyarakat adalah adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja. Faktanya, dalam data tahun serupa jumlah angkatan kerja ikut menurun. Yang perlu digaris bawahi adalah jumlah penduduk Indonesia yang bekerja justru menurun pada Agustus 2011 yaitu sebesar 109,7 juta orang dibandingkan Februari 2011 sebesar 111,3 juta orang. Hipotesisnya penurunan tingkat pengangguran lebih banyak dipengaruhi oleh menurunnya jumlah angkatan kerja dibandingkan alasan meningkatnya jumlah penduduk Indonesia yang bekerja.

            Sesudah ini, pertanyaan lanjutannya tentu akan mengarah kepada mengapa dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi namun negeri ini tetap menuai masalah pelik dalam perekonomiannya? Kali ini penulis akan menelisiknya pada sesat pikir penghitungan pertumbuhan ekonomi kita selama ini. Barangkali tidak berlebihan, bila penulis mengkritisi pertumbuhan ekonomi yang merujuk PDB dibandingkan dengan PNB. Wajar saja pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak serta merta berkualitas bagi kepentingan nasional. Sebab pertumbuhan ekonomi itu masih termasuk dengan produk yang dihasilkan oleh perusahaan asing di dalam negeri.

            Lagi-lagi kita dijebak dengan logika penghitungan yang kadang kala tidak kita sadari dan mengerti. Budaya konsumtif dan besarnya jumlah penduduk Indonesia menjadi pemicu utama pertumbuhan ekonomi. Hal ini serta merta meningkatkan produk investor asing di dalam negeri. Begitulah sederhananya bagaimana logika peningkatan pertumbuhan ekonomi di negeri ini yang sangat jauh dari peningkatan kualitas perekonomian nasional. Apalagi saat ini pertumbuhan ekonomi justru direvisi dan diproyeksikan akan menurun dari angka 6,3 persen yang sebelumnya direncanakan. Cukupkah dengan revisi pertumbuhan ekonomi?

Inbalances Ekspor-Impor

            Hal lain yang harus kita perhatikan adalah bagaimana logika ekspor-impor mempengaruhi ketahanan pertumbuhan ekonomi kita. Dalam ulasan pemerintah, ekspor dalam negeri cenderung menurun hingga berdampak pada revisi pertumbuhan ekonomi. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa ekspor Indonesia masih sangat bergantung pada bahan mentah dibandingkan dengan barang yang memiliki nilai tambah. Harus juga kita sadari bahwa selama ini pertumbuhan ekonomi kita juga banyak dipicu oleh ekspor Indonesia yang selama ini masih dalam keadaan yang tinggi.

            Dulu sektor migas sangat membantu negeri ini. Hal ini menyebabkan zaman Orde Baru pertumbuhan ekonomi negeri kita sangat baik dan digandrungi banyak orang bahkan hingga sekarang banyak kalangan merindukan masa-masa seperti itu. Namun, perlahan kelangkaan migas menurunkan semangat dan berdampak pada krisis 1997. Lantas, mengapa belakangan ini nampaknya ekspor kita juga membaik sehingga pertumbuhan ekonomi kita relatif baik hingga diagung-agungkan negara lain. Barangkali hal ini dipengaruhi oleh ekspor besar negeri ini dari sektor hasil alam, yakni kelapa sawit. Indonesia merupakan produsen terbesar untuk minyak sawit mentah atau sering dikenal dengan Crude Palm Oil (CPO). Dijelaskan lagi, produksi palm oil Indonesia itu hampir 50 persen dari total produksi dunia tahun ini yang diprediksi sebanyak 54,527 juta MT (metrik ton),” kata Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) (www.investor.co.id).

            Apakah ini sebuah kebanggaan? Patut dibanggakan kekayaan alam negeri ini, namun tidak untuk lemahnya produktivitas dan kreativitas kita. Kebiasaan negeri ini yang harus perlahan-lahan kita ubah adalah kecenderungan kita untuk mengeruk habis alam kita tanpa berusaha meningkatkan kemampuan untuk mengelolanya sendiri menjadi barang bernilai tambah. Managemen kita akan sumber daya alam tidak dapat dipungkiri sangat lemah bila kita merujuk kondisi kita saat ini yang beralih dari pengekspor menjadi pengimpor minyak mentah. Lantas, bagaimana dengan impor Indonesia?

            Dalam pandangan beberapa pengamat, naiknya nilai mata uang dollar, barangkali akan berdampak pada menurunnya tingkat impor di Indonesia. Pandangan ini menjadi dapat dibenarkan tatkala hanya menyoroti konsumsi masyarakatnya. Bagaimana dengan impor yang dilakukan oleh pemerintah? Dalam catatan BPS, impor pada Juli justru meningkat 11, 40 persen dibanding tahun lalu. Hal ini tentu saja berpengaruh pada keseimbangan neraca ekonomi yang tak syak berpengaruh pada rentannya penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi.

            Hal ini mendorong solusi untuk meningkatkan kualitas ekonomi nasional dengan mengutamakan insentif bagi peningkatan produktivitas sumber daya dalam negeri. Sudah saatnya pemerintah percaya pada kekuatan masyarakat, membangun dari desa, serta memanfaatkan kreativitas masyarakat. Menghidupkan desa berarti mengurangi pengangguran dan meningkatkan pondasi ekonomi nasional. Hal ini jauh lebih tahan akan terjangan krisis, dibadingkan harus bertumpu pada investasi asing serta konsumsi masyarakat yang menjerat kita pada ketergantungan yang mengakar.

Nasionalisme dan Gotong Royong

            Merdeka dan tumbuh-berkembangnya suatu negara adalah tugas bersama yang harus diupayakan secara gotong royong. Barangkali harus juga kita akui bahwa negara ini kaya hanya saja tidak seimbang dan setara, apalagi adil. Manifestasi sila ke lima pancasila dan demokrasi ekonomi dalam marhaenisme adalah hal yang belum pernah kita capai. Individualisme cenderung menjerat dan menghantui. Nasionalisme tidak lebih dari sekedar lips service dan sekedar mengelabui banyak orang.

            Ada hal sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu menyelamatkan ekonomi dalam negeri disamping upaya rumit yang banyak diwacanakan oleh banyak pengamat. Dan ini semua hanya bisa dilakukan tatkala rasa cinta akan negeri lebih tinggi dibandingkan dengan rasa cinta akan kenyamanan dan keserakahannya sendiri.

            Belakangan kita mendengar suara kencang media yang mengangkat informasi banyaknya pejabat negara yang menyimpan kekayaannya dalam bentuk dollar yang sekarang sedang tinggi nilainya. Dan mereka bukanlah orang-orang yang rentan terserang krisis. Anjuran untuk menjual dollar-dollar tersebut sudah diwacanakan. Barangkali hanya dorongan nurani yang akan merealisasikan anjuran tersebut. Sebagai wujud nasionalisme bagi penulis itu adalah hal yang tidak sulit, apalagi hal itu tidak begitu berpengaruh pada kesejahteraannya.

            Berikutnya adalah investor dalam negeri memiliki kesempatan untuk tidak berpikir lebih keras tidak semata-mata untuk kepentingan pribadinya namun untuk negara. Bagaimana mereka mampu mempertahankan nilai saham agar tidak ikut anjlok. Mempertahankan saham dalam artian tidak ikut-ikutan menjualnya menjadi salah satu cara sederhana menyelamatkan ekonomi. Lagi-lagi ini hanya  bisa terjadi saat semangat nasionalisme jauh lebih tinggi dibandingkan logika ekonomi individualistik.

            Kemudian, semangat gotong royong yang semakin memudar patut kita soroti. Bagaimanapun saat semangat ini mencuat ke permukaan semua hal dapat dihadapi dengan lebih baik. Desa yang kuat ekonominya dapat diciptakan dengan tidak hanya menunggu insentif pemerintah. Murninya semangat menggairahkan perekonomian di desa pada dasarnya hal utama yang menjadikan usaha itu menjadi lebih mudah. Di sisi lain, penerapan koperasi seperti digagas oleh Mohammad Hatta patut dijadikan rujukan. Hingga kita tidak lagi hanya terkungkung sebagai konseptor namun miskin implementasi.

            Bayangkan saja seorang ekonom Banglades, Muhammad Yamin pada 2006 silam mendapat penghargaan nobel oleh kemampuannya menerapkan konsep bank-bank kecil di desa untuk membantu perekonomian pedesaan. Beliau mampu mengapa Indonesia yang melahirkan konsep ini justru lemah dalam implementasikannya. Alih-alih mendapatkan nobel, negeri ini bahkan perlahan-lahan melupakan konsep ini.

            Terakhir, bangsa kita adalah bangsa yang kaya. Masalah yang dipaparkan bukan untuk menjadikan kita semakin pesimis, melainkan mengajak kita untuk lebih komprehensif dalam menyoroti sebuah masalah. Bangsa ini hanya bisa diselamatkan oleh kaum-kaum nasionalis yang berkobar-kobar cintanya bagi bangsa dan negara. Bila Bung Karno hanya butuh 10 pemuda untuk melakukannya, barangkali kita yang mengaku nasionalis juga bisa melakukannya. Merdeka!!!

 

*)Dibawakan dalam diskusi di GmnI Cabang Sumedang

**)Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad

Aktivis Gmni Sumedang

Kelompok Menulis Pena Padjajaran

One comment on ““Sesat Pikir Penanganan Ekonomi” *)

  1. Ping-balik: “Sesat Pikir Penanganan Ekonomi” *) « "Gelas Isi Blog"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on September 4, 2013 by in Suara Umum.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters