gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

“Bukan Sekedar Menyelamatkan Pasar Tradisional”

Dewasa ini masih populer bagi bangsa kita untuk mewacanakan konfrontasi antara pasar tradisional dan pasar modern. Kekhawatiran mulai tumbuh di banyak kalangan, bahwa pasar tradisional akan tenggelam lewat semakin berkembangnya pasar modern di berbagai penjuru negeri ini. Apalagi, kini pasar modern tidak saja menguasai perkotaan melainkan sudah mulai merambah ke desa-desa.

Namun, hal ini belum bisa dikatakan cukup untuk menyatakan bahwa bangsa ini sadar akan apa masalah yang sesungguhnya sedang menghantam akal ekonomi kita. Lantas, ada beberapa pertanyaan yang patut kita jawab untuk lebih jauh mengkaji tentang konfrontasi pasar modern dan tradisional itu sendiri. Apakah salahnya dengan pasar modern? Dan mengapa kita harus mempertahankan pasar tradisional di tengah zaman serba praktis seperti hari-hari ini? Pertanyaan-pertanyaan ini patut kita jawab agar kritik kita tidak tumpul dan begitu mudah untuk dipatahkan.

Berhenti Mengkerdilkan Persoalan

            Tatkala berbicara tentang pasar tradisional akan muncul kesan kotor, bau, panas, banyak preman dan copet. Sementara pasar modern lebih disenangi karena menjanjikan kenyamanan dalam berbelanja. Dan, barangkali ada sedikit yang merindukan nilai kekeluargaan yang dimanifestasikan dalam proses tawar-menawar  yang menjadi kekhasan pasar tradisional. Lantas, apakah persoalan kita terletak pada kenyamanan dan bangunan megah semata?

Begitu banyak pengamat yang mengkaji tentang pasar tradisional. Salah satu diantaranya menawarkan solusi untuk merejuvenasi kenyamanan berbelanja di pasar tradisional. Beberapa pasar tradisional mulai direnovasi untuk bisa disandingkan dengan pasar modern yang semakin pesat perkembangannya.

Lalu, tawaran lain adalah bagaimana mengatur jarak antara pasar modern dan pasar tradisional agar keberadaan pasar tradisional tidak tergerus oleh pasar modern. Perpres No. 112 tahun 2007 mengamanatkan pengaturan jarak pasar modern dan pasar tradisional ini untuk menjadi domain pemerintah daerah. Dan hampir tiap daerah telah membuat regulasi tentang ini. Meski dalam prakteknya hal ini masih kerap diabaikan. Terobosan-terobosan ini pada dasarnya mampu meningkatkan gradasi dari pasar tradisional, namun terkadang kita lupa bahwa masalahnya bukan terletak pada bangunan belaka.

Dalam berbagai praktek renovasi pasar tradisional bila dikaji lebih dalam ternyata mencuatkan permasalahan baru. Pasar-pasar yang direjuvenasi sekaligus mempersempit akses bagi pedagang-pedagang kecil pasca rejuvenasi. Pasar yang semakin nyaman berdampak pada semakin mahalnya biaya penyewaannya. Alhasil, para pedagang kecil tidak mampu mengakses dan tidak jarang dari mereka akan beralih profesi menjadi pedagang kaki lima. Barangkali renovasi telah meningkatkan derajat pasar tradisional namun tidak mampu meningkatkan derajat para pedagang-pedagang kecil.

Hal ini kembali mengajak benak kita untuk berpikir ulang, apakah sebenarnya yang harus kita perhatikan dari pasar tradisional? Pada dasarnya di pasar tradisional ini terhampar pedagang-pedagang kecil yang menjadikan tempat ini sebagai sumber pendapatan mereka. Dalam kata lain, pasar tradisional secara tidak langsung telah berperan mengurangi pengangguran dan menjadi sarana pertumbuhan ekonomi di kalangan masyarakat kecil.

Sehingga, kurang bijak bila solusi yang kita tawarkan selesai pada renovasi bangunan pasar tradisional. Melainkan, dibutuhkan jaminan kemudahan akses untuk melakukan aktivitas ekonomi di pasar tersebut. Lantas, modern atau tidaknya sebuah pasar bukan persoalan mendasar, melainkan idividualistik atau kolektifkah penguasaannya adalah lebih menarik untuk dipersoalkan. Kemudian, bagaimana dampaknya pada distribusi kekayaan yang adil dan merata. Pertanyaan itu pada dasarnya muncul dari manifestasi pilihan kita pada pancasila khususnya sila ke-5 yakni bagaimana menciptakan demokrasi ekonomi.

Mempertahankan pasar tradisional dan menjaganya dari gempuran pasar modern dapat kita kaji lewat nasionalisme dalam bidang ekonomi. Bila di hulu ekonomi kita sudah marak dikuasai oleh asing, masihkah kita diam merelakan hilir perekonomian kita untuk ikut dikuasai. Jangan sampai kita berhenti pada perdebatan tradisional dan modern tetapi alangkah lebih baik ketika kita berdebat tentang siapa penguasa hilir ekonomi lewat eksistensi pasar-pasar modern?

Pasca hulu ekonomi habis dijarah, kini semakin banyak bermunculan MoU yang ditandatangani presiden Indonesia dengan beberapa negara untuk berinvestasi membangun perusahan ritelnya di Indonesia. Hal ini didorong oleh semakin menjanjikannya bisnis ritel di Indonesia. Sebagai informasi menurut data Kementerian Perdagangan, kapitalisasi bisnis ritel di Indonesia hingga triwulan I/2013 sudah mencapai Rp5.000 triliun. Angka tersebut bertumbuh hingga 400 persen dibandingkan kapitalisasi lima tahun lalu pada 2008 yang hanya sekitar Rp1.000 triliun (vivanews.com, 31/5/13). Hal ini didorong oleh konsumsi Indonesia yang kian lama kian meroket, sebagaimana diakui oleh Menko perekonomian, Hatta Rajasa (30/5/13).

Menjadi urgen bagi kita untuk menelisik lebih dalam sesungguhnya kemanakah dampak pertumbuhan perekonomian di negeri ini. Sudahkah mampu menuntaskan persoalan ketimpangan ekonomi yang ditandai peningkatan indeks gini kita yang mencapai 0,41 persen? Atau barangkali hanya mampu menarik investor asing dan mengamini mengalirnya kekayaan bagi negara asing. Lagi-lagi persoalannya tidak terletak pada semodern apa pasar tersebut, melainkan sejauh apa penguasaan kita akan sektor ekonomi dalam negeri. Dan sejauh apa ini berperan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik dan mengurangi tingkat pengangguran.

Bahasan ini mengarah pada ajakan untuk tidak menyempitkan persoalan pada dikotomi pasar modern dan tradisional, sehingga kita mampu memberikan solusi yang lebih menusuk pada substansi persoalannya. Dan, kita tidak terjebak pada pragmatisme sehingga membutakan mata kita seakan-akan memodernisasi bangunan pasar tradisional sudah cukup menyelesaikan permasalahan. Sementara kita lupa pada cita-cita mendistribusikan kekayaan secara merata dan mengimplementasikan nasionalisme dalam bidang ekonomi. Serta hal lainnya adalah bagaimana kita mampu berpihak pada peningkatan perekonomian masyarakat kelas bawah. Lalu, kemerdekaan sungguh-sungguh bisa dirasakan secara merata.

Junius Fernando S Saragih

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad

Aktivis GmnI Sumedang

Kelompok Menulis Pena Padjadjaran

One comment on ““Bukan Sekedar Menyelamatkan Pasar Tradisional”

  1. Ping-balik: “Bukan Sekedar Menyelamatkan Pasar Tradisional” « "Gelas Isi Blog"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 26, 2013 by in kelompok menulis.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.072 pengikut lainnya

Visitors

free counters