gmnisumedang

Pejuang Pemikir-Pemikir Pejuang!

“Habis Merdeka, Terbit Apa?”

Bung Karno pernah berkata bahwa kemerdekaan itu tak ubahnya sebuah jembatan emas. Melepaskan nusantara dari belenggu para penjajah merupakan sebuah prestasi agung dari bangsa ini. Sehingga tidak berlebihan tatkala kemerdekaan digadang-gadang sebagai sebuah jembatan emas. Hal ini mengisyaratkan sebuah perjuangan mengantarkan nusantara pada kondisi yang lebih baik. Dan idealnya lebih mudah untuk melanjutkan cita-cita kemerdekaan itu sendiri. Singkatnya kemerdekaan itu sesungguhnya belum usai sampai cita-cita akhir bisa digapai dengan perjuangan-perjuangan yang terus susul-menyusul. Ini sebabnya Bung Karno selalu mengingatkan kita bahwa revolusi belum selesai.

Sudah sepatutnya kemerdekaan kita maknai sebagai sebuah proses untuk menggenapi cita-cita masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera. Dalam artian, 68 tahun pasca merdeka idealnya mengajak kita merefleksikan sejauh mana negeri ini mampu berjuang membangun secara bertahap apa yang disebut dengan masyarakat adil, makmur, dan sejahtera itu. Sehingga kita semakin paham apakah benar negeri sudah merengkuh kemerdekaan yang sesungguhnya, ataukah sama sekali belum melangkah melewati jembatan emas yang sudah disediakan oleh generasi sebelumnya.

Ada beberapa hal yang patut disoroti tatkala mengingat masa perjuangan kemerdekaan. Hal pertama yang paling kentara adalah adanya perjuangan merebut keadilan di nusantara yang sudah habis dirampas pasca berkuasanya para penjajah. Diskriminasi begitu nyata antara penjajah dan pribumi serta antara inlander dan pejuang. Pribumi dipaksa bekerja untuk kepentingan penjajah. Penghisapan menjadi lumrah. Tidak ada pembelaan dan semua berjalan sesuai dengan dikte sang penguasa. Alih-alih berbicara tentang hak pribumi, mulutpun dibungkam dengan senjata. Lantas, bagaimana dengan kondisi dewasa ini?

Kondisi hari ini tentu saja jauh lebih baik dari masa penjajahan. Namun, kita belum mampu menyebut kondisi ini sebagai kondisi ideal untuk gelarnya yang merdeka. Sudah paripurna diterima adagium yang menyatakan hukum di negeri ini tajam ke bawah, dan tumpul ke atas. Masih hangat diingatan kita, beberapa kasus Artalita Suryani, terpidana kasus suap jaksa Urip Tri Gunawan yang ter-ekspose media diberikan fasilitas ruang tahanan layaknya hotel berbintang lima. Kemudian, Gayus Tambunan yang bisa keluar dari tahanan dan menikmati udara kebebasan tatkala statusnya sudah menjadi terdakwa. Dua kasus ini mengindikasikan sebuah penyelewengan dalam praktek hukum di negeri ini. Barangkali ini juga hanya sebuah fenomena gunung es, yang mana sesungguhnya ada banyak pelanggaran-pelanggaran lainnya.

Sementara itu, hukum begitu tegas dan berani tatkala berhadapan dengan rakyat yang mencuri demi sesuap nasi. Padahal, kemiskinanlah yang mendorong mereka untuk melakukan tindak kriminal. Dan itu tidak justru memberikan cerminan masih banyaknya rakyat yang belum merdeka dari kemiskinan. Kemiskinan yang sistematis, yang tidak karena kemalasannya melainkan karena akses akan kesejahteraan yang dikuasai oleh segelintir orang. Bayangkan saja, data yang dilansir Perkumpulan Prakarsa mengungkapkan, kekayaan 40 orang terkaya Indonesia sebesar Rp680 Triliun (71,3 miliar USD) atau setara dengan 10,33% PDB. Nilai kekayaan dari 40 ribu orang itu setara dengan kekayaan 60% penduduk atau 140 juta orang. Data lain menyebutkan, 50 persen kekayaan ekonomi Indonesia hanya dikuasai oleh 50 orang (berdikarionline.com, 24/12/12).

Apa yang digambarkan sebelumnya telah memaparkan ketidakadilan negeri ini dalam wajah hukum dan distribusi kesejahteraan. Sungguh ironis tatkala mengingat kembali bagimana negeri ini diperjuangkan agar mampu lepas dari penindasan para penjajah. Murninya sebuah perjuangan tanpa embel-embel kepentingan pribadi telah dinodai oleh individualistisnya generasi masa kini. Semangat seorang patriot tampak semakin meluntur. Bila dahulu, mereka yang berbeda cara pandang, SARA, dan ideologi mampu bersatu, bergotongroyong memperjuangkan kemerdekaan, kini perbedaanpun telah dijadikan alasan untuk saling menjegal. Padahal sesungguhnya kepentingan dan intensi pribadinyalah yang mendorongnya mengumbar perpecahan. Inilah wajah kita kini. Dan hanya kemauanlah yang dapat mengusap noda dan mengembalikan negeri ini dijalurnya untuk merengkuh cita-cita kemerdekaan yang sesungguhnya.

Revolusi belum selesai. Ungkapan ini harus tetap hidup di sanubari kita, sehingga kita selalu ingat bahwa kenyamanan yang kita rasakan bukan untuk dinikmati sendiri oleh generasi masa kini. Kemerdekaan sebagai proses mengisyaratkan susul-menyusul perjuangan. Meneladani para pejuang dan siap memberikan peran untuk membangun negara adil, makmur, dan sejahtera bagi generasi berikutnya. Membangun sebuah prinsip, idealisme, jiwa patriot, serta nasionalisme. Kedengarannya klise, namun awal dari sebuah perjuangan adalah kemurnian dari prinsip dan kecintaan bagi bangsa. Pekikkan merdeka, selamatkan negara. Dirgahayu Indonesia!

Junius Fernando S Saragih

Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad

Aktivis GmnI Sumedang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on Agustus 16, 2013 by in kelompok menulis.

gmni sumedang

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 50.052 pengikut lainnya

Visitors

free counters